Cakrawala

Seri Akidah (2): Tak Kenal Tiada

Written by Hamid Ahmad

Dalam majelis perdebatan dengan Imam Abu Hanifah, sejumlah orang ateis bertanya, “Tahun berapa tuhanmu (mulai) ada?”

Imam Abu Hanifah menjawab, “Allah sudah maujud sebelum adanya tarikh (penanggalan) dan waktu. Tidak ada istilah pertama dalam wujud-Nya.”

Jawaban ini kemudian beliau sambung dengan bertanya balik, “Berapa sebelum empat?”

“Tiga,” jawab mereka.

“Berapa sebelum tiga?” beliau bertanya lagi.

“Dua.”

“Berapa sebelum dua?”

“Satu.”

“Berapa sebelum satu?”

“Tidak ada (bilangan) sebelum satu.”

Beliau menukas, “Kalau satu yang bersifat hitungan saja tidak ada apa-apa sebelumnya, bagaimana pula dengan Satu yang hakiki, yaitu Allah? Dia qadim, tidak ada awal bagi wujudnya.”

Qidam alias Lama

Sifat wajib Allah yang kedua ialah: qidam, yang secara harfiah berarti lama atau dahulu. Tetapi “lama” yang dimaksud di sini, sebagai sifat Allah, berbeda dengan “lama” sebagai sifat makhluk. Misalnya, “mobil lama”, “bangunan lama”, dan seterusnya.

“Lama” untuk makhluk itu tidak hakiki. Dia hanya sifat sementara dan baru menempel, setelah didahului sifat lain yaitu “baru”, bahkan sebelumnya didahului “ketiadaan”. Misalnya, sebuah mobil disebut “mobil lama” karena sudah berusia 50 tahun. Sifat “lama” ini baru disematkan pada itu mobil. Mengapa? Karena sebelumnya, sifat yang disematkan pada mobil dimaksud adalah “baru”, yaitu pada pada 50 tahun yang lalu. Bahkan sebelum 50 tahun silam, mobil itu tidak ada. Begitu pula bangunan disebut “gedung lama” karena, katakanlah, sudah berusia 300 tahun. Toh sifat lama itu baru disematkan padanya karena dulu, 300 tahun silam, bangunan itu disebut bangunan baru, setelah sebelumnya tidak ada.

Adapun “lamanya” Allah itu hakiki, tidak majaz dan selalu begitu. Sifat lanya tidak pernah berubah sejak kapan pun dan sampai kapan pun karena Allah tidak pernah “tiada” sehingga tidak pernah “baru”. Keberadaan Allah juga tidak didahului ketiadaan. Dia mahakekal, mahaabadi.

Baiklah. Sebelum beranjak lebih jauh bersama” biduk pembahasan ini, pembaca saya ajak meninjau terlebih dahulu kata “wajib” yang tertulis di atas bersama kata “sifat”, persisnya dalam frasa “sifat wajib”. Wajib yang dikehendaki di sini adalah wajib dalam terminologi ilmu tauhid (teologi) atau lebih tepatnya wajib menurut akal. Jadi bukan wajib menurut ilmu syariat (fikih) yang dipatok dalam definisi: “sesuatu yang jika dikerjakan menghasilkan pahala dan jika dikerjakan berbuah dosa.”

Juga bukan wajib menurut adat (empiris) semisal kasus hukum alam, “Api itu (wajib) membakar.” Hukum ini didapat dari pengalaman karena orang melihat bahwa api itu selalu membakar. Yakni begitulah yang selalu terjadi secara empiris. Kita membedakan antara adat dan akal karena hukum keduanya memang tidak sama. Apa yang disimpulkan melalui kelaziman adat dan akal itu memang tidak sama karena masing-masing memiliki basis sendiri-sendiri. Adat basisnya adalah empiris tanpa melihat hakikat masalah, sedang akal melihat pada hakikat masalah.

Menurut akal, sifat membakarnya api itu tidak inheren dalam dirinya. Buktinya, ada api yang tidak membakar, yaitu api yang dibuat oleh Raja Namrudz di zaman Nabi Ibrahim a.s.. Ternyata, api itu tidak bisa membakar tubuh Nabi Ibrahim a.s.. Justru sebaliknya, api itu terasa dingin oleh beliau. Alhasil, panas pun tidak, apalagi membakar. Mestinya, jika sifat membakar itu inheren dalam dirinya, kepada apa pun dan siapa pun dia membakar.

Alhasil, sifat membakar pada api itu tidak inheren. Dia membakar karena Allah membuatnya bisa membakar. Andaikan Allah mencabut sifat membakarnya, seperti dalam kasus Nabi Ibrahim a.s., maka api itu tidak bisa membakar. Begitulah menurut akal.

Wajib Menurut Akal

Kembali ke pembahasan istilah wajib. Wajib yang dimaksud dalam tulisan ini adalah wajib menurut akal, yakni sesuatu yang menurut hukum akal adalah niscaya sehingga tidak mungkin terjadi yang sebaliknya. Tidak tergambar oleh akal kebalikan dari apa yang wajib tersebut. Misalnya, qidam atau “lama” itu wajib bagi Allah menurut akal. Berarti, kebalikan dari qidam, yaitu “baru” bagi Allah itu tidak tergambar oleh akal.

Begini. Seandainya Allah tidak memiliki sifat qidam, berarti Allah itu baru. Hal inilah yang tidak bisa diterima oleh hukum akal. Kenapa? Karena, menurut hukum akal, kalau Allah itu baru, maka akan muncullah apa yang disebut daur atau tasalsul.

Daur secara literer berarti berputar-putar. Sebagai contoh, ayam dan telur: mana yang lebih dulu? Lalu dijawab, telur dari ayam, dan ayam menetas dari telur, telur ini dari ayam, dan ayam ini menetas dari telur, dan begitu terusnya. Di sini terjadi daur, yakni berputar-putar atau bolak-balik, terus tanpa henti, sehingga  tidak diketahui ujungnya, dalam arti, apa yang lebih dulu ada. Menurut hukum akal, ujung itu pasti ada dan harus ada. Kalau tidak, akal jadi bingung.

Demikian pula dengan alam ini. Jika diandaikan bahwa Allah itu pernah tidak ada, mungkin terjadi daur. Misalnya, Allah pernah tidak ada, lalu siapa yang menciptakan Allah? Lalu dijawab, yang menciptakan adalah alam. Muncul pertanyaan: siapa yang menciptakan alam? Dijawab: Allah. Dan begitu seterusnya, berputar-putar.

Adapun tasalsul menurut bahasa berarti berantai, sambung menyambung. Misalnya, andaikan Allah itu baru, dunia diciptakan oleh Tuhan, Tuhan tercipta oleh siapa, dan begitu seterusnya, tidak ada berhentinya. Hukum akal tidak dapat membayangkan berantai seperti ini yang tidak ada ujungnya. Rantai itu harus disudahi, dan analisis terakhirnya adalah Allah. Allah lah yang pertama dan Dia tidak pernah tiada.

Dalil akal ini –bahwa Allah tidak pernah ada — cocok dengan dalil syariat, yaitu Alquran. Allah berfirman, “Dialah yang pertama, dan Dialah yang terakhir.” (Al-Hadid: 2)  Jadi, Allah yang pertama, dan sebelum Allah tidak ada apa-apa karena Allah memang tidak pernah tiada. “Engkaulah yang Mahapertama, tidak ada sesuatu pun sebelum Kamu,” demikian doa yang dipanjatkan Nabi s.a.w.  setiap menjelang tidur.

Tidak hanya itu. Masih banyak lagi pernyataan-pernyataan dalam Al-Quran yang menegaskan hak “kepertamaan” Allah. Cobalah baca ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Allah-lah yang menciptakan langit, bumi, matahari, bintang, bulan, manusia, pepohonan dan sebagainya.

Kriteria Ketuhanan

Alhasil, qidam tidak hanya menjadi sifat Allah tapi juga sekaligus kriteria ketuhanan, sebagaimana digambarkan pada kata “wajib” tadi.  Artinya, tuhan itu harus qidam, dalam arti tidak pernah tidak ada. Kalau ada sesuatu yang pernah tidak ada, maka dia tidak layak disebut tuhan. Manusia, siapapun dia, tidak layak disebut tuhan karena manusia pernah tidak ada. Begitu pula patung, gunung, kuburan, syetan, atau apapun di dunia ini tidak layak disebut tuhan karena mereka pernah mengalami masa tiada. Bahkan andaipun dia kekal ke depannya, dalam arti di masa datang, tapi dia pernah tiada, dia tidak layak disebut tuhan karena dia tidak memenuhi kriteria kekekalan yang hakiki. Begitulah konsep kekekalan yang hakiki, yang benar. Kekal itu tidak hanya ke depannya saja, tapi juga ke belakang. Kalau hanya ke depannya saja kekal, tapi dulu dia tidak ada, maka kekekalannya bersifat majaz, tidak hakiki. Contoh: sorga dan neraka. Keduanya dulu tidak ada, lalu diciptakan oleh Allah menjadi ada. Selanjutnya, dia ada untuk seterusnya. Dia baqin atau memiliki sifat baqa’ tapi tidak punya sifat qidam. Dalam konsep Islam, dia bukanlah sesuatu yang kekal dalam arti sebenarnya. Tidak hanya itu. Kekekalannya tidak juga tidak asli (genuine) karena dia kekal lantaran pihak lain, yaitu dikekalkan oleh Allah. Berarti dia butuh pada pihak lain. Ini berbeda dengan Allah. Kekekalannya adalah sempurna dan mutlak serta kekekalannya inheren serta karena Dzatnya memang kekal, bukan karena pihak lain.

About the author

Hamid Ahmad

Redaktur Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.

Tinggalkan Komentar Anda