Tafsir

Hari-hari Penuh Maaf

Ditulis oleh Panji Masyarakat

Jiwa, selama tidak diumbar kecenderungan-kecenderungannya, dan selama disembunyikan hal-ihwalnya, akan menjadi kuat. Jiwa yang tenteram dan teguh akan punya kekuatan magnetis, tanpa dia sendiri tahu sebabnya, dan tanpa mengerti apa yang mendorongnya ke dalam penghormatan dan cinta orang kepadanya. Itulah karisma pribadi.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluruh langit dan bumi, disediakan bagi mereka yang takwa: Mereka yang berinfak di dalam kelapangan maupun kesempitan, yang mampu menahan marah, dan yang  memaafkan kesalahan orang. Allah mencintai orang-orang budiman; Mereka yang ‘pabika melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mengingat Allah, lalu memohon ampun untuk dosa-dosa mereka. Dan siapakah yang mengampuni segala dosa kecuali Allah? Sedangkan mereka berlarut-larut dalam perbuatan mereka sementara mereka tahu. Mereka itulah yang balasannya pengampunan dari tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Di sana mereka kekal. Itulah sebaik-baik pahala orang beramal. (Q. 3:133-136).

Ada satu tradisi indah di kalangan kita di Indonesia, dan layaknya juga di negeri-negeri Melayu yang lain, yang kita laksanakan di hari-hari Idul Fitri. Yaitu bermaaf-maafan.

Modal yang paling penting, bagi tindakan bermaaf-maafan, sepanjang dilakukan tidak sekadar basa-basi, adalah–tentu saja–kemampuan memberikan maaf. Sebab, kita tahu, meskipun meminta maaf tidak selalu mudah, umumnya memberi maaf jauh lebih susah. Itulah kiranya mengapa yang disebut dalam ayat di atas (ayat kedua dalam terjemahan) adalah memberi maaf — sampai ke tingkat yang, dalam kasus kesalahan besar, biasanya disebut “ampunan”.

Sebab lain, yang tampak pada kita: umumnya orang yang tidak meminta maaf atas kesalahannya tidak membawa kerugian kepada orang lain; paling-paling malah kerugian bagi dirinya sendiri. Sebaliknya orang yang tidak memberi maaf bisa berbahaya untuk dua jurusan. Kepada orang lain, ia mungkin melakukan pembalasan — dengan segala akibatnya. Dan kepada diri sendiri ia bisa menyebabkan kerusakan — dengan menyimpan dendam, malahan bisa bersama frustasi, kalau ia tak mampu membalas. Dan itu sangat buruk untuk kesehatannya.

Ajaran Allah tentang pemaafan ini tidak berdiri sendiri. Ia, dalam rangkaian seperti yang kita terjemahkan, didahului bagian ayat tentang orang-orang yang berinfak (di jalan Allah, termasuk untuk menolong orang-orang lain) baik dalam keadaan senang maupun susah, diiringi ayat tentang orang-orang yang berusaha menghentikan dosa dan bertobat). Ketiga-tiganya (sang dermawan, orang sabar, dan orang yang bertobat) diletakkan dalam satu rangkaian yang dibuka dan ditutup dengan pernyataan tentang surga. Pembukanya: “surga yang luasnya seluruh langit dan bumi”. Penutupnya: “surga -surga (kebun-kebun, taman-taman) yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”

Tetapi pokok kesemuanya terletak pada ayat tersebut pertama: anjuran untuk lari ke dalam pelukan ampunan Allah dan, dengan demikian, ke dalam surga yang dimiliki orang-orang tersebut. Dalam rangkaian yang lebih besar lagi, anjuran ke arah pengampunan Allah itu pun hanya salah satu dari yang tiga. Yang pertama, tersebut dalam ayat 130 (tidak kita terjemahkan), adalah perintah “jangan memakan riba lipat-berlipat”, bersama dengan pemberian peringatan (ayat 131) kepada ancaman api neraka. Dan yang kedua (ayat 132) adalah perintah mematuhi Allah dan Rasul-Nya (untuk segala hal).

Karisma Pribadi

Ajaran permaafan, dalam ayat kedua di atas, diterakan setelah anjuran menahan marah. Kedua hal itu berbeda — meskipun dalam satu garis. Ungkapan “menahan marah” dalam ayat ini muncul untuk pertama kalinya dalam Quran — dalam bentuk ism fa’il jamak (subjek plural), yakni kaazhimin, berasal dari kazhama. Seseorang dikatakan kaazhim kalau ia orang yang menahan kemarahan di dalam hati, dengan kesabaran, sehingga tidak tampak bekasnya di luar (Abul Qasim Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, I, 464).

