Bintang Zaman

Bung Karno (3): Pembaru Islam Abad XX

Written by Panji Masyarakat

Bung Karno tidak ingin menjadikan Islam sekadar alat bagi cita-cita politiknya. Dia membuktikan sebagai orang yang terlibat dalam keislaman itu sendiri. Bagi dia, Islam harus tampil sebagai sebuah ajaran pemikiran yang modern dan revolusioner, bukan pemikiran yang kumuh.

Bung Karno membubarkan Masyumi, melalui Keputusan Presiden No.200/1960 tanggal 17 Agustus 1960. Alasan, para pemimpin terlibat dalam atau memberikan bantuan kepada pemberontakan PRRI/Permesta, sedangkan partai itu tidak mau dengan resmi menyalahkan perbuatan para anggotanya.

Menurut Mohamad Roem, dalam suratnya kepada Nurcholish Madjid pada 7 Juni 1983 (Tidak Ada Negara Islam:Surat-Surat Politik Nurcholish Madjid-Mohamad Roem, 1997), Masyumi tidak mengutuk para pemimpinnya yang terlibat pemberontakan karena mereka tidak berbuat salah kepada partai. Andaikata Masyumi mau mengambil tindakan, kata Roem, harus diselidiki dulu apa yang salah. “Jadi karena kita tidak mau, maka Sukarno membubarkan Masyumi. PSI yang mau menyalahkan Prof. Sumitro Djojohadikusumo dan mengeluarkan dia dari PSI, akan tetapi keputusan itu dirahasiakan. Tak urung PSI dibubarkan juga, sedang hubungan Sumitro dengan kawan-kawan PSI, sudah pecah sampai sekarang. Andaikata Masyumi mengutuk Natsir, Burhan (Burhanuddin Harahap), Sjafruddin dan lain-lain, maka tentu antara kita akan ada perpecahan. Akan tetapi kita memilih jalan yang hak, meskipun Masyumi dibubarkan dan pemimpin-pemimpinnya masuk penjara 4 tahun 4 bulan.

Sementara itu, Nurcholish Madjid menilai tindakan Prawoto dan kawan-kawan yang tidak menuruti permintaan Bung Karno memecat dan mengutuk Natsir dkk. sebagai contoh hidup yang etis. “Seandainya pimpinan Masyumi dulu memecat dan mengutuk rekan-rekannya yang terlibat dalam PRRI itu, dapat dipastikan tamatlah riwayat Masyumi, baik pada dataran politik praktis maupun etis filosofis, dan musnahlah sisa-sisa terakhir perjuangan menegakkan kultur politik yang sehat itu dalam skalanya yang besar dan fundamental,” ungkap Nurcholish, yang banyak disebut namanya di media massa sehubungan dengan pengunduran diri Presiden Soeharto dan reformasi terutama di bidang politik.

Namun, mengapa Bung Karno ingin dikenang sebagai orang Muhammadiyah? Apakah dia ingin mengesankan dirinya sebagai eksponen atau, setidak-tidaknya, bagian dari para pembaru?
Di kalangan kaum muslimin, tidak sedikit yang ingin menempatkan Bung Karno sebagai reformer. Bahkan, Ahmad Mansur Suryanegara menyebutnya sebagai reformer muslim yang tersaput kabut karena era setelahnya tidak menghendaki Bung Karo terlalu dikenal. “Dia membaca banyak buku keislaman, menguasainya, dan menjadikannya referensi dalam berbagai pemikiran. Dalam pidato dan tulisannya dia sering menunjukkan kekagumannya kepada reformer lain seperti Jamaludin Al-Afghani,” tutur guru besar sejarah Islam IAIN Bandung itu.

Kepada Muzakkir Hussain, wartawan Panji, Mansur menunjukkan kereformeran Bung Karno dalam pemikiran Islam dengan gelar doktor honoris causa yang diterimanya dari perguruan tinggi Islam. Misalnya di bidang tauhid dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, serta dalam bidang dakwah dari IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, dan IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. “Agama unsur mutlak nation building” merupakan salah satu ungkapan Bung Karno yang terkenal pada 1960-an.
Menurut Mansur, Bung Karno tidak ingin menjadikan Islam sekadar alat bagi cita-cita politiknya. “Dia membuktikan sebagai orang yang terlibat dalam keislaman itu sendiri. Bagi dia, Islam harus tampil sebagai sebuah ajaran pemikiran yang modern dan revolusioner, bukan pemikiran yang kumuh.” Untuk itu, kata Mansur, Bung Karno misalnya menempatkan patung Diponegoro di barisan terdepan para pahlawan nasional. “Bagi dia, pengawal terdepan dalam gerakan nasional Islam adalah ulama. Ini merupakan sikap politik yang berani, dan jelas berdasarkan pemikiran keislaman,” ungkap Mansur yang juga mubalig kampus itu.

Kekaguman kepada Bung Besar datang pula dari almarhum Wajiz Anwar, dosen filsafat IAIN Sunan Kalijaga. Ia alumnus Pondok Modern Gontor yang melanjutkan pelajarannya ke Mesir dan akhirnya “minggat” ke Jerman karena tidak puas belajar di negeri yang melahirkan Muhammad Abduh, dedengkot kaum reformis itu. Di Jerman Wajiz memperdalam filsafat. Menurut Djohan Effendi (Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib), bagi dia, Bung Karno adalah mujadid (pembaru) Islam terbesar abad ke-20. Apa yang dilakukan Bung Karno bagi Wajiz tidak kalah dari yang dilakukan para pemikir muslim terdahulu. Kalau pemikir-pemikir itu berhasil mengawinkan filsafat Yunani dengan ajaran Islam, Bung Karno berhasil mengawinkan Marxisme dengan Islam.

Bersambung
Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 17 Juni 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda