Bintang Zaman

Seri Sahabat Nabi: Abu Bakr Menghidupkan Kembali Makna Kebijakan (1)

Nabi punya kesan yang mendalam terhadap Abu Bakr, yang  disebutnya “saudaraku dan dan sahabatku”. Ia membuktikan dirinya sebagai orang yang sangat loyal kepada  Nabi, dalam arti harfiah, terhadap segala titah dan apa yang sudah jadi keputusannya.

Sungguh, orang yang paling dermawan kepadaku dengan harta dan persahabataannya adalah Abu Bakr. Kalaulah aku harus mengambil seorang khalil (sebutan yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim – “khalilullah” — yang berarti ‘kekasih’  atau ‘orang pilihan’), maka pasti aku pilih Abu Bakr sebagai khalil,” sabda Nabi seperti diriwayatkan Imam Muslim, dari Abu Said Al-Khudri dan Abdullah ibn Mas’ud.

Nabi Muhammad s.a.w. — tanpa mengurangi keyakinan bahwa beliau sangat dekat dengan seluruh sahabatnya dan suka sekali menyenangkan orang lain sehingga setiap orang merasa paling  dicintai — memang amat terkesan dengan Abu Bakr. “Dia adalah saudaraku dan sahabatku,” lanjut Nabi.

Inilah orang yang paling dekat dengan Nabi. Seorang teman sejati, yang paling setia dalam suka dan duka.Yang selalu siap membela dan membenarkan beliau kala tantangan menerpa. Yang menemani beliau —  berdua saja — pergi hijrah ke Madinah — berdua saja menghadang tantangan alam dan menantang maut, dikejar oleh orang-orang kafir Mekah dengan nafsu membunuh. Sehingga Allah mengabadikannya, mengabadikan peristiwa dan pertemanan yang begitu mengesankan itu, dalam Alquran, “Jika kalian tidak menolongnya (Muhammad), maka sungguh Allah sudah menolongnya ketika orang-orang kafir mengeluarkannya (dari Mekah), sedang dia salah satu dari dua orang  (itsnain), ketika mereka berada di dalam gua saat ia berkata kepada temaNnya, ‘Jangan takut, Allah beserta kita’…” (Q.9:40). “He Abu Bakr, tahukah kamu maksud ’kedua orang’ (itsnain)?” tanya Nabi suatu kali mengenai kata-kata dalam ayat itu.Tanpa menunggu jawaban, Nabi melanjutkan sendiri ucapannya, “Allah menjadi pihak ketiga (dengan pertolongannya).”

Seorang yang,  tampaknya, paling paham dengan Nabi, dengan ajarannya, sehingga kelak ia menggantikannya.  Ia membuktikan dirinya sebagai orang yang sangat loyal, dalam arti harfiah, terhadap segala titah dan apa yang sudah jadi keputusannya. Seorang yang paling tahu, dan yakin, dengan kejujuran Nabi sehingga ketika semua orang mendustakan cerita Nabi mengenai Isra Mikraj, dia tampil sebagai orang yang pertama kali membenarkanya. Tanpa reserve.

Abu Bakr lahir kira-kira dua atau tiga tahun setelah kelahiran Nabi. Ayahnya bernama Abu Quhafah Utsman ibin Amir yang berasal dari  klan Taym dari suku Quraisy. Abu Bakr sering di sebut dengan Ibnu Abi Quhafah. Ibu Abu Bakr bernama Ummul Khair Salama binti Shakhr. Nenek moyang Abu Bakr dan Rasullah bertemu pada Adnan.

Sebelum masuk islam Abu Bakr mempunyai julukan abdul ka’bah.Tapi,oleh Rasullah, nama yang berbau jahiliyah ini kemudian di gantinya dengan nama yang islami, Abdullah,setelah ia masuk islam.

Ketika Abu Bakr tumbuh remaja dan menginjak dewasa ia mendapat satu julukan lagi, yakni       al-atiq (terbebas), artinya terlepas dari kematian karena saudara -saudara lelakinya mati ketika kecil. Masih ada julukan lain dan ini paling terkenal, ash-shidiq (yang membenarkan). Julukan ini muncul karena dialah orang dari kalangan dewasa yang pertama kali meyakini kebenaran kerasulan Nabi Muhammad. Menurut Mas’ad ibn Jubair julukan ini merupakan kesepakatan  umat atas kejujuran Abu Bakr.

Tidak banyak yang diungkap ahli sejarah mengenai masa kecil dan remaja Abu Bakr. Orang hanya tau, dia berasal dari keluarga pedagang kaya yang tinggal di daerah’’elite’’kaum pedagang Quraisy di Mekah. Khadijah  binti Khuwailid, istri pertama Muhammad yang juga saudagar kaya, tinggal di daerah itu, tak jauh dari rumah Abu Bakr.

Meski usianya hampir sebaya, ketika masih kecil Abu Bakr  belum menjalin hubungan persahabataan dengan Muhammad. Baru setelah Nabi  menikah dengan Khadijah, pada usia 25 tahun, mereka mulai saling kenal dengan baik. Itu pun, kata sebagian ahli sejarah, lebih banyak terbatas pada hubungan ketetanggaan. Kebetulan, ada kecocokan antara kedua hamba Allah yang mulia ini: mereka sama-sama cerdas, punya ketenangan jiwa, tapi juga sama-sama memiliki jiwa reformatif terhadap adat istiadat dan teologi suku Quraisy yang menyesatkan. Tapi, menurut sebagian ahli sejarah lainnya, hubungan yang sangat akrab sudah terjalin jauh hari sebelum kenabian.begitu eratnya hubungan mereka sehingga ketika Khadijah meninggal dunia, Nabi meminang Aisyah, putri  Abu Bakr. Bersambung

About the author

Dr Phil Syafiq Hasyim MA

Direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP), dan direktur Perpustakaan dan Kebudayaan Universitas Islam Internasional Indonesia. (UII). Pernah menjadi staf peneliti Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)

Tinggalkan Komentar Anda