Sementara itu seseorang disebut kazhiim atau makzhuum (bentuk objek atau ism maf’ul) kalau dirinya penuh kesedihan dan kedukaan, seperti dalam firman: “Dan putihlah kedua matanya (Ya’qub) lantaran duka, maka ia pun kazhiim“; Q. 12:84 (Ibn Jarir ath-Thabari, Jami’ul Bayan, IV, 93). Tapi juga, kita tambahkan, kalau dirinya penuh amarah. “Maka bersabarlah kepada ketetapan tuhanmu dan jangan menjadi seperti si ‘sahabat paus’ (Yunus), ketika ia berdoa dalam keadaan makzhuum (menahan amarah)” (Q. 68:48). Kunci pengertian menahan marah itu, seperti disebut Zamakhsyari di atas: kemarahan itu “tidak tampak ke luar”–dengan tambahan Razi: “baik dalam omongan maupun perbuatan” (Fakhruddin ar-Razi, At-Tafsirul Kabir, IX,7)

Adapun kata maaf (‘afw, dari akar ‘afaa, pada ayat di atas dalam bentuk ismf fai’il jamak–‘aafiina), dalam konteks ajaran umum tentang perilaku pemaaf yang diharapkan menjadi sifat kita, di sini muncul untuk pertama kalinya dalam Alquran. Sebelumnya ia memang telah disebut sembila kali, dalam berbagai bentuk tasrif, tapi dalam kaitan-kaitan lain atau dalma kasus-kasus khusus: dua kali dalam arti maaf dari Allah (Q. 2:52 dan 2:187), satu kali dalam kasus hubungan dengan pemeluk agama lain (Q. 2:109), masing-masing sekali dalam masalah denda diat (Q. 2:178), dalam arti kelebihan rezeki yang diinfakkan (Q. 2:286), dan tiga kali–kalimat doa (Q. 2:286), dan tiga kali–dalam satu ayat–dalam keringanan sehubungan dengan pembayaran (sisa) maskawin dalam kasus perceraian (Q. 2:237). Permaafan itu, seperti diterangkan Thabari, adalah “kerelaan untuk tidak menghukum seseorang lantaran kesalahannya, padahal yang bersangkutan mampu melakukan pembalasan itu” (Thabari, loc.cit.). Kita pahami, maaf itu datang setelah kemampuan menahan marah.

Razi, dalam pada itu, menyebut kemungkinan sebab turun ayat ini. Yakni, kemurkaan Nabi s.a.w. atas perlakuan para musyrik Mekah yang (dalam Perang Badar) memotong-motong mayat paman beliau, Hamzah ibn Abdil Muthallib. Nabi berkata, “Aku akan membuat mutslah dengan mayat mereka.” Mutslah adalah mayat yang dipotong-potong (tangan dan kakinya, misalnya sebagai barang mainan. Maka Allah pun menganjurkan menyimpan amarah itu, bersabar dan menahan diri dari berbuat hal yang sama.

Berkata Al-Qaffal: ayat ini juga bisa merujuk kepada cercaan Allah terhadap perbuatan kaum musyrik dalam hal memakan riba yang (dalam ayat 130) dinyatakan dilarang bagi kaum mukmin. Sebagai kebalikannya, Allah mengajak “memberi maaf” kepada mereka yang sedang dalam kesempitan (sehingga belum bisa mengembalikan utang). Firman-Nya, dalam Q. 2:280: “Dan jika ia mempunyai kesulitan maka menunggu sampai keadaan gampang. Adapun jika kalian berderma, itu baik bagi kalian kalau saja kalian tahu. “Maka “maaf” di sini (al-afw) berarti pemberian kelonggaran, yang (diharapkan) tidak disertai rasa marah. Juga bisa merujuk ke masalah diat (tebusan untuk pembunuhan): “Maka barangsiapa mendapat suatu permaafan dari saudaranya (tidak dihukum bunuh), hendaklah (yang memaafkan) mengikuti (aturan) dengan baik dan (yang dimaafkan) membayar diat kepadanya dengan baik” (Q. 2:178). (Lihat Razi, op.cit., 8). Begitulah Al-Qaffal mengembalikan ayat ini ke dalam rangkaian besar yang sudah kita sebut.

Syahdan. Jiwa, selama tidak diumbar kecenderungan-kecenderungannya, dan selama disembunyikan hal-ihwalnya, akan menjadi teguh. Orang yang kuat-kemauan, yang bisa melangsungkan kehendaknya, bukanlah orang yang memperlihatkan taring-taringnya dan memandang dengan wajah murka. Yang demikian ini justru menghilangkan kekuatannya — sehingga kalau berhadapan dengan seseorang yang tenang dan percaya diri, ia segera kalah. Jiwa yang tenteram dan teguh akan punya kekuatan magnetis, tanpa dia sendiri tahu sebabnya, dan tanpa mengerti apa yang mendorongnya ke dalam penghormatan dan cinta orang kepadanya. Itulah karisma pribadi. Maka lihatlah bagaimana Allah memuji mereka “yang mampu menahan marah, dan yang memaafkan kesalahan orang. Allah mencintai orang-orang budiman” lihat Thanthawi Jauhari, Al-Jawahir, II, 889)

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang antara lain menerjemahkan Barjanzi yang dipentaskan Bengkel Teater ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Sumber : Majalah Panji Masyarakat, 9 Februari 1998.

.

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda