Mutiara

Sebelum Darul Islam

A.Suryana Sudrajat
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Sejarah acapkali merupakan rangkaian konsekuensi dan banyak dimuati faktor pribadi. Tentang sosok Kartosuwirjo, pemimpin Sarekat Islam yang dipecat, dan kelak menjadi tokoh utama gerakan Darul Islam.

September 1927, setelah beberapa bulan menjadi guru partikelir di Bojonegoro, ia kembali ke Surabaya. Diterimanya tawaran menjadi sekretaris pribadi H.O.S. Tjokroaminoto – yang baru pulang dari Tanah Suci bersama H. Agus Salim. Uluran tangan pemimpin Partai Sarekat Islam (PSI) ini boleh dikatakan menjadi pelipur lara bagi pemuda Kortosuwirjo. Pada awal tahun tersebut dia dipecat dari dua lembaga sekaligus. Pertama dari Sekolah Kedokteran NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School), padahal baru setahun ia mengikuti kuliah – setelah tiga tahun menempuh tingkat persiapan (Voorbreidende School) – di situ. Kedua dari Jong Islamieten Bond, tempat ia pernah jadi ketua cabang Surabaya.

Alasannya: politik. Pertama, menurut Kartosuwirjo, dia memiliki buku-buku komunis dan sosialis – dan pada akhir 1926 dan awal 1927 itu terjadi pemberontakan komunis – yang dia peroleh dari pamannya , Marco Kartodikromo, yang menjadi wartawan, sastrawan, dan tokoh partai komunis, selain dari Semaun yang tokoh Sarekat Islam merah yang kemudian menjadi pemimpin komunis itu. Kedua, menurut Mohamad Roem, yang pernah menjadi anggota JIB, Karto dipecat dari organisasi yang dipimpin Samsuridjal itu sehubungan dengan artikel yang ditulisnya (Dengel, Darul Islam dan Kartosuwirjo, 1986).

Tak lama, Tjokroaminoto pindah ke Cimahi. Karto ikut. Di sinilah pertama kali ia bertemu Soekarno, ketua PNI (Perserikatan Nasional Indonesia) yang tinggal di Bandung, dan sering terlibat diskusi. Pertemuan berikutnya terjadi dalam konferensi PPPKI (Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan indonesia), ajang debat sengit kelompok nasionalis Islam dan nasionalis sekular. Lalu, pada1942, mereka pun kembali bertemu di kantor pusat Djawa Hokokai.

Kongres PSI pada Desember 1927 Pekalongan memilihnya menjadi sekretaris umum, di samping mengharuskan pimpinan partai menetap di Batavia. Waktu itu umur Karto baru 20 tahun. Di Jakarta ia bekerja di koran partai Fadjar Asia, sebagai korektor, lalu reporter, redaktur, kemudian menjadi wakil pemred. Masa itulah ia banyak bepergian. Dan, di Malangbong, Garut, pada April 1929 ia menemukan jodohnya, Dewi Siti Kalsum, putri Ajengan Ardi Wisastera, tokoh Sarekat Islam setmpat.

Karto terkenal dengan artikel-artikelnya yang menyerang pemerintah kolonial. (Bandingkan, misalnya, dengan dr. Soetomo yang tidak pernah memperlihatkan permusuhan dengan pemerintah kolonial dan cenderung menerima struktur masyarakat Jawa apa adanya). Ia memberi perhatian kepada nasib petani kecil yang tanahnya disewa perusahaan Barat atau kapitalis pribumi, memprotes kenaikan pajak sawah hingga 90% atau marah kepada “sekelompok kapitalis asing” yang mengusir para petani Lampung dari tanah mereka. “Orang-orang Lampung dipandang dan diperlakukan sebagai monyet belaka, ialah monyet yang diusir dari sebatang pohon ke sebatang pohon lainnya.” Dia juga mencela hubungan orang Belanda perkebunan dengan perempuan-peremuan pribumi. Juga mengeritik cepatnya orang dituduh komunis.

Tjokroaminoto wafat pada 1934 – sementara risalahnya tentang gambaran ideal umat Islam belum rampung. Kerja ini diteruskan Kartosuwirjo, yang waktu itu sekretaris umum PSII, bersama Harsono Tjokroaminoto. Harsono menyalin teks berbahasa Arab ayahnya, sementara Kartosuwirjo yang – tidak menguasai bahasa Arab—mengetiknya.

Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo, lahir pada 7 Januari 1907 di Cepu, Jawa Tengah, mendapat pengetahuan agama hanya dari Notodihardjo, gurunya di ELS (Europeesche Legere School), Bojonegoro. Ayahnya, mantri candu di Pamotan, Rembang. Setelah menempuh ujian akhir kelas IV Sekolah Rakyat, dia melanjutkan ke HIS (Hollandsche-Inlandsche School), Rembang. Ketika orangtuanya pindah ke Bojonegoro dia dimasukkan ke ELS.

Sepeninggal Tjokro, tumbuh petentangan-pertentangan di PSII. Orang-orang Dewan Eksekutif (Lajnah Tanfidziyah) di bawah Abikusno Tjokrosujoso ingin mempertahankan politik nonkooperatif  terhadap pemerintah kolonial, sedangkan Dewan Partai (H. Agus Salim dkk.) cenderung pada sikap kerja sama. Salim khawatir haluan politik Abikusno akan mempercepat keruntuhan partai – dan mengusulkan referandum. Usul ditolak. Malah Abikusno menuduh Salim hanya mencari kursi di Volksraad. Kartosuwirjo berada di pihak nonkooperatif. Akhirnya Salim dikeluarkan pada 1937.

Lalu perpecahan menimpa kalangan nonkooperatif – ketika Kartosuwirjo menolak gagasan Abikusno untuk bergabung dalam GAPI (Gabungan Politik Indonesia). Karto, wakil presiden PSII, tetap berpegang pada politik hijrah yang menjadi sikap resmi partai, yang dituangkannya  dalm brosur Sikap Hijrah PSII. Baginya, tuntutan GAPI –pembentukan parlemen Indonesia, pengganti Volksraad pemerintah kolonial – merupakan sikap “kooperasi juga tetapi dalam bentuk lain.” Sebaliknya, dia mendirikan Komite Pembela Kebenaran (KPK) PSII, antara lain bersama Kamran, yang kelak menjadi tokoh penting DI.

Akhirnya Kongres Januari 1940 memecat Kartosuwirjo. Namun dia tidak peduli – dan meneruskan PSII tandingannya yang berpusat di Malangbong, daerah mertuanya. Partainya, kata Kartosuwirjo (dalam interogasi setelah dia ditangkap, 1962),   tetap eksis sampai ketika semua partai dibubarkan Jepang pada 1942. Pada masa itu, juga menjelang kemerdekaan, tokoh bertemperamen tinggi ini tak lagi tampak mengambil peranan penting. Hubungan dengan ormas Islam juga makin renggang: dia bersikap sinis terhadap MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) dan kemudian Masyumi, dengan menyebutnya “lembaga dan medan pertempuran yang dibuat Jepang, dengan perantaraan agen-agennya, kiai-kiai a la Tokyo.”

Inilah tokoh yang, akhirnya, dengan Darul Islam-nya, mengobarkan perang saudara yang getir di dalam negara yang ikut diperjuangkannya. Kata orang, sejarah acap kali merupakan ragkaian konsekuensi-konsekuensi, bergerak dari kemestian-kemestian sebelumnya, dan dimuati banyak faktor pribadi.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda