Tafsir

Ayat-ayat Lailatulkadar (3): Penafsiran Kontemporer

Ditulis oleh Panji Masyarakat

Buya Hamka,  mengutip Ibn Hajar Al-Asqalani  (Fathul Bari)  yang mengetengahkan pendapat sebagian ulama, menyatakan  bahwa Lailatulkadar yang sebenarnya hanyalah sekali. Yakni ketika Alquran pertama kali diturunkan. Adapun selebihnya adalah malam peringatan, untuk memperteguh ingatan kita.

Sesungguhnya Kami turunkan dia pada Malam Kemuliaan. Dari mana kau tahu apakah Malam Kemuliaan? Malam Kemuliaan lebih bagus dari seribu bulan (Q.97: 1-3).

Adapun tafsir aliran baru itu bisa diberi contoh pertama kali dari yang sezaman: Al-Manar Rasyid Ridha dan tafsir Al-Qasimi (1866-1914). Bagi Rasyid Ridha, anggapan bahwa Alquran diturunkan seutuhnya dari Lauh Mahfuzh ke ‘langit dunia’,  kemudian baru diturunkan berangsur-angsur, mengimplikasikan kesimpulan bahwa di bulan Ramadan yang dimaksudkan itu tidak ada ayat yang turun kepada Nabi. “Lalu tidak menjadi jelas hikmah dijadikannya Ramadan bulan puasa……. Tidak menjadi jelas faedah penurunan Quran itu (ke “langit dunia”, jauh di sana), bahkan faedah pemberitaannya sendiri.”

Berkata Muhammad Abduh: “Tidak ada yang sahih dari semua pendapat dari riwayat itu. “Termasuk juga hadis Wa’ilah yang marfu’,  dalam Musnad Ahmad, Thabari dan lain-lain (Rasyid, Al-Manar, II, 161).

Karena itulah Al-Qasimi mengartikan ayat pertama di atas sebagai “Kami turunkan Alquran ke dalam kalbu Khatamin Nabiyyin, Nabi Penutup” (Al-Qasimi, Mahasinut Ta’wil, XVII, 215). Itulah hal yang juga dikatakan oleh Saiyid Quthb (Fi Zhilalil Quran, VI, 2944). Sedangkan mengenai Lailatulkadar sebagai malam takdir, pengertian itu bisa diterima hanya sehubungan dengan kenyataan “dimulainya oleh Allah penakdiran agama-Nya dan penggarisan khitah untuk nabi-Nya” (Qasimi, loc, cit). Atau, dalam bahasa tafsir Malik Ghulam Farid (meski yang ini dari Ahmadiyah Qadiani), “Alquran diturunkan saat nasib manusia  ditakdirkan, pola alam semesta masa mendatang ditetapkan, asas-asas petunjuk diletakkan untuk sepanjang masa.” (Al-Quran dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat, III, 745). Dan itulah keagungan malam itu, yang menjadikannya “lebih bagus dari seribu bulan” — yakni dari ribuan dan ribuan bulan yang telah berlalu pada umat-umat yang hidup di dalam gelap (Qasimi, op, cit., 216).

Masalahnya lalu menjadi semacam metafora. Seperti bila Saiyid Quthb mengartikan Lailutulkadar sebagai “malam hubungan mutlak antara bumi dan Al-mala-ul A’la “alam malaikat” (Quthb, loc, cit.). Atau bila The Holy Koran Maulvi Muhammad Ali (yang ini dari Ahmadiyah Lahore) menganggap “zaman kedatangan seoranng rasul selalu bisa diibaratkan dengan Lailatulkadar” (Quran Suci Jarwa Jawi ‘dalah Tafsiripun, III, 1689). Abdallah Yousuf Ali, dalam pada itu, mengajak memahami surah ini dalam sense mistis. “Seribu bulan” itu, misalnya, tidaklah merujuk pada ide tentang waktu angyang di luar waktu “ (The Glorious Kur’an, 1765n).

Tidak berarti Lailatulkadar hanya sebuah ide abstrak. Dalam dimensi praksis agama, Thanthawi Jauhari bahkan menganggap surat ini (Al-Qadr) “untuk menyangatkan anjuran amal ibadah.”  Yakni pada seluruh Ramadan, khususnya, dan khususnya lagi, meneladan Nabi, pada sepuluh malamnya yang terakhir (Thanthawi, Al-Jawahir,XXVI, 251-252). Tentu saja dengan menyadari bahwa  anggapan terjadi banyak hal ajaib di malam Lailatulkadar sebenarnya “tidak dapat dipertanggungjawabkan” (Hamka, Al-Azhar, XXX, 227; Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran, 314). Hamka malahan mengutip Ibn Hajar (Fathul Bari), yang mengetangahkan pendapat sebagian ulama bahwa Lailatulkadar yang  sebenarnya hanyalah sekali. Yakni ketika Al-Quran pertama kali diturunkan. Adapun selebihnya adalah malam peringatan, “untuk memperteguh ingatan kita” (Hamka, loc, cit).

Yang terakhir itu tidak sama dengan pendapat Quraish Shihab (loc.,cit). Tapi lebih-lebih dengan keyakinan Syi’ah (Thabathabai, loc, cit, 470). Masalah antara lain, pada yang kedua itu, riwayat tentang kekhusuan Lailatulkadar—termasuk perulangannya setiap tahun—juga datang dari para tokoh yang mereka junjung sebagai imam-imam, yang kata-katanya bagi mereka adalah hadis, seperti juga sabda Nabi s.a.w. Keterkaitan seperti dari apakah penafsiran kontemporer selalu benar.

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang antara lain menerjemahkan Barjanzi yang dipentaskan Bengkel Teater ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)  Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 26 Januari 1998

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda