Bintang Zaman

Seri Sahabat Nabi: Utsman ibn Affan dan Cintanya yang Mendalam Kepada Alquran (4)

Written by Imam Addaruqutni

Pada periode kedua pemerintahannya, Khalifah Utsman r.a lebih banyak menenggelamkan diri ke dalam urusan penulisan dan standardisasi Alquran, yang sangat dicintainya itu. Mengapa dia mengangkat kerabatnya untuk menjadi gubernur? Bagaimana pula ulah Abdullah ibn Saba, Yahudi yang baru masuk Islam?

Gara-gara Satu Orang?

Di bidang politik dan pemerintahan, mula-mula Utsman mempertahankan para gubernur tunjukan Umar. Tapi setahun kemudian, ia mulai berubah arah dan mengganti mereka dengan para kerabatnya dari Bani Umayah. Konon, ini semua karena pengaruh Marwan ibn Hakam, sekretaris pribadi yang mengepalai Ad-Dawawin (dewan-dewan). Masih terhitung sepupu, Marwan kian lama kian menancapkan pengaruhnya terhadap kebijaksanaan pemerintahan sehingga pada akhirnya dia praktis menjadi motor penggerak dan pemegang kekuasaan.

Ternyata Utsman tidak dapat memenuhi janjinya untuk meneruskan jejak para pendahulunya,untuk seluruh masa baktinya. Pengangkatan kerabat untuk jabatan-jabatan penting itu sendiri menyalahi tradisi pendahulunya.

Sejarwan M.A. Shaban menyatakan, sebenarnya orang-orang tunjukan Utsman itu sosok-sosok yang cakap. Dijelaskan pula bahwa para gubernur saat itu memiliki otonomi yang hampir penuh untuk mengatur wilayah masing-masing. Utsman, yang pribadinya tidak sekuat Umar, ingin mengubah tradisi itu, menggantinya dengan sistem kekuasaan yang terpusat. Dan ia hanya sanggup melakukan itu jika para gubernur itu berasal dari kerabatnya sendiri sehingga ia tak merasa segan mengatur.

Keputusan yang juga menyimpang dari tradisi pendahulu, dan ternyata juga salah,  adalah pengangkatan Marwan ibn Hakam  sebagai penasihat  pribadinya. Rupanya ia, berbeda dengan dua pendahulunya, membutuhkan seorang kepercayaan dari kaum kerabatnya sendiri yang bisa diserahi tugas-tugas yang bersifat teknis, termasuk merumuskan keputusan. Mungkin ia sudah terlalu tua sehingga tidak sempat lagi mengurus  hal-hal yang bersifat detail. Mungkin juga karena, pada periode kedua, ia lebih banyak menenggelamkan diri ke dalam urusan penulisan dan standardisasi Alquran, yang sangat dicintainya itu. Ini, sekali lagi, memberi petunjuk tentang kelemahannya.

Utsman juga memotong garis kebijaksanaan pendahuluan di bidang keuangan. Di masa Umar, seperlima (khumus) dari hasil pampasan perang, plus pajak tanah (kharj) dan upeti  kaum kafir dzimmi (jizyah), masuk ke Baitul Mal kemudian disalurkan kepada para tentara sebagai gaji dan seluruh kaum muslimin sebagai santunan. Skema untuk itu dibikin, sehingga ada kejelasan dan transparansi. Utsman belakangan memutuskan untuk menghentikan kebijaksanaan ini. Sebaliknya, ia mempermaklumkan dirinya sebagai yang berwenang menyalurkan dana Baitul Mal tadi untuk kemaslahatan umum, apakah itu untuk dirinya atau keluarganya. Mungkin, sebagai orang kaya yang sangat dermawan, ia sudah biasa memberi uang kepada kaum fakir  dan kerabat. Atau mungkin pula karena gelitikan Marwan.

Ulah Yahudi

Alhasil, keresahan mulai mewabah di mana-mana. Mungkin, para pendatang baru itu memang cakap sebagai gubernur, tapi tindakan mereka yang sewenang-wenang dan tidak terpuji kepada penduduk setempat luput dari perhatian sang Khalifah, atau mungkin sengaja disembunyikan oleh kaum kerabat di sekelilingnya. Ini di perparah dengan hasutan orang-orang yang secara politik memang berseberangan dengan Utsman. Seorang Yahudi bernama Abdullah ibn Saba yang baru masuk Islam, namun sebenarnya memendam niat busuk terhadap agama ini, tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk memecah belah umat dengan fitnah-fitnahnya. Dialah yang pertama kali menebarkan ’’mazhab wishayah’’: bahwa Nabi  telah mewasiatkan tampuk kepemimpinan kepada keluarganya,yaitu Ali, seperti halnya  nabi-nabi, tapi dirampas oleh Utsman. Lebih dari itu, disebarkan pula paham bahwa “Hak Ilahi”  yang berasal dari Persia: bahwa Ali-lah  yang berhak jadi khalifah karena itu sudah jadi ketentuan Tuhan. Ali sendiri tak suka dengan pengkultusan ini.

Bersambung

About the author

Imam Addaruqutni

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah (1998-2002), kini dosen PTIQ Jakarta, dan Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia

Tinggalkan Komentar Anda