Tafsir

Ayat-ayat Puasa (10): Sepertinya Ramadan Itu Nama Allah

Ditulis oleh Panji Masyarakat

Mengapa hanya ada satu nama bulan di dalam Alquran, yakni Ramadan? Orang-orang dahulu mengoper nama-nama bulan dari bahasa-bahasa kuno berdasarkan cuaca atau adat istiadat, seperti perang.

Bulan Ramadan, yang di dalamnya diturunkan Al-Quran…..(Q. 2:185).

Adapun Mujahid tidak suka menyebut Ramadan hanya dengan ‘ramadan’.   Alasannya: “Sepertinya dia itu salah satu nama Allah Jadi,”  katanya, “kita menyebut, seperti Allah sendiri menyebut, ‘bulan ramadan’.” (Thabari, loc, cit). Sikap Mujahid itu diperjelas Razi dengan menukilkan kelanjutan kata-katanya, bahwa arti ‘bulan Ramadan’ dengan demikian ‘bulan Allah’. Berikutnya, sabda Nabi: “Jangan kamu berkata, ‘Sudah datang bulan Ramadan’, ‘sudah pergi bulan Ramadan’, karena Ramadan itu salah satu nama Allah Ta’ala.” (Razi, op, cit., 89).

Tapi, bukankah terdapat hadis-hadis yang menyebut hanya ‘ramadan’ tanpa didahului ‘bulan’? Salah satunya: “Barangsiapa berpuasa Ramadan (man shaama ramadhaana) karena iman dan perhitungan baik; diampuni dosa-dosanya (menurut para ulama: dosa-dosa kecil) yang sudah diperbuatnya.” Mengenai hadis ini, keterangan Zamakhsyari: tidak disebutnya ‘bulan’ di situ “termasuk bab penghapusan” (min babil ‘hadzf; Zamakhsyari, loc., cit), salah satu dalam tata kalimat Arab. Pengarang Kasysyaf ini tidak menghubungkan kasus itu dengan kontroversi mengenai apakah ramadhan nama Allah. Hanya kita pahami, ‘bulan’ di situ dihilangkan karena, tentunya, sudah diketahui bahwa Ramadan yang dimaksudkan sama sekali bukan Allah. Dengan ‘puasa Ramadan’, pengertinya tentu saja menyangkut bulan. Berbeda dengan bila ‘ramadan’ diucapkan sehubungan dengan kata kerja, seperti “Sudah datang Ramadan”, yang bisa saja memberi, kesan bahwa yang datang tak lain Allah.

Nah, jika benar bahwa Ramadan salah satu nama Allah, atau kalau ‘bulan Ramadan’ memang berarti, seperti kata Mujahid, ‘bulan Allah’, maka itu satu pengakuan yang lebih menunjukan lagi kebesaran bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran dan mengandung syariat puasa ini. Bukankah karena itu pula, kiranya, Ramadan merupakan satu-satunya bulan yang namanya disebut dalam Alquran? Adapun Razi menghubungkan kemungkinan Ramadan sebagai nama Allah itu dengan masalah pengampunan di bulan itu. Katanya, “Jika sah kata-kata mereka bahwa Ramadan adalah nama Allah Ta’ala, sedangkan bulan ini juga diberi nama itu, maka maknanya ialah bahwa dosa-dosa saling memusnahkan di sisi rahmat Allah, sehingga seakan-akan terbakar.” Dan, “bahwa bulan ini juga Ramadan (Razi tidak menyebut ‘bulan Ramadan’), artinya ialah bahwa dosa-dosa terbakar di sisi berkat-Nya.” (Razi, op, cit. 90).

Kelihatan logis. Bahkan di kalangan Syi’ah, Thabathabai juga menyinggung adanya riwayat-riwayat (akhbar) yang menganggap Ramadan salah satu nama Allah. Thabathbai sendiri menolaknya. Alasannya: riwayat seperti itu hanya sebuah, dan aneh (gharib) di bidagnya. Sebab, tidak satu pun dari seluruh riwayat yang memuat nama-nama Allah yang menyertakan ramadhan itu. Di segi lain, terdapat banyak sekali riwayat dengan penyebutan ‘ramadan’ tanpa pengaitannya dengan ‘buln’, bahkan penyebutan ‘dua ramadan’ (ramadhaanaani). (Husain Thabatabai, Al-Mizan fi Tafsiril Quran, II, 24). 

Sanggahan Orang Kordoba. 

Adapun yang membantahnya berdasarkan penelitian hadis lebih langsung, bukan berdasarkan jalan pikiran, adalah Abu Abdillah Al-Qurthubi. Katanya, tidak benar kita tidak diseyogiakan menyebut ‘ramadan’  tanpa ‘bulan’. Qurthubi (nama ini berarti orang Kordoba) adalah salah satu bintang ulama Spanyol yang dalam penulisan tafsirnya mensyaratkan pemberian pertanggungjawaban yang jelas dalam pengutipan hadis. Ia mengeluhkan kebiasaan di sekitar zamannya (abad ke-7 Hijri): banyaknya dimuat hadis dalam kitab fikih maupun tafsir yang mubham, “tanpa identitas, tidak diketahui siapa yang mengeluarkannya kecuali oleh para ahli kitab hadis. (Qurthubi, Al-Jami’, I, 3). Sumber pengambilan riwayat tentang “ramadan sebagai nama Allah” itu pun, yang diambil oleh Mujahid (ulama tabi’i, generasi di belakang sahabat Nabi) mestinya diterakan. Dan itu adalah hadis Abu Ma’syar Najih. “Dan dia itu daif (dha’if).” Jadi yang benar katanya, adalah kebolehan menyebut ‘ramadan’ tanpa penyandaran (idhafah) kepada ‘bulan’.

Qurthubi kemudian menyebut contoh hadis (di samping yang sudah kita terakan) yang di dalamnya Nabi sendiri hanya menyebut “ramadan”,  tak lebih. Di antaranya riwayat Nasa’i, dari sumber Ibn Abbas, yang memuat saran Nabi s.a.w. kepada seorang perempuan Anshar: “Kalau sudah Ramadan, lakukan umrah. Karena satu umrah waktu itu menyamai satu haji.” Atau riwayat Nasa’i yang lain dari sumber Abdurrahman ibn Auf: “Allah Ta’ala mewajibkan puasa Ramadan, dan aku menyunatkan untuk kamu salatnya (qiam ramadhan, tarawih). Maka barangsiapa memuasainya, dan menyalatinya, berdasarkan iman dan perhitungan baik, ia keluar dari dosa-dosanya seperti di hari ia dilahirkan ibunya.”  “Riwayat seperti itu banyak,” kata Qurthubi , “dan semuanya menghilangkan ‘bulan’ . Barangkali orang Arab sendiri sudah menggugurkan ‘bulan’ itu ketika mereka menyebut ‘ramadan’.” (Qurthubi, op, cit., 292).

Jadi, silahkan saja memasang spanduk bertuliskan “Selamat datang…..” atau Marhaban ya Ramadhan.” Tidak seorang pun akan menganggap yang dielu-elukan kedatangannya Allah Ta’ala, subhanallah. Melainkan “bulan Ramadan, yang di dalamnya diturunkan Al-Quran……”

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang antara lain menerjemahkan Barjanzi yang dipentaskan Bengkel Teater ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 12 Januari 1998

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda