Bintang Zaman

Seri Sahabat Nabi: Utsman ibn Affan: Cintanya yang Dalam Kepada Alquran Itu (3)

Berkat usaha Khalifah Utsman keaslian Alquran sebagaimana  dihapal secara umum oleh masyarakat tetap terjaga hingga sekarang, dan tidak dimungkinkan terjadinya Alquran versi lain di dunia Islam. Bagian dunia mana saja yang ditaklukkan sang khalifah?

Merajut Alquran.

Meskipun Utsman naik ke tampuk kursi khalifah  sudah cukup tua (70 tahun), masa kekhalifannya terpanjang dalam sejarah  Khulafaur Rasyidin, yaitu 12 tahun. Para ahli sejarah biasa membagi masa bakti ini menjadi dua periode: enam tahun pertama dan enam tahun kedua. Mula-mula, seperti yang dijanjikannya, ia meneruskan kebijaksanaan yang ditempuh pendahulunya terutama Umar. Ditumpasnya pembangkang dan pemberontak yang muncul menyusul wafatnya Umar di Khurasan dan Alexsandaria. Dikirimnya ekspedisi-ekspedisi untuk memperluas wilayah Islam hingga mencapai Armenia, Thabaristan, Siprus, dan Amu Daria (Sungai Jihun) di Asia Tengah  dan Eropa serta ke Nubiah dan Tripoli Barat di Afrika. Negeri-negeri Balkh (Baktria), Harah, Ghaznah di Turkistan dan Kabul (ibu kota Afganistan kini) sudah pula diduduki kaum muslimin di bawah Utsman. Dan dengan perambahan kekuasaan ke laut, Utsman untuk yang pertama kali menggembangkan armada laut.

Di bidang keagaman, kondifikasi (tadwin) Alquran  yang sudah dirintis pendahuluannya diteruskan sampai pada tingkat sempurna, yaitu dengan usaha  standardisasi penulisan Alquran yang melahirkan Rasm Utsmani yang sampai saat ini terus berlaku. Waktu itu, Alquran yang dihimpun Abu Bakr  dan disimpan di rumah Hafashah binti Umar masih berupa lembaran yang terpisah-pisah. Sedang di berbagai daerah taklukan  terdapat Alquran yang beragam bentuk susunan surah-surahnya. Bahkan beraneka pula bacaan dan dialeknya. Ada pula Quran yang sudah bercampur dengan tulisan penghafalnya. Tentu saja, kalau ini dibiarkan, ini bisa menimbulkan petaka. Karena itu, atas usulan Hudzaifah ibn Yaman, dibentuklah sebuah tim pimpinan Zaid ibn Tsabit, yang di masa Abu Bakr juga memimpin tim penghimpun Alquran. Tim ini bertugas menuliskan kembali Alquran yang masih berupa lembaran yang terpisah-pisah itu ke dalam sebuah buku yang disebut mushaf, dalam ragam  tulisan yang seragam atau standar, yang kemudian di kemudian dikenal dengan sebutan Rasm Utsmani. Tidak hanya menuliskan kembali Alquran yang disimpan di rumah Hafsah, tapi juga dilakukan cek dan cek ulang secara saksama.

Yang ditulis tidak hanya satu, tapi lima buah mushaf. Satu naskah salinan ditinggalkan di Madinah, disebut Mushaful Imam, sedangkan empat lainnya dikirim ke Suriah, Basrah, Mekah dan Kufah. Sedang naskah-naskah yang lain dimusnahkan, dan setiap naskah yang berbeda dengan Mushhaful Imam   dianggap tidak berlaku lagi. Sudah tentu kerja besar ini, yang konon berlangsung pada paro kedua kepemimpinan Utsman, membutuhkan waktu tahunan.

Karena cara yang di tempuh ini, keaslian Alquran sebagaimana  dihapal secara umum oleh masyarakat tetap terjaga hingga sekarang, dan tidak dimungkinkan terjadinya Alquran versi lain di dunia Islam. Efektivitas kebijakan Utsman ini diakui oleh kalangan orientalis seperti Nicholson maupun Gibb. Distribusi Alquran  ke penjuru dunia sangat cepat, sehingga pada 1143M telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1649 M. Bersambung

About the author

Imam Addaruqutni

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah (1998-2002), kini dosen PTIQ Jakarta, dan Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia

Tinggalkan Komentar Anda