Tafsir

PKI dan Superioritas Allah (1)

Written by Panji Masyarakat

Siapa yang percaya,  kekuatan politik yang terkesan begitu raksasa  seperti PKI bisa ambruk dalam sekejap? Dan bersama dengan itu Orde Soekarno? Ramalan kebanyakan orang justru tentang keberhasilan komunis yang “tak lama lagi” akan mengubah wajah Indonesia. Nyatanya?

Wahai orang-orang beriman, ingatlah anugerah Allah atas kalian ketika suatu kaum bermaksud menjulurkan tangan mereka kepada kalian kemudian Allah menahan dari kalian tangan mereka. Bertakwalah kepada Allah, dan kepada Allah hendaklah orang beriman mempercayakan diri. (Q. 5:11).

Peristiwa yang disebut pengkhianatan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G-30-S/PKI), 1965, hanyalah salah satu makar – yang gagal – yang bisa dimasukkan ke dalam pengertian umum ayat ini.  Dalam kesadaran orang agama, peristiwa itu juga hanya salah satu tanda “Superioritas Tuhan” – ketika suatu kejadian pecah di luar ramalan umumnya mereka yang bisa memproyeksikan masa depan. Dengan kata lain, dilihat dari sifatnya sebagai bencana, G-30-S/PKI berada dalam ketentuan Allah yang, seperti banyak yang lain, tidak bisa ditolak – justru karena  pada umumnya tidak terdeteksi.

Memang, terdapat beberapa spekulasi di sekitar makar tersebut. Misalnya, bahwa Pangkostrad Mayjen Soeharto sebenarya tahu rencana itu, hanya saja sengaja mendiamkannya agar bisa bertindak – dan maju ke tengah. Versi lain bahkan menyebut keterlibatan intelijen Amerika Serikat, yang sengaja mematangkan situasi (khususnya di sekitar isu “Dewan Jenderal”) untuk mendorong PK berontak dan dengan demikian dapat ditumpas – baik teori itu disambungkan atau tidak dengan peran Soeharto.

Tidak hanya Mantan Dubes Marshal Green yang, seperti dalam bukunya, Dari Soekarno ke Soeharto (Pustaka Grafiti), menolak keterlibatan Amerika tersebut – meski mitos CIA memang gampang  sekali dipercaya, atau “dipakai”. (Bahkan para mahasiswa yang menduduki gedung DPR/MPR dalam gelombang reformasi Mei 1998 dituduh dibiayai CIA. Juga jaket kuning mahasiswa UI dalam demonstrasi besar 1966 dikatakan dibikinkan pihak Amerika). “Padahal CIA tidak sehebat itu,” kata seorang kawan, lebih sepuluh tahun lalu. Buktinya? “Mereka dulu tidak percaya kiai-kiai bisa menjatuhkan Syah Iran.”

Siapa meramalkan komunisme internasional ambruk “hanya” akibat ulah seorang pemimpin botak bergambar Benua Amerika di kepalanya dan bernama Mikhail Gorbachev?

Dan siapa yang percaya, dulu, kekuatan politik yang yang terkesan begitu raksasa, seperti PKI itu, bisa ambruk dalam sekejap? Dan bersama dengan itu Orde Soekarno? Ramalan kebanyakan orang justru tentang keberhasilan komunis yang “tak lama lagi” agaknya bisa mengubah negara ini dan dan menimpakan bencana luar biasa kepada semua “musuh rakyat dan revolusi”. Mungkin memang dengan kudeta, mungkin pula dengan jalan “konstitusional”, misalnya melalui Bung Karno, tapi tak mungkin lewat sebuah kup yang demikian bodoh. Nyatanya? Tuhan bertindak lebih dari hanya, meminjam ungkapan ayat, “menahan tangan mereka”.

Bahkan komunisme internasional sendiri – siapa meramalkan bisa bangkrut secara tiba-tiba dan drastis,  dan bersama itu pula eksistensi Uni Soviet (diiringi Yugoslavia dan Cekoslovakia), “hanya” akibat ulah seorang pemimpin botak bergambar Benua Amerika di kepalanya dan bernama Mikhail Gorbachev, dan dibelakangya tokoh seperti Yeltsin?  Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang antara lain memerankan tokoh D.N. Aidit dalam film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer  ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)  Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 7 Oktober 1998.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda