Tasawuf

Mulai Dari Alquran

Ilustrasi salah satu kegiatan di pesantren (sumber foto : khaskempek.com)
Anis Sholeh Ba'asyin
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Pesantren Mbah Sirra sudah lockdown, mengarantina diri sejak awal pandemi. Lewat kang Ali, lurah pondok, Mbah Sirra menawarkan dua pilihan pada para santri: pulang ke rumah atau tetap tinggal di pondok sampai pandemi usai. Dengan catatan: yang memilih tinggal tidak boleh keluar dari lingkungan pondok, dan seluruh kebutuhannya akan ditanggung pondok.

Seperti sudah diperkirakan, seluruh santri memilih tinggal. Tentu saja setelah berkonsultasi lewat telpon dengan keluarga masing-masing. Ada tujuh gotha’an di pesantren Mbah Sirra. Masing-masing gotha’an hanya diisi oleh tujuh santri, sehingga hanya ada 49 santri di pesantren.

Mbah Sirra memang terkenal sangat ketat dalam menerima santri. Untuk menjadi santri setidaknya harus sudah sudah menguasai kitab nahwu: Jurumiyah, Imrithi, Mutamimah, Alfiyah; menguasai kitab shorof Amtsilah Tashrifiyah; Mushtholah Al-hadits, Arba’in Nawawi, Safinatun Najah, At-Taqrib, Aqidatul Awam, Ta’limul Muta’alim; dan lain sebagainya.

Kecuali itu, tampaknya ada pertimbangan-pertimbangan non teknis yang juga diterapkan Mbah Sirra dalam menyeleksi calon santrinya. Artinya, tidak semua calon santri yang sudah menguasai kitab-kitab dasar tersebut otomatis diterima. Pertimbangan-pertimbangan ini tidak pernah diungkap; kami para santri hanya mengira-ira saja bahwa itu mestinya muncul dari ketajaman beliau melihat potensi calon santrinya. Baik akal mau pun ruhani.

Melanjutkan tradisi pesantren di masa lampau, yang masing-masing hampir selalu punya keunikan; pesantren ini pun punya keunikannya sendiri. Salah satunya, ia tidak menerapkan sistem madrasah dalam pengertian seperti yang dipahami di masa kini, yakni sistem sekolahan; tapi hanya menggunakan sistem sorogan dan bandongan. Sorogan adalah cara pengajaran yang sifatnya perorangan; sementara bandongan adalah pelajaran untuk banyak santri secara sekaligus. Dari sisi ini, pesantren mbah Sirra sepenuhnya bersifat salafi, tradisional; tentu saja tidak mengacu pada istilah salafi yang akhir-akhir ini sudah kacau balau pengertiannya.

Keunikan kedua, pesantren ini tidak pernah diberi nama; sehingga akan sia-sialah orang yang mencari papan nama atau apa pun lainnya untuk dipakai sebagai penanda keberadaannya. Menurut cerita, memang demikianlah keadaannya sejak didirikan oleh kakek buyutnya; Mbah Sirra hanya melanjutkan tradisi tersebut.

Keunikan ketiga, semua proses pembelajarannya berpusat pada Alquran. Menurut kyai Amin, putranya; Mbah Sirra yakin bahwa Alquran adalah rujukan utama bagi muslim, sehingga semua harus mulai dari sana. Frasa mulai ini menjadi penting, dan harus dibedakan dengan frasa kembali yang selama ini banyak digunakan.

Istilah kembali berkemungkinan menafikan atau bahkan menghapus warisan pemikiran, yang kini populer dengan sebutan turats, yang berkembang selama ini; sehingga cenderung a-historis, sama sekali tidak menghargai kontinuitas.

Dengan menggunakan istilah mulai, Alquran diibaratkan sebagai sumber air pertama dan utama, dari mana bisa dilacak aliran-aliran air yang terbentuk kemudian, sungai dan anak-anak sungai yang tercipta, danau-danau yang muncul, hingga ke muaranya. Tentu tidak semua bisa dirangkum secara sekaligus, ada pemilahan dan pemilihan tertentu yang tetap harus diterapkan.

Untuk itu, ayat 10 surat Al Hasyr: Ya Rabb, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang lebih dulu beriman, dan jangan Engkau biarkan ketidak-sukaan terhadap orang-orang yang beriman tumbuh dalam hati kami; merupakan salah satu prinsip yang acap ditekankan untuk menghargai warisan para pendahulu.

Dengan cara ini, Mbah Sirra berharap Alquran bisa menjadi landasan utama membangun peradaban di setiap kurun. Alquran benar-benar di posisikan menjadi pusat, dimana seluruh warisan yang ada sejak Rasulullah sampai hari ini berfungsi sebagai alat untuk memahaminya.

“Bukankah Alquran diturunkan untuk semua manusia di setiap waktu hidupnya, sejak Rasulullah hingga hari ini?” demikian Mbah Sirra sering menjelaskan.

“Artinya Alquran secara langsung juga bicara pada kita masing-masing, baik sebagai pribadi mau pun sebagai sebuah masyarakat, di masa hidup kita kini; ia adalah cahaya untuk melihat dan menjawab masalah yang kita hadapi.”

Nah, terkait dengan pemetaan masalah yang dihadapi manusia umumnya dan ummat Islam khususnya inilah, terlihat keunikan keempat pesantren ini: Mbah Sirra tak ragu melibatkan santri-santri seniornya yang kini sudah doktor atau bahkan profesor, untuk secara rutin, dalam waktu-waktu tertentu, mengajar di pesantren. Yang diajarkan mulai dari ilmu-ilmu sosial-budaya hingga ilmu-ilmu kealaman. Dengan memahami peta masalah yang ada di zaman ini, dengan bekal metode pemahaman terhadap Alquran seperti disebut di atas; para santri diharap tergugah untuk ikut merumuskan jawabannya. Tentu saja sesuai kemampuan masing-masing.

Keunikan kelima adalah: pesantren ini tidak hanya mengandalkan penilaiannya terhadap santri hanya berdasar penguasaannya terhadap materi yang diberikan, tapi secara bersamaan juga terhadap akhlaknya. Dan penilaian itu berlangsung sejak hari pertama santri diterima. Dan penilaian itu bukan hanya ketika santri ada di pesantren, tapi di mana pun dia berada.

Keunikan keenam, metode yang digunakan pesantren ini adalah: secara sekaligus sejak awal santri dididik untuk menghafal Alquran sambil memahami kandungannya, sejarahnya, hukum-hukumnya, pemahamannya dari masa ke masa hingga ke masa kini dan seterusnya. Sehingga ada yang menyebutnya sebagai pesantren tahmilul Qur’an; seperti ada juga yang mengidentifikasinya sebagai pesantren tafsir Alquran.

Selintas memang tampak sederhana, tapi tidak demikian kenyataannya. Karena dalam setiap tahap menghafal, ada tumpukan rujukan yang harus juga dikuasai. Mulai dari penguasaan kitab-kitab hadits, tarikh, tafsir, kitab-kitab fiqh sampai dengan pendapat-pendapat ulama yang tersebar di banyak tempat dari waktu ke waktu.

Ada tujuh tahapan yang harus dilalui santri untuk menyelesaikan pendidikannya secara penuh di pesantren ini. Kenyataannya, tidak semua santri berhasil melaluinya; tapi tampaknya itu tidak jadi masalah bagi Mbah Sirra. Menurut yang saya dengar dari kyai Amin, setiap jenjang sudah dianggap final di dalam dirinya sendiri. Sehingga kalau santri tidak mampu melanjutkan, dengan beragam sebab tentunya; itu tak jadi masalah benar.

Keunikan ketujuh, pesantren ini mewajibkan santrinya mengikut tarikat tertentu yang baku; atau kalau tidak bisa, santri harus memilih sendiri amalan sunnah tertentu dan menjalankannya secara istiqomah. Entah puasa Daud, Senin-Kamis, hari-hari putih; entah membaca Alquran secara ajek di jam-jam tertentu tiap hari, entah lainnya.

Kalau dicermati, seperti kata banyak orang dan juga kyai-kyai lain, pesantren Mbah Sirra sepertinya memang fokus untuk menyiapkan ulama. Saya tidak sepenuhnya tahu, apakah memang demikian yang dirancang mbah Sirra atau tidak.

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda