Bintang Zaman

Seri Sahabat Nabi :Abu Bakr Menghidupkan Kembali Makna Kebijakan (4)

Masa kepemimpinan Abu Bakr hanya dua tahun. Tapi ia  berhasil mempersatukan kembali baik secara teologis maupun politik bangsa Arab yang semula  hendak bercerai-berai. Bahkan ia berhasil melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah yang tadinya menjadi koloni Persia dan Romawi. Ia wafat pada usia 63 tahun dan di kuburkan di samping makam  Rasulullah.

Setelah persoalaan Usamah selesai muncul persoalaan yang datang dari para pembangkang bayar zakat dan kaum murtad. Kedua gerakan ini sebenarnya coraknya hampir sama. Artinya sama-sama berkeinginan melepaskan dari pemerintahaan pusat di Madinah. Gerakan seperti ini belum pernah muncul ketika Rasulullah masih hidup.

Mau tidak mau Abu Bakr harus menyelesaikan persoalan ini secara cepat. Dilakukanlah musyawarah di kalangan sahabat terkemuka. Dalam musyawarah ini terjadi perdebataan seru antara mereka yang ingin memerangi kelompok pembangkang pembayar zakat dan mereka yang tidak setuju. Kelompok pertama diwakili oleh Abu Bakr sendiri dan kelompok kedua diwakili Umar.

Lewat perdebatan  dan adu argumentasi  yang mengutamakan akal sehat serta kemaslahatan umat Islam, akhirnya sahabat Umar menerima keputusan Abu Bakr untuk memerangi kaum pembangkang bayar zakat tersebut. Menurut catatan Muhammad Husein  Haikal, dalam pekerjaan ini Abu Bakr bertindak sendirian. Ini sama sekali tidak mengindikasikan bahwa sahabat Umar tidak mendukung Abu Bakr,bertindak sendiri di sini berarti bahwa Abu Bakr bertindak atas keputusannya sendiri, bukan keputusan sahabat-sahabatnya.

Namun, bukan Abu Bakr kalau tidak bisa bertindak  tegas. Kegigihan dan kesungguhannya memerangi kaum pembangkang  dan kaum murtad ini memunculkan rasa simpati dan kekaguman yang besar dari kalangan umat Islam. Mereka seolah-olah teringat dengan ketegasan Rasulullah dalam menghaapi musuh-musuh Allah. Dalam hal ini Abu Bakr meyakini bahwa mereka yang menolak zakat harus diperangi. Abu Bakr berhasil memenangkan pertempuran  ini dan mengembalikan para pembangkang untuk membayar zakat.

Sesudah itu perhatian dipalingkan ke arah kaum murtad. Fenomena kemurtadan ini dimulai ketika banyak orang mengaku-aku menjadi nabi. Sebagaimana Nabi Muhammad, mereka juga mengaku menerima  wahyu. Mereka karang suatu prosa yang dimirip-miripkan dengan ayat-ayat Alquran. Hanya bentuk lahirnya, sedang isinya tidak ada.

Secara umum Abu Bakr berhasil memerangi  kaum murtad tersebu. Peperangan itu menyita waktu  kurang lebih setahun. Setelah dirasa kaum murtad ini hilang, maka Abu Bakr mulai berpikir untuk meluaskan Islam ke luar jazirah Arab. Yang menjadi pikiran utamanya saat itu adalah Persia dan Romawi.tapi kedua imperium ini bukan merupakan bangsa kecil yang remeh.

Pengumpulan  Alquran

Pekerjaan yang penting selain  mengembalikan kaum pembangkang dan kaum murtad ke jalan yang lurus adalah pengumpulan Alquran, yang waktu itu masih tercerai berai di atas pelepah-pelepah korma atau kulit-kulit onta yang dimiliki secara pribadi. Atau terangkum dibenak para penghapal  Alquran. Maklum, kitab suci itu tidak turun sekaligus, melainkan berangsur-angsur. Terkadang turun satu surat sekaligus. Tapi, tak jarang hanya satu ayat, atau bahkan satu-dua pangkal kata, yang kemudian disuruh Nabi disisipkan di tengah ayat.

Tapi,  para penghapal itu kan bisa wafat. Dan itulah yang terjadi dalam perang Yamamah. Inilah perang yang,  dalam sejarah pemerintahaan Abu Bakr, paling dahsyat dalam memerangi kaum murtad. Tak kurang 1.200 sahabat pilihan telah gugur, 39 di antaranya penghapal Aquran.

Muncul inisiatif Umar untuk menggumpulkan catatan-catatan Aquran. Bagaimana kalau penghapal yang masih ada ikut gugur? Umar mendatangkan Khalifah Abu Bakr untuk mengutarakan usulannya yang jenius ini. Tapi Abu Bakr merasa ragu karena pekerjaan ini belum parnah dilakukan pada masa Rasulullah. Keraguan ini sebenarnya bisa dipahami karena Abu Bakr sebagai pengganti Rasulullah  tidak mau dicap sebagai penyimpang dari garis-garis sunnah Rasulullah.

Akan tetapi setelah didesak terus, Abu Bakr mengiyakan. Keduanya lalu menemui Zaid ibn Tsabit yang ketika Rasulullah hidup menjadi sekretaris peribadinya. Zaid pun tidak dengan serta merta menerima usulan Abu Bakr dan Umar tersebut. Alasannya sama dengan Abu Bakr. Tapi Abu  Bakr berhasil meyakinkan Zaid ibn Tasabit bahwa pengumpulan Aquran ini merupakan pekerjaan yang sangat baik. Akhirnya pengumpulan ini pun dilakukan Zaid ibn Tasabit sampai berjumlah 30 juz, dengan sangat teliti. Dipanggilnya semua orang yang punya catatan. Dan semuanya dicek dan dicek ulang. Sebuah pekerjaan yang besar.

Kepergian Abu Bakr

Masa kepemimpinannya hanya dua tahun, tapi selama itu ia berhasil mempersatukan kembali baik secara teologis maupun politik bangsa Arab yang semula  hendak bercerai-berai. Bahkan ia berhasil melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah yang tadinya menjadi koloni Persia dan Romawi. Ia wafat pada usia 63 tahun dan di kuburkan di samping makam  Rasulullah.

Tentang wafatnya Abu Bakr  ini terdapat banyak versi yang meriwayatkannya. Sebagian berpendapat ia diracun dua orang  Yahudi yang menyimpan dendam. Tapi riwayat paling valid datang dari Aisyah. Menurutnya, awal sakit ayahnya yang menyebabkan wafatnya karena mandi malam pada musim dingin. Sehabis itu, Abu Bakr menderita sakit demam panas sampai 15 hari.

Dalam keadaan sakit itu Abu Bakr menyuruh Umar ibn Khattab untuk mengganti tugas yang selama ini ia lakukan. Tampaknya ini merupakan isyarat tersendiri bagi kepemimpinan Umar pasca-Abu Bakr. Meskipun Abu Bakr sangat tahu keperibadian  Umar, ia tidak memutuskan sekehendak sendiri. Dipanggillah sahabat-sahabat terkemuka untuk dimintai keterangan tentang Umar. Pertama yang dia minta adalah Abdurrahman ibn Auf, dan ia menyatakan persetujuan. Kemudian giliran Utsman dan juga menyatakan setuju. Tapi, Abu Bakr kurang puas atas pendapat kedua sahabatnya itu. Kemudian dia panggil Saad ibn Zaid, Usaid ibn Hudzair, serta beberapa pentolan  sahabat Muhajirin dan Anshar.***

About the author

Dr Phil Syafiq Hasyim MA

Direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP), dan direktur Perpustakaan dan Kebudayaan Universitas Islam Internasional Indonesia. (UII). Pernah menjadi staf peneliti Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)

Tinggalkan Komentar Anda