Bintang Zaman

Seri Sahabat Nabi: Utsman ibn Affan dan Cintanya yang Dalam Kepada Alquran (1)

Written by Imam Addaruqutni

Khalifah Utsman dikenal saleh, gemar membaca Alquran, dan dermawan. Orang paling kaya di antara sahabat Nabi mengalami periode cemerlang pada periode pertama pemerintahannya. Ia berjasa dalam menyeragamkan Alquran dalam sebuah mushaf yang kita kenal sekarang.

Di antara  empat pengganti Rasulullah, Utsman ibn Affan disebut sebagai yang paling kontroversial. Di kalangan lawan-lawannya dia dituduh nepotisme karena mengangkat sejumlah kerabatnya untuk jabatan-jabatan penting. Di masanya terjadi apa yang di kenal al-fitnatul kubra, ’musibah besar’. Bibit-bibit perpecahan mulai menyeruak di kalangan umat Islam, yang dengan susah payah dijaga keutuhannya oleh Abu Bakar dan Umar. Pemerintahannya menjadi semacam antiklimaks dari berbagai kemajuan yang dicapai para pendahulunya.

Meski demikian, kecuali di kalangan kaum Syi’ah yang punya prasangka buruk kepada semua pengganti Rasul selain Ali (bahkan juga kepada semua sahabat yang tidak mendukung kepemimpinan Ali), Utsman digolongkan sebagai seorang dari Khulafaur Rasyidin, khalifah-khalifah yang lurus. Seperti halnya Abu Bakr, Umar dan Ali, dia dinilai masih berjalan di atas rel Alquran dan sunnah. Ia masih menjadikan kedua sumber itu sebagai “konstitusi” atau landasan dari pengambilan keputusan, sementara perintahnya diarahkan untuk menegakkan keduanya.

Utsman sendiri dikenal sebagai pribadi yang sangat saleh. Seorang saudagar kaya — paling kaya di antara para sahabat malah — yang tak segan-segan mendermakan hartanya di jalan Allah. Seorang yang sangat rajin beribadah dan membaca Alquran.  Dan, tidak peduli dengan ancaman maut yang dibawa para pemberontak, ia tetap membaca kitab suci itu sampai ajal menjemput.

Jasa Utsman bagi perkembangan Islam, hingga sekarang, tidak bisa diremekan. Berkat dia,kita sekarang dapat menikmati Alquran sebagai sebuah kitab suci yang tersusun rapi dan,yang lebih penting lagi, seragam dengan variasi-variasi bacaan (yang dipelajari dalam disiplin ilmu qiraat). Belum lagi berbagai penaklukan yang cukup luas selama pemerintahanya. Kalaulah ada kesalahan, mungkin itu terletak pada kelemahan dan ketuaannya. Mungkin ia terlalu lemah untuk memimpin sebuah pemerintahan yang kian luas wilayahnya dan kian kompleks permasalahannya. Sebuah masa transisi yang sebenarnya belum tuntas betul — dari masa ketika satu figure  (Nabi) menjadi satu-satunya rujukan dan pusat ke “masa mandiri”, pasca-Nabi. Atau bisa pula itu dikarenakan terlalu lamanya dia memegang tampuk kekuasaan, sebab ternyata periode pertama yang berlangsung enam tahun merupakan masa-masa kecermerlangan dan kemajuan. Justru pada periode kedua pemerintahannya mulai mengalami kemerosotan dan kerapuhan.

Dua keturunan

Nama lengkapnya Utsman ibn  Affan ibn Al-Ash ibn Umayah ibn Abdisy Syam ibn  Abdi Manaf. Garis keturunannya bertemu dengan Nabi Muhammad s.a.w.  pada moyang mereka, Abdi Manaf. Dari garis ayah, mengalir darah kaum pengusaha yang sukses dan kaya dari keluarga Bani Umayah, sedang ibunya berasal dari Bani Hasyim, keluarga besar Nabi yang juga terbilang keturunan mulia.

Lahir di Mekah tahun 576 M, lima tahun setelah kelahiran Nabi, ia memeluk islam atas ajakan Abu Bakr Ash-Shiddiq , kala gerakan dakwah islam masih bersifat door-to-door dan sembunyi-sembunyi. Ia temasuk 38 sahabat besar yang di sebut Alquran  sebagai ash-shabigunnal awallun, orang-orang yang pertama masuk islam. Sejak kecil ia dikenal sebagai anak berbudi pekerti luhur, lembut, dan terpuji. Setelah  dewasa ia dikenal sebagai orang kaya yang saleh, penyayang, tekun beribadah, dan dermawan. Kedermawaannya terbukti antara lain ketika ia berkenan memberikan seluruh harta perniagaannya untuk usaha santunan dan pengentasan kemiskinan di kala terjadi musim paceklik pada masa  kekhalifahan Abu Bakr Ash-Shiddiq.

Utsman  juga selalu berperan aktif dalam dakwah islam,sehingga beberapa anggota  keluarganya berhasil diajaknya masuk agama baru ini,seperti Aminah binti Affan,Ummu Kultsum binti Uqbah (saudara seibu),serta ibunya sendiri.Ayahnya sudah meninggal sebelum datangnya islam.

Ia pun tidak parnah absen dalam soal jihad, kecuali dalam Perang Badar. Waktu itu istrinya, Rukayah  ,sedang sakit dan Rasulullah tidak mengizinkannya ikut. Tidak lama setelah itu, Rukayah meninggal.

Ketika Rasulullah beserta para sahabatnya berhijrah ke Madinah, ia rela meninggalkan dunia niaga dan harta bendanya di Mekah untuk ikut dalam rombongan Muhajirin.  Setelah hijrah ini, Rasulullah dan segenap Muhajirin mengalami masalah kelangkaan air dan proyek pengembangan masjid. Utsman lalu membeli telaga milik orang Yahudi dan membebaskan sebidang tanah yang cukup luas di dekat bangunan masjid yang sudah ada dengan harga sangat tinggi (12.000 dirham dan 15.000 dinar).

Bersambung

Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 26 Januari 1998

About the author

Imam Addaruqutni

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah (1998-2002), kini dosen PTIQ Jakarta, dan Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia

Tinggalkan Komentar Anda