Cakrawala

Bangsa Yang Batal Rebahan

Sejarah tidak pernah berjalan linear, selalu saja ada kejutan-kejutan yang bisa mengguncang atau bahkan memorak-porandakan tatanan yang ada. Saat orang merasa mapan dengan peradaban modern, dari arah yang tak terduga tiba-tiba muncul Covid-19. Peradaban yang semula dikira baik-baik saja dan sempat dianggap sebagai capaian tertinggi manusia; tiba-tiba macet dan memunculkan ke permukaan komplikasi masalah yang sebelumnya terkubur di bawah permukaan.

Belum lagi orang bisa mengatur nafas menghadapi Covid-19; dari arah yang lain lagi, tiba-tiba muncul kasus kematian George Flyod di Minneapolis. Amerika Serikat terguncang, demonstrasi mendadak terjadi di mana-mana, berjilid-jilid dan berhari-hari. Demonstrasi yang massif dan sudah berlangsung lebih dari sepekan ini, langsung mendorong Amerika ke krisis baru, menyempurnakan krisis yang sebelumnya sudah dimunculkan oleh Covid-19.

Sesungguhnya Allah memang tidak pernah tidak ajaib dan tidak terduga; kita saja yang mungkin selalu ‘berpura-pura’ sok bisa memahami semuanya, bahwa semua akan berjalan sesuai ‘pengetahuan’ kita atau setidaknya dapat ditangani oleh ‘pengetahuan’ kita. Dalam kenyataan, keyakinan tersebut tidak pernah bisa diterapkan sepenuhnya; lebih sering bahkan mental, terlempar keluar, saat dipakai ‘menaklukan’ kenyataan. Kata seorang kawan ‘Allah kok dijaring oleh kekerdilan akal kita’.

Kesadaran tentang kerapuhan, sikap dloif, manusia semacam ini memang tidak pernah menjadi bagian utama peradaban manusia; lebih-lebih bagi peradaban modern yang digerakkan oleh kepongahan superioritas manusia; bukan hanya terhadap alam, tapi juga terhadap sesamanya. Kepongahan membuat orang berjalan mendongak. Gampang diduga, ia akan gampang tersandung, terperosok, terjerembab dan sejenisnya.

Mungkin orang bisa mengira-ira-mensimulasi-memproyeksi sesuatu berdasar data yang tersedia, tapi tak pernah ada yang bisa memastikan sesuatu itu akan terjadi, kapan terjadi atau malah sama sekali tidak terjadi. Pengetahuan manusia jelas meyakini hal ini. Tapi keyakinan tersebut tetap tinggal sebagai minoritas, tidak pernah berkembang dan meningkat menjadi kesadaran yang melandasi peradaban.

Banyak orang sudah sudah bicara tentang ancaman pandemi, jauh sebelum pandemi berlangsung. Bahkan WHO yang mestinya punya berlimpah data, kecuali kepentingan tentu saja; masih tergagap-gagap dan terkesan tidak siap mengantisipasi ketika tanda-tandanya mulai muncul dari Wuhan.

Ancaman tentang pandemi yang sebelumnya banyak dibahas, sepertinya tak cukup memunculkan kesigapan untuk bertindak terhadap kemungkinan sekecil apa pun yang dianggap berpotensi mewujudkannya. Akibatnya semua orang, semua bangsa, semua negara kini terpenjara di dalamnya.

Begitu juga tentang demonstrasi besar-besaran dan kerusuhan yang melanda Amerika Serikat saat ini. Kemungkinannya untuk terjadi sudah banyak dibahas orang, bahkan contoh-contohnya, dalam skala yang beragam, sudah berulang terjadi. Tapi selalu saja ada kejadian tak terduga yang memicunya dan orang tetap saja terkaget-kaget ketika itu kembali terulang. Yang lebih mengagetkan: demonstrasi besar-besaran ini justru terjadi di tengah pandemi yang menuntut orang harus mengurangi aktivitas di luar rumah, dan harus menjaga jarak kalau terpaksa keluar rumah.

Kematian George Floyd tampaknya telah membatalkan mode rebahan bangsa Amerika. Kemarahan atas kematian tersebut lebih besar dari ketakutan mereka terhadap ancaman Covid-19; sehingga mereka berani menabrak sebagian besar protokol kesehatan saat pandemi. Pada tahap lanjutnya, demonstrasi ini memaksa banyak pihak untuk terlibat di dalamnya: mulai dari awak media, pihak kepolisian, pengawal nasional dan lain sebagainya. Mau tak mau mereka harus ada di tengah kerumunan. Artinya harus ikut menabrak protokol kesehatan juga, karena kecuali pengunaan masker, rasanya protokol kesehatan tak mungkin diterapkan dalam demonstrasi semacam ini.

Dan ini bukan hanya berlangsung di sebagian besar negara bagian Amerika Serikat; tapi aksi solidaritas serupa sudah pula merambah ke banyak negara lain, terutama Eropa. Artinya: di banyak wilayah, protokol kesehatan yang dicanangkan untuk menghadapi pandemi Covid-19, sudah diobrak-abrik sendiri oleh manusia. Yang tersisa paling tinggal penggunaan masker saja. Apakah ini akan menyebabkan ledakan pasien Covid-19? Kita tunggu saja laporannya.

Yang jelas, sekali peraturan itu ditabrak, akan sulit untuk kembali ditegakkan. Apalagi bila terbukti tak menyebabkan ledakan pasien.

Siapa yang pernah menyangka ini terjadi? Dan, jangan lupa, ini bisa terjadi di mana saja, kapan saja; karena manusia dan peradabannya tidak pernah tidak dloif.

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda