Adab Rasul

Miskin Ala Nabi

Khaibar, wilayah dengan oase sehingga subur untuk lahan kurma. Rasulullah pernah memiliki kebun di wilayah yang berada 150 km di utara Madinah itu.
Hamid Ahmad
Ditulis oleh Hamid Ahmad

“Buatkan makanan yang cukup untuk lima orang. Saya ingin mengundang Nabi Muhammad s.a.w.bersama empat orang lain karena saya melihat kelaparan di wajah beliau.”

Itu pesan seorang sahabat Anshar bernama Abu Syuaib kepada pembantunya, Qashshah. Acara makan-makan dengan mengundang Nabi seperti ini kerap dilakukan sahabat-sahabat lain. Kalau tidak sedang puasa, tentu Nabi memenuhi undangan para sahabatnya itu. Dalam soal makan Nabi tampaknya tidak mau ambil pusing: ada ya dimakan, kalau tidak ada ya puasa.

Bagi Nabi, hidup miskin, atau istilah orang sekarang sederhana dan bahkan kelewat sederhana,  adalah pilihan. Diriwayatkan, pernah beliau  menolak tawaran malaikat, yang tak tega melihat kemiskinannya, untuk mengubah batu dan pasir di Mekah menjadi emas. Tapi beliau malah berdoa, “Ya Allah, hidupkanlah saya sebagai orang miskin, dan matikan saya sebagai orang miskin.” Bukan karena hendak menyiksa diri, tapi untuk memberi contoh kepada umatnya agar tidak mengagulkan dunia dan hidup kebendaan. Lapik tempat tidur beliau, misalnya, hanya berupa kulit yang diisi serat. Tidak pernah beliau makan roti dari tepung sya’ir dua hari berturut-turut. Beliau lebih banyak makan bubur, dan tidak pernah makan sampai kenyang.

Sebenarnya beliau punya kebun kurma di Khaibar di pinggiran Kota Madinah yang, menurut Ibn Umar, disewakan kepada orang-orang Yahudi, dengan cara bagi hasil 50:50. Beliau juga menerima sebagian dari seperlima harta rampasan perang dan kerap mendapat sedekah. Tapi, di tengah kesibukan berdakwah, beliau masih menyempatkan diri untuk berdagang – aktivitas yang dilakukan sejak muda. Mungkin itu karena beliau sangat dermawan, sering berkorban (pada musim haji atau Idul Adha) dan tak pernah menumpuk harta.

Hadis-hadis yang menceritakan kegiatan jual-beli – kecil-kecilan – banyak sekali. Itu bisa jadi kegiatan jual-beli biasa, dalam arti untuk memenuhi kebutuhan, tapi bisa pula kegiatan bisnis. Sebab, terkadang beliau membeli binatang untuk dijual kembali. Adakalanya, disuruhnya sahabat untuk membelikan atau menjualkan suatu barang.

Adapun komoditas yang diperjualbelikan kebanyakan  berupa hewan ternak yaitu unta dan kambing. Pernah pula menjual peralatan perang seperti pelana kuda (mungkin dari rampasan perang). Adakalanya, beliau membeli secara kontan, tapi pada kali lain, kalau tidak punya uang, secara kredit alias nyicil.

Dengan begitu, sesungguhnya Nabi punya peluang yang besar untuk menjadi orang kaya – dan hidup laiknya orang kaya. Tapi beliau lebih memilih untuk jadi miskin.   

 Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 16  Maret 1998      

Tentang Penulis

Hamid Ahmad

Hamid Ahmad

Redaktur Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.

Tinggalkan Komentar Anda