Ramadan

Itqun Min An-Nar

Anis Sholeh Ba'asyin
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Kalau disini kita bicara tentang api, itu karena kita telah memasuki sepertiga akhir Ramadhan. Sepertiga akhir, yang oleh sebagian sumber, konon disebut oleh Rasul sebagai tahap itqun min an-nar.

Kalimat ini biasanya diterjemahkan sebagai: pembebasan dari api neraka. Meski nar sering dipakai dalam pengertian api neraka atau neraka saja, ada baiknya kalau disini kita memakai pengertian harfiah nar sebagai api, sehingga itqun min an-nar bisa dibaca sebagai ‘pembebasan dari api’.

Alasannya sederhana: bila nar dipakai dalam pengertian api neraka, orang akan segera mengasosiasikannya dengan hal-hal yang nun jauh disana, belum terjadi atau masa nanti; karena neraka memang dihubungkan dengan hal-hal tersebut. Sedang kalau nar kita pakai dalam pengertian harfiahnya, yaitu api, kita tidak saja bisa menghubungkannya dengan pengertian tersebut di atas, tapi juga dengan hal-hal yang dekat-disini-aktual dan masa kini.  

Kalau kita pakai perspektif ini, kita akan bisa melihat implikasi-implikasi pengertian api -dan juga energi yang dihasilkannya- secara lebih luas. Paling tidak, dari sisi ini kita misalnya akan bisa melihat: berbeda dengan penggunaan energi api di alam yang dampak negatifnya tak bisa langsung dirasakan; tidak demikian halnya penggunaan energi api dalam diri manusia. Energi api dianggap punya pengaruh negatif yang signifikan dan langsung -paling tidak- bagi perkembangan ruhani manusia.

Agar lebih jelas, sebaiknya kita tinjau masalah ini dari sisi sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam “Iblis merasuki diri manusia lewat aliran darah”. Kita tahu, darah adalah sumber energi bagi manusia (salah satu pengertian dasar nafs juga dikaitkan dengan darah). Sementara darah sendiri adalah bentuk ekstraksi dari makanan yang kita konsumsi. Artinya energi muncul dari makanan yang kita konsumsi.

Nah, dengan demikian salah satu pengertian yang bisa kita ambil dari hadits ini adalah: salah satu jalan masuk Iblis mempengaruhi manusia adalah lewat makanan yang dia konsumsi; makanan yang kemudian diolah dan diekstraksi menjadi darah. Ada banyak kategori yang sebenarnya bisa dipakai untuk menentukan jenis-proses-bentuk konsumsi makanan yang bisa mengundang Iblis untuk ikut masuk menyertainya. Tapi tentu saja yang paling utama untuk disebut disini adalah makanan yang haram (baik bendanya, asal-usulnya maupun  proses mendapatkannya); atau paling tidak -seperti banyak diungkapkan kalangan ulama- adalah kategori makanan yang halal tapi dikonsumsi secara berlebihan.

Nah, karena Iblis adalah unsur api -dia berasal dari rumpun jin yang diciptakan dari inti api- maka bila kita mengkonsumsi makanan haram (atau yang halal tapi berlebihan seperti disebut di atas), kita akan mendapatkan energi dari api. Energi inilah yang pada gilirannya akan mendorong kita pada keburukan, atau kalau memakai bahasa teknisnya: an-nafsun ammarah bi su’.

Dalam perspektif ini, kita bisa membaca pembebasan dari api (itqun min an-nar) paling tidak pada langkah awalnya yang paling elementer adalah langkah pembebasan dari an-nafsun ammarah bi su’, kategori nafsu yang paling rendah yang dimiliki manusia.  

Puasa sebenarnya telah mendidik dan mengkondisikan kita untuk menahan diri, bahkan untuk hal-hal yang halal sekalipun. Tujuannya tentu agar pada puncak puasa ramadhan, kita bisa sekaligus terbebas dari energi api, sambil bersama itu membiasakan hidup dengan sumber energi lainnya, sumber energi yang sebenarnya lebih kuat dan lebih hakiki bagi manusia yakni cahaya (nur). Energi yang langsung datang dari Allah sendiri dan para malaikatNya.

Energi cahaya ini akan muncul bila kita tidak mengkonsumsi yang haram dan membatasi konsumsi meski halal. Energi inilah yang setahap demi setahap akan mengantar kita melewati stasiun an-nafsun lawwamah (dalam konteks ini: kekuatan tarik menarik antara kecenderungan langit dan bumi) menuju stasiun an-nafsun muthma’inah (dalam konteks ini: kekuatan yang memberi ketenangan).

Bahkan, menurut para sufi, semakin kita membatasi konsumsi, semakin besar pula kita memperoleh energi cahaya dalam hidup kita. Dalam kondisi ekstrimnya adalah apa yang pernah diungkapkan oleh Rasul “Aku memperoleh makanan dari sisi Tuhanku!”.

Tak mengherankan bila Rasul pernah mengatakan bahwa ‘puasa adalah benteng’ dan Imam Junaid menyebut puasa bermuatan ‘setengahnya thariqah’. Paling tidak puasa bisa membentengi kita dari api, baik di dunia maupun akhirat; dan mengantarkan kita untuk siap menyelami samudra kebenaran dengan berbekal kekuatan cahaya yang telah kita miliki.

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda