Tafsir

PKI dan Superioritas Allah (2)

Written by Panji Masyarakat

Tidak ada yang menyangka “iklim” bisa berubah hampir seketika. Bila para ulama, setidaknya yang “resmi”, selalu ramai-ramai mendukung Soeharto, itu karena kepercayaan, atau harapan, pada “cap Islam” presiden itu.

Runtuhnya Orde Soeharto

Di tanah air kita sendiri tak ada yang percaya, agaknya, Orde Baru yang bangga diri itu bisa runtuh secara cukup dramatis. Yang dipertanyakan orang, sebelum datangnya gelombang reformasi, justru lain sama sekali: kuatkah Presiden Soeharto menyelesaikan masa jabatannya, berdasarkan kesehatannya. Ada perkiraan (paling tidak, ya, dari penulis ini), kalau Presiden – yang memenuhi permintaan MPR untuk kembali memimpin negara – merasa mampu menyelesaikan terminnya, ia akan memilih B.J. Habibie, tokoh yang “tidak akan merecoki”, sebagai wakil. Sebaliknya kalau merasa mungkin akan terpaksa berhenti di tengah, ia akan menganggap masa kepresidenan terakhirnya itu justru sebuah jalan suksesi: ia, dengan segala sangka baik kita, akan menyerahkannya kepada sang wakil di tengah jalan nanti, dan untuk itu ia akan memilih wapres yang lebih mampu sebagai calon presiden.

Itu tentunya bisa menjadi satu bentuk pemenuhuan keinginan tokoh seperti Amien Rais (orang pertama yang bicara soal suksesi): pengantian mestinya dilakukan, untuk jaga-jaga, selagi masih ada sesepuh. (Dan bukankah memang pikiran pertama itu yang kira-kira terlintas di benak Pak Harto, seperti tercermin dari kata-katanya mengenai Habinie – kepada tokoh-tokoh yang diundangnya di saat-saat paling kritis menjelang ia mundur – kira-kira, “Apakah Saudara-saudara akan mempercayakan jabatan presiden kepada orang yang tidak berpengalaman dan tidak populer ini?” Target waktu Soeharto, kalau memang demikian, ternyata meleset).

Memang terdapat dukun, di sana-sini, yang selalu saja meramalkan akhir masa Soeharto. Tapi tidak ada dari mereka yang terdengar berpikir bahwa Orde Baru yang mentereng itu bisa terjerembab begitu. Di atas segala-galanya, yang dikhawatirkan orang malahan kalau-kalau tentara, yang waktu itu dipercayai begitu solid, terpecah-pecah sepeninggal Soeharto dan memenuhi bayangan tentang sebuah perang saudara.

Tidak. Tidak ada yang menyangka “iklim” bisa berubah hampir seketika. Bila para ulama, setidaknya yang “resmi”, selalu ramai-ramai mendukung Soeharto, itu karena kepercayaan, atau harapan, pada “cap Islam” presiden itu – daripada pemerintahan jatuh ke tokoh yang “tidak dari kita”. Dari satu segi itu bisa dianggap semacam ketidakpercayaan (kecuali kalau memang mereka tak sadar, dan siapa tahu begitu) bahwa situasi yang demikian korup dan penuh kezaliman bisa berbalik sepeninggal tokoh Orde Baru itu. Yang berkuasa toh akan tetap “mereka-mereka juga”, dengan filosofi, pandangan dunia – dan”pandangan harta” – yang kurang lebih sama.

Bahkan mereka yang “terlalu” idealis – kelompok Petisi 50, anak-anak PRD (Partai Rakyat Demokratik), dan kawan-kawannya, atau beberapa tokoh seperti Sri-Bintang Pamungkas – bisa dipastikan tak yakin perubahan akan datang begitu cepat. Mereka menabur benih, dengan harapan di masa depan tumbuh satu kekuatan yang akan menjadi berlipat – meski mereka lebih “tidak sabaran” dibanding beberapa media dan penulis yang dengan segala jungkir balik berusaha mempertahankan fungsi kritik dan menanamkan kesadaran radikal di sekitar demokrasi, hak asasi, dan keadilan sosial, untuk sebuah masa depan yang barangkali tak pendek. Sehingga tibalah saat Tangan Tuhan bertindak.

Memang, itu didahului krisis yang beruntun-runtun – di samping di pihak lain kezaliman yang bertimbun – sampai kemudian mengena persis di perut seluruh rakyat dan beberapa hari kemudian membuat populer sebuah akronim; sembako. Tapi dalam penghayatan hidup orang agama, justru itulah skenario Allah. Jauh dari yang dipikirkan para ulama atau siapa juga, nilai-nilai tiba berbalik demikian rupa. Dan dunia terbuka. Memang, segalanya masih harus dipertahankan dan bahkan diluasratakan sekarang ini. Orang tak ingin mundur lagi ke belakang, meski tercium juga usaha-usaha ke arah itu. Di bawah langit yang demikian terbentang, dunia di luar sungguh sudah berubah, wahai Teman. Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang antara lain memerankan tokoh D.N. Aidit dalam film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer  ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)  Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 7 Oktober 1998.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda