Hamka

Konsep dan Perwujudan Pendidikan Islam Ala Hamka

Written by Panji Masyarakat

Hamka, selain ulama dan pujangga sebagaimana dikenal umum, adalah sosok pemikir. Di antara buah pemikirannya adalah gagasan tentang pendidikan.

Menurut Hamka manusia mencari ilmu pengetahuan bukan hanya untuk mencari penghidupan yang layak. Lebih dari itu, dengan ilmu manusia akan mampu mengenal Tuhannya, memperhalus akhlaknya, dan senantiasa mencari ridha (perkenan) Allah. Ia membedakan antara pendidikan dan pengajaran. Menurutnya pendidikan merupakan serangkaian upaya yang dilakukan pendidik untuk membantu membentuk watak, budi, akhlak, dan kepribadian peserta didik sehingga ia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sedangkan pengajaran adalah upaya untuk mengisi intelektual peserta didik dengan sejumlah ilmu pengetahuan.

Dalam mendefinisikan pendidikan dan pengajaran, ia hanya membedakan makan pengajaran dan pendidikan pada pengertian kata, akan tetapi secara esensial tidak membedakannya. Setiap proses pendidikan di dalamnya terdapat pengajaran, keduanya saling melengkapi dalam rangka mencapai tujuan yang sama. Adapun tujuan pendidikan menurut Hamka, memiliki dua dimensi yaitu bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Untuk mencapai tujuan tersebut, manusia harus menjalankan dengan baik yaitu beribadah. Oleh karena itu, segala proses pendidikan pada akhirnya bertujuan agar dapat dan menjadikan anak didik sebagai abdi Allah. Dengan demikian tujuan pendidikan Islam sama dengan diciptakannya manusia yaitu beribadah kepada Allah.

Tujuan pendidikan yang dikemukakan Buya Hamka diatas dipengaruhi oleh pandangan Al-Ghazali. Menurut pengarang Ihya Ulumidin ini pendidikan harus mengarah kepada realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dengan titik penekanannya pada peroleh keutamaan dan taqarub kepada Allah dan bukan mencari kedudukan yang tinggi atau mendapatkan kemegahan dunia. Bagi Al-Ghazali, orang yang berakal sehat adalah orang dapat menggunakan dunia untuk tujuan akhirat. Ini menunjukan bahwa tujuan pendidikan menurut al Ghazali tidak sama sekali menistakan dunia, melainkan dunia itu hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan.

Komponen lainnya adalah materi pelajaran (subject content). Untuk merealisasikan tujuan pendidikan, maka perlu adanya materi yang diberikan kepada anak didik, materi-materi keimanan Islam harus benar-benar tertanam pada diri anak didik sedini mungkin, sehingga potensi keagamaan dapat tumbuh dan berkembang secara baik dan dapat menghasilkan suatu pandangan sikap hidup yang bertendensi pada nilai-nilai religi, sebaliknya, bila potensi keagamaan ini dibiarkan begitu saja, tidak dipupuk, maka tidak mustahil akan timbul sikap ateis. Hal ini sesuai dengan konsep Islam, bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang (Q.S. Alfath: 4 ).

Buya Hamka mewujudkan pemikirannya tentang pendidikan Islam dengan membangun lembaga pendidikan Al-Azhar, sejak tingkat TK dan sekarang telah berkembang hingga ke perguruan tinggi. Inilah pendidikan Islam yang dapat menyaingi pendidikan umum dan Kristen yang sudah lebih dahulu ada. Bagi Hamka pendidikan adalah sarana untuk mendidik watak pribadi kelahiran manusia di dunia ini, tidak hanya mengenal baik dan buruk, tapi juga beribadah kepada Allah, juga berguna bagi sesama dan alam lingkungannya. Dalam pandangan Hamka, pendidikan sekolah tidak bisa dilepas dari pendidikan di rumah. Karena menurutnya mesti ada komunikasi antara sekolah dengan rumah, antara orangtua murid dan guru. Secara konvensional, antara orang tua murid dengan guru saling bersilaturahim sekaligus mendiskusikan tentang perkembangan anak, dan mesjid sarana untuk pertemuan tersebut. Dengan adanya sholat berjamaah di mesjid, antara guru, orang tua dan murid bisa saling berkomunukasi secara langsung.

Menurut Hamka, tugas dan tanggung jawab seorang pendidik adalah memantau, mempersiapkan dan menghantarkan peserta didik untuk memiliki pengetahuan yang luas, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Untuk melaksanakan hal ini, ada tiga institusi yang bertugas dan bertanggung jawab yaitu: Pertama, lembaga pendidikan informal (keluarga). Lembaga pendidikan informal merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama, sebagai jembatan dan penunjang tinggi bagi pelaksanaan pendidikan selanjutnya. (formal dan informal). Lingkungan keluarga adalah lingkungan pertama menyentuh anak sehingga besar perannya terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak dalam rangka membentuk pribadi yang matang baik lahir maupun batin. Didalam keluarga baik disadari atau tidak, anak telah dilibatkan dalam suatu proses pendidikan, yaitu pendidikan keluarga. Pendidikan seperti ini lebih bersifat kodrat dan alami. Artinya pendidikan keluarga lebih didasarkan pada sentuhan cinta dan kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya. Anak dari kecil hendaknya sudah dikenalkan kepada Tuhan agar tercipta sikap cinta kepada Tuhan. Menurut Hamka tanggung pendidikan dalam keluarga diemban oleh orang tua. Tingkah laku orang tua di dalam keluarga merupakan bentuk pendidikan pada anaknya, baik disengaja maupun tidak disengaja. Orang tua adalah teladan bagi anak-anaknya.

Kedua, lembaga pendidikan formal (sekolah). Sekolah merupakan institusi khusus yang menjalankan pendidikan setelah pendidikan keluarga melalui sekolah anak mengenal dunia secara luas. Kalau dalam lingkungan keluarga anak mengenal ayah, ibu, adik, kakak dan familinya, sedangkan di sekolah mengenal sosok guru, bermain bersama teman-teman dari berbagai kelompok masyarakat. Di sini suasana pendidikan tetap diciptakan dengan sengaja, dengan demikian, pendidikan lebih bersifat khusus dan terencana.

Ketiga lembaga pendidikan non formal (masyarakat). Manusia tidak akan bisa lepas dari lingkungannya. Ia senantiasa membutuhkan pertolongan orang lain. Atas dasar saling ketergantungan dan saling membutuhkan tersebut, maka menimbulkan kecenderungan berkelompok dan bersatu. Masyarakat langsung maupun tidak langsung, ikut serta memegang tanggung jawab pendidikan bagi anggota masyarakatnya.
Menurut Hamka untuk mendapat peserta yang memiliki kepribadian paripurna, maka eksistensi pendidikan agama merupakan sebuah kemestian untuk diajarkan, meskipun pada sekolah-sekolah umum. Namun demikian, dalam dataran operasional prosesnya tidak hanya dilakukan sebatas transfer of knowledge, akan tetapi jauh lebih penting adalah bagaimana ilmu mereka peroleh mampu membuahkan sikap yang baik (akhlak al karimah ) sesuai dengan pesan nilai ilmu yang dimilikinya.

Penulis: Dr. Heni Ani Anggraeni, M.A., dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (Uhamka), Jakarta

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda