Bintang Zaman

Seri Sahabat Nabi: Umar Pembangun Imperium dan Mujtahid Besar (2)

Written by Sukidi Mulyadi

Umar masuk Islam setelah ia membaca lembaran berisi sepotong surah Thaha, yang diberikan adiknya. “Alangkah baik dan mulianya perkataan (al-kalam) ini,”  kata Umar. Setelah itu, ia bergegas ke tempat Rasulullah untuk menytakan keislamannya dengan membaca dua kalimah syahadat.

Keislaman dan Pengaruhnya.

Sudah enam tahun Nabi Muhammad s.a.w. menyampaikan tablignya, tapi sambutan penduduk Mekah belum begitu hangat. Hanya beberapa gelintir dari mereka yang mau menerima ajakan beliau. Tantangan masihlah  besar sehingga umat Islam masih belum berani melaksanakan salat di tempat terbuka — di Masjidil Haram, misalnya.

Waktu itu ada tiga orang yang sangat keras menentang Nabi: paman beliau sendiri, Abu Lahab, Umar ibn Khattab, dan Amr ibn Hisyam, paman Umar. Ah, andaikan orang-orang ini, terutama dua yang terakhir ini, masuk Islam, begitu terpikir di benak Rasulullah, Islam pasti lebih kuat. “Ya Allah! Kuatkanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang Umar, yakni Amr  ibn Hisyam (Abu Jahal) atau Umar ibn Khattab,” begitu Nabi memanjatkan doa.

Rupanya Allah mengabulkan doa Nabi ini. Dalam sebuah drama yang begitu dramatis, yang kisahnya sudah begitu popular di kalangan umat Islam, Umar masuk Islam setelah ia membaca lembaran berisi sepotong surah Thaha, yang diberikan adiknya. “Alangkah baik dan mulianya perkataan (al-kalam) ini,”  kata Umar. Setelah itu, bergegas ia menuju  ke tempat Muhammad, yang sedang bersama Hamzah, pamannya yang sudah masuk Islam, Ali dan sahabat-sahabat lainya.  “Aku datang untuk bersaksi bahwa engkau utusan Allah (Rasulullah).” Itu terjadi pada tahun ke enam masa kenabian, ketika Umar berusia sekitar 33 tahun.

Menurut Abbas Mahmud Al-Aqqad, keislaman Umar bukan sesuatu yang bersifat dadakan. Sebelum peristiwa dengan adiknya itu, sudah berlangsung suatu proses dalam dirinya. Ia sendiri bercerita, ia parnah mengendap-endap mendekati Rasulullah yang sedang salat di Masjidil Haram. “Beliau menghadap ke arah Syam (Masjidil Aqsha, red.),” katanya. Ia ingin mendengarkan apa yang dia baca. “Ketika saya mendengar Alquran, hati saya bergetar, dan Islam mulai merasukiku,” ujarnya.

Kejadian ini bisa jadi berlagsung sebelum peristiwa dengan adiknya. Meski mulai tergetar, ia tak segera menyatakan keislamaan. Malah, belum surut niatnya untuk membunuh Muhammad. Hal ini tak sulit dipahami. Karena saat itu, banyak pemuda Quraisy, termasuk Abu Lahab, yang sudah mengakui kehebataan Aquran dan kebenaraan Islam, namun tak mau masuk agama baru itu.

Akan halnya Umar yang berangasaan, hal yang pertama dilakukan setelah menyatakan keislamaan adalah mendatangi rumah pamannya, Abu Jahal. Seperti biasa, Abu Jahal menyambut kedatangan keponakannya dengan baik. “Aku sudah masuk Islam. Aku bersaksi tidak ada tuhan selain Allah,” katanya, masih di depan pintu. Sontak wajah Abu Jahal berubah merah padam. “Sial yang kau bawa!” dia mengumpat  sambil membanting pintu.

Tak cuma itu. Umar juga memberi tahu keislamannya kepada orang yang suka menjual rahasia sehingga hal itu segera tersiar luas di kalangaan orang-orang kafir Quraisy. Umar pun mendatangi Masjidil Haram, yang waktu itu masih belum berdinding dan dipenuhi berhala di sekeliling  Ka’bah. Karuan saja ia diserbu orang-orang Quraisy yang sedang ada di sana. Diserbu begitu banyak orang, sendirian Umar akhirnya sempoyongan, meski pada mulanya dapat memberikan perlawanan. Mungkin ia sudah mati kalsu saja tidak datang Al-Ash ibn Wail yang mengingatkan kedudukan Umar  dalam Bani Adi sehingga kalau ia sampai mendapat musibah,bencana bakal menimpa suku Quraisy.

Benar seperti dalam doa Rasulullah, keislaman Umar membawa angin segar, kekuatan baru buat Islam. “Ya Rasulullah! Bukankah kita di atas kebenaraan jika kita mati atau hidup?” berttanya Umar.  “Benar,” jawab Nabi. “Kalau begitu, buat apa sembunyi-sembunyi? Demi Tuhan yang telah mengutusmu, keluarlah!” Sejak itu, orang-orang Islam, yang semula salat di rumah, mulai berani salat di Masjidil Haram. Biasanya mereka keluar dalam dua baris, masing-masing ada Umar dan Hamzah. “Jadi, kita menyimpulkaan, meski belum diwajibkan (karena perintahnya baru turun saat Isra Mikraj  pada tahun ke-11 kenabian) waktu itu umat Islam sudah melakukan salat. Mungkin tata caranya tidak seperti yang ada sekarang, tapi meniru tuntunan Nabi Ibrahim. Bukankah ajaran Nabi Ibrahim masih dianut oleh sementara orang di Mekah?

Bersambung

About the author

Sukidi Mulyadi

Aktivis Muhammadiyah, lulusan Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah ini meraih gelar Ph.D. dari Harvard University, Amerika Serikat (2019). Selain menulis arikel di media massa, mantan aktivis IMM ini juga menulis sejumlah buku populer tentang keislaman.

Tinggalkan Komentar Anda