Cakrawala

Korona Belum Idul Fitri

Anis Sholeh Ba'asyin
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Salah satu makna Idul Fitri adalah perayaan berbuka setelah selama Ramadhan sebulan penuh berpuasa. ‘Id secara bahasa berasal dari kata aada – ya’uudu, yang artinya kembali. Disebut ‘id karena berlangsung secara berulang-ulang, dimeriahkan setiap tahun, pada waktu yang sama. Kata fitri berasal dari afthara – yufthiru, yang artinya berbuka atau tidak lagi berpuasa.

Di Jawa, istilah yang dipakai biasanya adalah bakdo, dari bahasa Arab ba’da, yang arti aslinya adalah setelah, tapi dalam serapan bahasa Jawa juga punya makna selesai atau rampung; tentu yang dimaksud di sini adalah sudah rampung puasa.

Kalau mengacu pada makna di atas, adanya Idul Fitri mengandaikan bahwa sebelumnya kita hidup dalam kebiasaan baru, atau kalau kita pakai istilah sekarang: kita hidup dalam kondisi new normal selama sebulan. Salah satunya: tidak makan-minum sejak imsak hingga maghrib. Dalam kaitan ini, Idul Fitri adalah penanda kembalinya kebiasaan hidup seperti semula, menjadi normal lagi; boleh makan minum di siang hari misalnya.

Kalau sudut pandang ini dipakai untuk membaca pandemi global yang sedang berlangsung; rasanya kita belum memasuki Idul Fitri. Kita masih hidup dengan pola kebiasaan baru; masih harus lebih banyak di rumah, masih harus memakai masker dan menjaga jarak bila terpaksa beraktivitas di luar rumah, dan seterusnya. Artinya masih dalam situasi new normal, masih harus berpuasa dan belum bisa ‘berbuka’ ke kebiasaan lama.

Pertanyaan yang kemudian layak diajukan: untuk apakah ‘puasa’ kali ini? Apakah sekedar untuk ‘menghindari’ penyakit? Agar tak terpapar dan memapar ke orang lain? Kalau sekadar untuk tujuan ini, saya khawatir jangan-jangan memang hanya sebatas itu pula yang akan didapat. Mungkin saja kita selamat, dalam arti tak terpapar; tapi tak ada perubahan apa pun yang mampu dihasilkan di dalam kehidupan.

Sangat besar kemungkinan syahwat sosial-ekonomi-politik-budaya kembali dilampiaskan pada sesama mau pun pada alam seperti sebelumnya. Kerusakan-kerusakan, dengan satu dan lain cara, akan kembali diproduksi. Memang benar, karena pandemi kali ini wajah peradaban akan mengalami perubahan besar, tapi perubahan itu paling banter hanya akan terkait dengan bentuk, sementara isinya akan tetap sama.

Ini terjadi karena sebenarnya kita, baik sebagai pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, warga dunia, pemerintah mau pun negara, tidak pernah benar-benar siap untuk berubah. Kita semua ingin segera hidup ‘normal’ kembali, dengan catatan bahwa normal yang kita maksud merujuk ke semua bentuk aktivitas yang biasa kita kerjakan sebelum pandemi terjadi. Bahkan istilah new normal yang digunakan secara salah kaprah oleh pemerintah pun sebenarnya merujuk ke hal yang sama.

Kita seperti lupa bahwa justru yang kemarin kita anggap sebagai ‘normal’ itulah yang telah menghasilkan pendangkalan peradaban. Manusia semakin kehilangan orientasi kemanusiaannya, semakin semrawut perpektif hidupnya, semakin kabur penglihatannya terhadap kenyataan, semakin tak terkendali dan ngawur tindakannya.

Kalau memang hanya itu yang kita buru, artinya kita tidak membaca pandemi ini sebagai pelajaran berharga, dan sebagai akibatnya tak bisa mulai membangun kemungkinan peradaban baru yang lebih ramah bagi manusia dan semesta di masa depan. Padahal pintu-pintu untuk melakukan perubahan besar dan mendasar, saat ini sedang benar-benar terbuka. Hampir semua lembaga hari ini terguncang gempa yang diciptakan oleh korona. Sebagian oleng, sebagian yang lain pelan-pelan menunjukkan tanda keruntuhannya. Belum lagi kalau gempa ini disusul dengan tsunami ekonomi yang sudah tampak jelas tandanya.

Kalau ‘puasa’ sosial karena korona ini tidak menggugah kita untuk segera melakukan perubahan mendasar, dan hanya membuat kita sibuk dengan romantisme kembali ke kebiasaan yang lampau, kita justru harus siap setidaknya untuk dua kekecewaan: pertama, kebiasaan lama itu sangat mungkin tidak akan pernah sepenuhnya kembali; kedua, kita sekali lagi harus menerima kenyataan bahwa justru peradaban pelampiasanlah yang kembali berkuasa.

Bukankah ini setara dengan ungkapan Rasulullah tentang puasa Ramadhan yang hanya menghasilkan lapar dan dahaga bagi mereka yang tak mampu memanfaatkannya? Artinya ‘puasa’ karena korona kali ini akan sama sia-sianya dengan puasa Ramadhan yang tidak menghasilkan peningkatan apa pun bagi pribadi dan lingkungan kita.

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda