Tafsir

PKI dan Superioritas Allah (4)

DN Aidit saat berbicara di podium PKI saat pemilu 1995
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Sebuah ayat, kecuali terdapat beberapa petunjuk (qarinah) tertentu, haruslah dibebaskan dari “asal mula kejadian”, yang menyebabkannya seolah berlaku hanya untuk “sekali pakai”. Karena itu menjadi absah jerih payah memahami firman dalam konteks-konteks baru – dan konteks yang diluaskan.

Wahai orang-orang beriman, ingatlah anugerah Allah atas kalian ketika suatu kaum bermaksud menjulurkan tangan mereka kepada kalian kemudian Allah menahan dari kalian tangan mereka. Bertakwalah kepada Allah, dan kepada Allah hendaklah orang beriman mempercayakan diri. (Q. 5:11).

Alquran Berdenyut

Ayat ini (yang ditafsir penulisnya dalam konteks keruntuhan PKI dan Orde Baru dalam tiga tulisan terdahulu, red), seperti dikatakan mufasir Syi’ah konteporer Husain Thabathaba’i, hakikatnya bicara tentang kejadian apa pun antara kaum kafir dan kaum muslimin: Perang-perang Badar, Uhud, Ahzab, misalnya. Yang dimaksudkan dengan kehendak “menjulurkan tangan mereka kepada kalian”, dengan demikian, adalah keinginan mereka menumpas kaum mukmin dan menghapus bekas-bekas Islam dan agama tauhid. Karena itu, perkiraan para mufasir mengenai ayat ini sebagai menuturkan usaha sebagian musyrik maupun Yahudi untuk membunuh Nabi s.a.w. “jauh dari pengertian lafal yang begitu jelas” (Thabathaba’i, Al-Mizan, V:256). Termasuk ke dalam golongan ulama tafsir klasik yang disebut itu adalah mufasir Syi’ah Ath-Thusi (Ath-Thibyan, III:463-464).

Pendapat itu dinyatakan pula – lebih dulu – oleh Muhammad Ali dari Ahmadiyah Lahore dalam The Holy Koran. Tanpa menyertainya dengan kritik, Ali juga menyebut contoh penunjukan mufasir klasik (Razi) kepada usaha pembunuhan Nabi oleh Yahudi Bani Nadhir sebagai berhubungan dengan ayat di atas (Djajasugita dan Mufti Sharif, Quran Suci Jarwa Jawi dalah Tafsiripun, I:352; lihat juga Ar-Razi, At-Tafsirul Kabir, XI:186-187). Dan seperti Muhammad Ali adalah Yousuf Ali (The Glorius Kur’an, 244)/

Satu kaidah dari teori hukum Islam (ushul fiqh) dapat dipinjam di sini. Yakni, “Pemahaman didapat dari kandungan umum teks, bukan dari sebab khususnya’ (Al-‘ibratu bi umumil lafzh la bukhushushis sabab). Pencatatan berbagai kejadian yang menimpa Nabi dan umat muslimin pertama, yang oleh para mufasir dimasukkan ke dalam kategorisasi asbabun nuzul (sebab-sebab turun ayat), tentu berfaedah. Tapi sebenarnya mereka juga paham (hanya saja terlalu terpaku pada riwayat) bahwa sebuah ayat, kecuali terdapat beberapa petunjuk (qarinah) tertentu, haruslah dibebaskan dari “asal mula kejadian”, yang menyebabkannya seolah berlaku hanya untuk “sekali pakai”. Karena itu menjadi absah jerih payah memahami firman dalam konteks-konteks baru – dan konteks yang diluaskan. Alquran berdenyut bersama hidup. wallahul Muafiq.           

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang antara lain memerankan tokoh D.N. Aidit dalam film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer  ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 7 Oktober 1998.

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda