Bintang Zaman

Seri Sahabat Nabi : Abu Bakr Menghidupkan Kembali Makna Kebijakaan (2)

Ketika para pemuda Mekah itu tiba di depan Gua Tsur, Abu Bakr a merapatkan badannya ke  tubuh Rasulullah sambil menggigil. Bukan, sekali lagi,bukan jiwanya yang dia takutkan bakal melayang, jika sampai tertangkap, tapi jiwa Nabi, kelanjutan perjuangan beliau.

Yang Paling Dini

Karena persahabataan yang demikian kental, orang yang pertama kali diberi tahu  Nabi tentang penggangkataan dirinya sebagai rasul, setelah Khdijah tentu saja, adalah Abu Bakr. Dan Abu Bakr, yang sudah mengenal betul kejujuran Muhammad dan otaknya yang cerdas  tidak betah lagi melihat kesesatan pada keyakinan dan perilaku kaumnya, segera menyambutnya dengan antusias. Ia langsung masuk Islam tanpa reserve. Konon, karena itulah ia di namakan Abu Bakr (bakr berarti pagi-pagi, atau yang paling dini masuk Islam).

Sahabat Ali r.a. sendiri, dalam riwayat Ibnu sakir dari Harits, mengakui Abu Bakr sebagai lelaki pertama yang masuk Islam. Pengakuaan ini sekaligus menyibak  teka-teki bagi kalangan Syi’ah yang mengganggap Ali sebagai laki-laki pertama yang masuk Islam.

Tidak cuma untuk dirinya, Abu Bakr juga mengajak kawan-kawan dekatnya untuk masuk Islam. Di antara mereka, ada yang menyebutnya dengan atusias pula, yaitu, Utsman ibn  affan,zubair,Abdurrahman ibn Auf, Sa’d ibn Abi Waqqash, dan Tahalhah, orang-orang yang kelak menjadi sahabat-sahabat terdekat Rasulullah dan disebut Alquran sebagai “assabiguna awwalun”, generasi  pertama yang masuk islam.

Sejak masuk islam Abu Bakr “pasang badan” ’untuk Nabi Muhammad. Berkali-kali ia membela beliau hendak disakiti atau dicemooh orang kafir.  Selanjutnya ketika hijrah ke Madinah, ia menyertai, dan ketika Rasulullah wafaat, Abu Bakr menuggui. Aalhasil, ia selalu menemani Rasulullah dari masuk Islam sampai wafatnya.

Tidak hanya dengan diri, ia juga berkorban dengan hartanya. Tak  kurang 40.000 dirham sudah dia keluarkan a untuk kepentingan Islam. Di antaranya untuk membebaskan budak-budak yang teraniyaya karena memeluk agama Islam, Termasuk Bilal, dan mengentaskan kaum lemah lainnya.

Diminta Rasulullah Menemani Hijrah

Ketika Nabi Muhammad memutuskan untuk hijrah ke Madinah (waktu itu bernama Yatsrib), beliau minta Abu Bakr menemaninya. Yang terakhir ini tidak merasa keberatan sama sekali. Bahkan merasa mendapatkan kehormataan besar. Padahal, itulah perjalanan yang paling berbahaya.

Waktu itu perlawanan kaum kafir Mekah terhadap perjuangaan Nabi sedang mencapai puncaknya. Mereka pun tahu, sudah banyak orang Islam yang pindah ke kota itu, atas izin Nabi, Jadi, kali ini mereka tak hendak membiarkan beliau keluar dari Kota Mekah. Malam itu sejumlah pemuda kafir dikerahkan untuk mengepung rumah Nabi.

Mereka boleh punya siasat, makar, tapi Allah adalah sebaik-baik pemakar. Diam-diam Nabi sudah berhasil keluar rumah dari pintu belakang tanpa mereka ketahui, lantas pergi bersama  Abu Bakr dengan menaiki onta yang di sediakan sahabatnya itu. Sementara itu, para pengepung masih mengira, beliau tidur pulas, padahal yang berbaring di tempat tidur beliau adalah Ali, keponakan beliau, yang sengaja beliau suruh menggantikan tempatnya.

Kala mereka menyadari siapa sebenarnya  yang tidur itu, mulailah drama pengejaran.Tiba di Gua Tsur, Abu Bakr lebih dulu masuk untuk melihat barangkali ada kalajengking, ular, atau ibnatang berbisa lainnya yang bisa membahayakan jiwa Nabi. Setelah dirasanya aman dan dibersihkannya tempat itu, beliau dipersilakannya masuk. Bukan jiwanya sendiri yang jadi pikiran Abu Bakr, tapi jiwa Nabi. Dan ketika para pemuda Mekah itu tiba di depan gua, ia merapatkan badannya ke  tubuh Rasulullah sambil menggigil. Bukan, sekali lagi,bukan jiwanya yang dia takutkan bakal melayang, jika sampai tertangkap, tapi jiwa Nabi, kelanjutan perjuangan beliau.

Hijrah telah menjadi titik bagi permulaan babak baru dalam perjuangan Islam. Di Madinah Nabi membawa peradaban, membangun masyarakat, dan membangun negara. Sebuah peradaban baru yag maju (madani), yang mengutamakan hidup berdampingan secara damai antarberbagai kelompok —  etnis dan bahkan agama. Di Madinah Nabi menjaring sukses demi sukses. Dan dari madinah beliau berhasil menaklukkan kota Mekah.

Bersambung

About the author

Dr Phil Syafiq Hasyim MA

Direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP), dan direktur Perpustakaan dan Kebudayaan Universitas Islam Internasional Indonesia. (UII). Pernah menjadi staf peneliti Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)

Tinggalkan Komentar Anda