Bintang Zaman

Seri Sahabat Nabi: Utsman ibn Affan: Cintanya yang Dalam Kepada Alquran Itu (2)

Written by Imam Addaruqutni

Dua dari enam kandidat yang tersisa, pilihan akhirnya jatuh ke Utsman ibn Affan. Apa pertimbangan Abdurrahman ibn Auf membaiat saudagar kaya berpenempilan lembut itu?Apa pun, dengan cara musyawarahlah seorang pemimpin dipilih.    

Hasil  Jajak Pendapat

Ssatu hal yang tidak diwariskan Nabi, sampai wafat beliau, adalah tuntunan yang  jelas tentang bagaimana penggantian kekuasaan seharusnya dilakukan. Hanya prinsipnya, yaitu musyawarah. Karena itu, ada beragam mekanisme suksesi yang dikembangkan para sahabat kemudian, sebagai hasil ijtihad mereka,tapi semuanya bertitik tolak dari satu prinsip,yakni musyawarah. Yang kita lihat adalah, khususnya pada masa-masa Khulafaur Rasyidin, sebuah untaian nan indah dari mekanisme suksesi yang berwarna-warni. Ibarat musik, meski berbeda-beda bunyinya,  itu semua tidak menjadi suara yang hiruk-pikuk karena semuanya dikemas secara disiplin mengikuti dirigen yang tidak terlihat. Mestinya, sesudah masa Khulafaur Rasyidin, untain itu diperpanjang lagi dengan warna-warna yang beragam pula, mengikuti kebutuhan masing-masing masa dan kondisi.

Di tengah ketidaan tuntunan tentang cara suksesi dan figur yang ditunjuk Nabi sebagai penggantinya, para sahabat sebenarnya dilanda kebingunan. Abu Bakr lalu terpilih setelah melalui perdebatan yang panjang dan terus-terang (baca:musyawarah) antara dua kubu: kaum Anshar dan Muhajirin, yang berbuntut pada pembaitan oleh Umar dan diikuti lainnya. Cara itu berhasil meredam situasi yang mulai bergejolak.

Cara itu tidak digunakan Abu Bakr, yang pada saat menjelang wafatnya keadaan umat sudah relatif stabil. Dia memilih mengajak musyawarah sejumlah sahabat terkemuka, dan ternyata figur pengganti yang diajukannya, Umar ibn Khattab, disepakati. Sekali lagi potensi gejolak berhasil diredam.

Umar lain lagi. Ketika ia hendak menggangkat, ia menunjuk tim formatur yang terdiri atas Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib, Tahalhah ibn Ubaidillah, Zubair ibn Awwam, Sa’d ibn Mlik, dan Abdurrahman ibn Auf. Keenam sahabat ini diberi tugas untuk memilih penggantinya di antara mereka sendiri. Selain mereka ditunjuknya pula anaknya, Abdullah ibn Umar, dengan hak memilih tanpa hak dipilih.

Sejarah memang bisa ditafsirkan macam-macam. Belakangan muncul gugatan, yaitu dari Sejarawan M.A. Shaban, terhadap komposisi tim formatur  karena semuanya dari kelompok muhajirin. Tidak ada dari kaum Anshar.

Muhammad Abbas Al-Aqqad mengatakan, tidak fair untuk menilai sejarah masa lalu dengan cita rasa masa kini. Mestinya kita menyorotinya dalam konteksnya sendiri. Nyatanya proses terhadap komposisi terhadap tim formatur itu tidak parnah muncul waktu itu dari kalangan Anshar. Ini bisa dijelaskan, pertama, dari pernyataan bahwa kursi khalifah (atau amirul mukminin) bukanlah jabatan politis an sich, melainkan juga keagamaan. Dengan demikian, yang mesti dipilih tentunya orang yang punya otoritas dalam kedua hal tersebut sekaligus. Dan sudah selayaknya orang-orang yang paling dekat dengan Rasulullah yang tentunya dapat memahami ruh dari ajarannya, Islam, mendapat prioritas utama.

Kedua. Persoalan tentang kelompok mana yang paling berhak memegang kendali kepemimpinan sebenarnya sudah pernah menjadi perdebatan yang seru saat Nabi meninggal, di Saqifah Bani Saidah. Dengan demikian, persoalan ini seharusnya sudah dianggap selesai karena para sahabat Anshar waktu itu dapat menerima kemimpinan kaum Muhajirin.

Ini bukan untuk meniadakan sama sekali kesalahan yang mungkin diperbuat baik Abu Bakr maupun Umar. Bisa jadi — dan Allah lebih tahu yang benar- ijtihad mereka, terutama Umar, keliru karena mengesampingkan kemungkinan lebih otoritatifnya orang-orang di kalangan kaum Anshar, meski mereka masuk Islam  lebih belakangan.

Mula-mula, tim yang diketahui Abdurrahman ibn Auf seorang pengusaha sukses yang sahabat Nabi) itu mengadakan sidang yang di antaranya menghasilkan pengunduran diri Zubair dan Sa’d ibn Malik  serta suara abstain dari Thalhah lantaran ia sedang tidak di Madinah. Abdurahman sendiri sudah menyatakan ketidaksediannya menjadi kandidat khalifah sehingga praktis tinggal dua orang, yaitu Utsman dan Ali.  Abdurahman mengadakan semacam jajak pendapat secara acak meliputi berbagai lapisan masyarakat, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terbuka, menyangkut kedua kadidat tersebut. Selain itu, diberi peluang untuk mengajukan calon alternatif di luar kedua kadidat tersebut. Ternyata,hanya dua nama itu yang muncul.

Beberapa ahli sejarah menyebutkan, dalam jajak pendapat dan dialog itu ternyata suara mayoritas cenderung memilih Utsman yang lemah lembut dan rendah hati ketimbang Ali bin abi Thalib (Haykal,1964:32). Barangkali ini semangat kedermawaan dan sifat-sifat yang melekat padanya. Mungkin juga penduduk Madinah menginginkan perubahan corak kepemimpinan: dari yang keras di bawah Abu Bakr dan Umar kepada yang lembut.

Selanjutnya Abdurrahman mengundang khalayak ke masjid, dan di hadapan mereka ia mengajukan pertanyaan yang sama kepada kedua kadidat: “Apakah Anda bersedia berjanji akan mengikuti kitab Allah (Alquran) dan sunnah Rasul-Nya serta meneladani Abu Bakr dan Umar?” Utsman dan Ali menjawab pertanyaan tersebut dengan cara yang berbeda. “Saya berjanji akan mengikuti Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya serta ijtihad saya,” jawab Ali. Sebaliknya, Utsman menjawab, “Ya Allah, saya berjanji.” Tiba-tiba Abdurrahman menjatukan pilihan kepada Utsman yang segera diikuti dengan baiat oleh mayoritas yang hadir saat itu. Dengan demikian, Utsman terpilih menjadi khalifaj definitif  secara de facto dan de jure. Meskipun begitu, di kalangan para teoretisi Islam, cara terakhir yang ditempuh Abdurrahman dengan memihak pada Utsman tersebut telah menimbulkan kontroversi.

Bisa jadi,tindakan Abdurrahman tersebut dianggap intervensi  dari panitia pemilihan. Tapi, seharusnya orang melihat bahwa kedudukannya tidak bisa disamakan dengan panitia pemilihan umum yang ada sekarang ini. Tidak pula bisa dibayangkan bahwa apa yang berlangsung saat itu seperti pemungutan suara di masa kini. Itu adalah — ini rasanya lebih pas “musyawarah untuk memilih seorang pemimpin”, seperti yang sudah berlangsung di Saqifah Bani Saidah. Setiap orang di situ, termasuk  Abdurrahman, berhak mengemukakan pendapat, bahkan juga memelopori pembaitan (seperti yang di lakukan Umar di Saqifah Bani Saidah). Dan setiap orang juga berhak, kalau ia mau, menyangkal pendapat, atau pembaiatan itu seketika itu juga (ingat, orang Arab yang rata-rata bertemperamen keras itu biasa bersikap terbuka dan spontan). Nyatanya, pembaiatan itu kemudian diikuti oleh semua yang hadir.

Pertanyaan: mengapa Abdurrahman menjatuhkan pilihan pada Utsman? Mungkin ini karena preferensi pribadi yang dilatari oleh pertimbangan usia (Utsman lebih senior), jasa, kapasitas (sebagai saudagar kaya diharap ia lebih mampu memenej, meski harapan ini tidak seluruhnya tepat) dan idealogis (karena Utsman menjamin kelanjutan landasan  yang selama ini di bangun Abu Bakr dan Umar). Baik sebagai salah satu anggota khalayak pemilih maupun anggota tim yang diberi mandat untuk dipilih atau memilih salah satu di antara mereka, rasanya ia punya hak untuk mengemukakan preferensinya itu. Mungkin pula ini karena pertimbangan suara mayoritas penduduk Madinah yang berpihak pada Utsman, seperti yang dihasilkan lewat jajak  pendapatnya. Bersambung

Majalah Panji Masyarakat, 26 Januari 1998.   

About the author

Imam Addaruqutni

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah (1998-2002), kini dosen PTIQ Jakarta, dan Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia

Tinggalkan Komentar Anda