Hamka

Hidup Menuruti Fitrah

Written by Panji Masyarakat

Allah! Laa ilaha illa huwal haiyul qaiyuum, la ilaaha illallah. Allah, tiada tuhan melainkan Dia, wahdahu  sendiri, tunggal, esa. Itulah yang sesuai dengan fitrah.

Apa itu fitrah? Yaitu kemurnian jiwa kita. Kita mempunyai jiwa yang murni, ada kata hati kita sendiri. Fitrah ialah keinsyafan atas kelemahan diri dihadapan Maha Kuasa dan Maha Perkasa. Banyak perkara yang manusia rencanakan namun tak menjadi kenyataan. Banyak pula perkara yang tak disangka-sangka namun kemudian terjadi. Maka jika fitrah mendapat tuntutan yang baik, itulah yang akan memupuk hingga timbullah dalam jiwa kita agama yang benar. Sebab itu maka agama manusia pada mulanya adalah agama fitrah.

Setelah manusia menerawang, berpikir, merenung, membandingkan, mengukur tentang keberadaan, sampailah dia di ujung perjalanan. Di dinding yang tak lagi tertembus pemahaman. Akhirnya ia menyakini memang Dialah Allah yang mutlak. Dialah puncak idea (kata plato). Dialah Tao yang tidak dapat diberi nama (kata Lao Tse). Menyerahlah manusia dengan segala rela hati. Penyerahan yang demikian dalam bahasa Arab dinamai Islam. Permulaan perjalanan disebut dengan fitrah dan akhir perjalanan disebut dengan Islam.

Sentral dari pada ma’rifat Allah ialah didalam diri sendiri. Yaitu perasaan kelemahan diri dihadapan suatu kekuasaan ghaib yang mengatur dan mentadbirkan alam ini, bahwa saya ini ialah satu diantara makhluk (yang dijadikan). Menurut penyelidikan ahli filsafat, sebelum ada agama apa pun, tegasnya sebelum sampai suatu seruan kepada diri orang yang berakal, telah timbul kata-kata didalam jiwanya sendiri, bahwa memang ada khalik Yang Maha Kuasa yang menjadikan alam ini. Melihat kebesaran alam maka timbulah perasaan bahwa ada yang lebih besar daripadanya. Perasaan itulah yang bernama fitrah.

Tetapi kalau ilmu belum ada, fitrah suci yang baru tumbuh itu, lantaran pengaruh lingkungan, dapat juga tersasar kepada yang lain. Tak ubahnya fitrah itu dengan plat kaca atau plat gambar yang masih bersih, tetapi menjadi kotor setelah disinggung dan bercampur dengan yang lain-lain.

Fitrah manusia merasa adanya Maha kekuasaan-Nya. Tetapi ia tidak tahu jalan. Selama ini disembahnya apa yang ditakutinya dan dipandang berpengaruh. Dipuja ruh nenek moyangnya, atau seorang manusia yang besar jasadnya. Lalu mereka buat patung berhala dengan tangan mereka sendiri, lalu itu mereka sembah. sebab itu merekalah yang menentukan ibadat dan pemujaan, sehingga kepercayaan fitrah yang suci murni itu telah dikotori oleh sesama manusia. Keadaan ini melanjut lagi, sehingga kepala-kepala agama itulah menjadi orang perantara dia antara makhluk dan khalik-nya. Dan ini hanya berlaku apabila jiwa manusia itu tetap dalam kejahilan dan kedunguannya. Syukurlah adanya agama, syukurlah Tuhan mengutus para rasul dan nabi, memberi tuntunan dan jalan keluar bagi pikiran itu. mereka itu memiliki jiwa yang terlatih dari alam ghaib. Jiwa mereka telah berkontrak dengan Zat Yang Maha Tinggi. Dan apa yang telah diterima oleh jiwanya itu disampaikannya pula kepada para manusia.  

Pada dasarnya fitrah manusia senantiasa tunduk kepada Dzat yang hanif (Allah) melalui agama yang disyariatkan kepadanya. Fitrah merupakan anugerah Allah yang telah diberikan-Nya kepada manusia sejak dalam alam rahim. Kemudian akan berkembang setelah manusia lahir dan melakukan serangkaian interaksi dengan lingkungannya.

Nabi Muhammad s.a.w. mengajarkan bahwa seorang bayi dilahirkan ke dunia dalam kesucian. Dan tidak berdosa sama sekali, dia masih suci. Dia dilahirkan dalam keadaan “fitrah”. Fitrah artinya suci murni.

Agama  Islam juga dinamai “agama fitrah”, agama suci murni. Sebab Islam artinya ialah membebaskan diri dari segala pengaruh dan menyerah dengan sukarela kepada Dzat Yang Maha Esa Maha Kuasa, Allah SWT.

Sumber: Ensiklopedia Buya Hamka (2019).

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda