Tasawuf

Semoga Bukan Tsunami Yang Datang Setelah Gempa

Anis Sholeh Ba'asyin
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

“Manusia memang gampang menyesuaikan diri…” ujar Mastur setelah agak lama kami berdiam diri. Saya jelas tidak berani memulai pembicaraan apapun, setelah guyuran pendapat yang ngedap-edapi dan sangat mengguncang dari si kembar ini.

“Beradaptasi dengan apapun….” sambung Masturi seperti biasa.

“Sebenarnya kemampuan beradaptasi ini anugerah juga, cuma seperti semua anugerah lain, sekaligus bisa juga berbahaya bila salah tempat…”

“Contoh kecil saja, setiap manusia pasti pernah, bahkan bukan cuma sekali dua, mengalami situasi batas…”

“Dimana semua jalan seolah tertutup, semua teori seolah mandek, semua cara seolah tumpul, semua upaya seolah sia-sia, semua kebiasaan yang selama ini diyakini sebagai kewajaran tiba-tiba menghambat…”

“Seolah dikepung tembok tinggi dari segala arah, menghadap kemanapun yang ketemu tembok yang seolah tak tertembus…”

“Lantas kita mendekat pada Allah. Bergantung pada Allah sepenuhnya. Tak lagi mengandalkan apapun kecuali Allah, tak lagi mengharap pada siapapun kecuali Allah…”

“Kita beribadah bukan cuma yang wajib, yang sunnah pun sebisa-bisa kita jalankan semua…”

“Tiba-tiba kita merasa begitu dekat dengan Allah. Kita begitu yakin bahwa tak ada yang terjadi kecuali kehendak Allah. Bahwa semua yang dikehendaki Allah pasti baik adanya…”

“Kita juga begitu yakin, apapun yang memang jatah kita pasti tak akan salah sasaran, dan apapun yang memang tidak diperuntukkan bagi kita tak akan teraih…”

“Dan kemudian, secara ajaib, tiba-tiba datang jalan keluar. Tembok-tembok yang mengepung kita tiba-tiba sirna, semua terasa lapang dan masalah kita teratasi…”

“Itu semacam ‘kilat yang menyambar’ dan membuat kita bisa berjalan…”

“Tapi dari waktu ke waktu, bersamaan dengan menghilangnya situasi batas tersebut, ibadah kita seperti kehilangan tenaga pendorong…”

“Dan apa yang semula kita anggap sebagai jalan keluar yang ajaib, semakin lama semakin kita rasakan sebagai sesuatu yang sudah seharusnya, biasa, alamiah…”

“Dan kita pun kembali ke kebiasaan lama, tak lagi melihat Allah sebagai segalanya, sebagai tempat bergantung, sebagai penentu bagi apapun…”

“Kita malah bahagia dengan kondisi yang kita anggap alamiah…”

“Karena merasa semua bisa ditangani dengan pengetahuan yang kita miliki…”

“Kita kembali menyunggi-nyunggi mendung, dan menjauhi bertatap langsung dengan langit, dengan matahari…”

“Menyangka bahwa berkat mendunglah semua masalah hidup kita terlaksana dengan baik dan tertata…”

“Tanpa sekalipun melihat bahwa sebenarnya kita sedang ditipu dan dipenjara olehnya…”

“Padahal kunci hidup di dunia itu cuma satu: jangan pernah mapan dalam apa saja, karena dunia hanya tempat lewat yang fana…”

“Sementara sebagian besar kita justru merasa aman dalam kemapanan…”

“Ini keamanan khayali, palsu, yang sangat berbahaya baik bagi manusia sebagai pribadi mau pun sebagai masyarakat dengan lembaga-lembaganya…”

Saya sungguh merasa dua saudara kembar ini sedang menyindir dan menguliti saya habis-habisan. Lagi-lagi saya hanya bisa menunduk. Kawan-kawan di gotha’an cuma melongo, entah kagum entah bingung. Angin malam yang menerobos masuk lewat pintu, tidak mampu menyejukkan hati saya yang bergolak.

“Pertanyaannya: apakah situasi macam ini hanya berlaku bagi orang yang beriman atau berlaku bagi semua orang?”

“Jawabannya: pasti bagi semua orang. Bedanya, orang beriman umumnya akan mengembalikan ini semua pada Allah; sementara yang tidak beriman akan menyebutnya sebagai hukum alam, kebetulan, nasib baik dan seterusnya…”

“Pertanyaan berikutnya adalah: apakah situasi semacam ini hanya terjadi secara individual atau juga menimpa secara sosial?”

“Apakah bersangkut paut hanya dengan pengalaman perseorangan atau juga dialami oleh budaya dan peradaban? Oleh bangsa, oleh negara, oleh tatanan dunia?”

“Jawabannya, pasti juga terjadi di semua tingkat dan level budaya, peradaban; bangsa, negara dan dunia…”

“Hari-hari ini kita bahkan bukan cuma sedang menyaksikannya, tapi malah sedang berada di dalamnya…”

“Landasan peradaban kita sedang diguncang oleh virus yang mata pun tak bisa melihat saking kecilnya…”

“Gempa yang diciptakannya membuat semua kebingungan mencari pegangan…”

“Semua yang sebelumnya dianggap pegangan, hari ini tak ada gunanya…”

“Lucu juga membayangkan, betapa kisah peradaban kita jadi mirip cerita anak-anak tentang gajah yang kelimpungan dan ambruk dikalahkan binatang kecil bernama semut. Dan kenyataannya, peradaban yang jauh lebih raksasa dibanding gajah ini, justru kelimpungan dengan mahluk yang jutaan kali lebih kecil dari semut…”

“Apakah dalam tataran budaya dan peradaban para pemangkunya bisa memperoleh kesadaran serupa? Pasti hanya yang beriman yang bisa menyadari dan menghubungkannya dengan Allah…”

“Celakanya, karena yang beriman sendiri cenderung untuk terus ikut menyesuaikan diri, beradaptasi; maka akhirnya malah sibuk mengabadikan penjara dan ikut menyunggi-nyungginya pula…”

“Bahkan, anehnya, ikut-ikutan takut untuk merdeka darinya…”

“Kadang malah ikut ramai-ramai menyerang yang mencoba merdeka…”

“Rasa-rasanya hari ini kita malah terus asyik masyuk dengan itu semua…”

“Yang kami sungguh-sungguh khawatir, ketika semua orang konsentrasi menghadapi gempa dan akibatnya; tiba-tiba tsunami datang menyapu…”

“Semoga Allah masih menyayangi kita yang pandirnya hampir tak tertolong ini…”

“Dan masih berkenan melindungi dan menyelamatkan kita semua…”

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda