Mutiara

Guru Ibad, Ulama-Politisi dari Martapura

A.Suryana Sudrajat
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Kalimantan Selatan banyak menghasilkan ulama yang berkecimpung dalam politik. Salah seorang ulama-politisi dari daerah ini adalah Guru Ibad, yang juga seorang pendidik dan dipercaya memiliki kemampuan supernatural

Di luar Jawa, Kalimantan Selatan adaalah  gudang ulama. Sejak zaman Syekh Arsyad Al-Banjari, pengarang kitab Sabilul Muhtadin,  yang namanya melegenda itu, Kalsel seperti mata air yang tak pernah kering bagi tumbuhnya ulama-ulama baru. Siapa yang tak kenal KH Idham Chalid, yang pernah jadi orang nomor satu di NU dan PPP, atau Tuan Guru Sekumpul, pemuka tarekat Samaniyah itu. Belum lagi para pendahulu mereka seperti Muhammad Nafis Al-Banjari yang berjasa dalam mengislamkan daerah-daerah pedalaman Kalimantan, yang salah satu kitabnya  Dzurratun Nafis masih dibaca orang sampai sekarang. Yang menarik, ulama  Kalsel banyak yang melibatkan dalam politik. Satu di antara ulama-poliisi itu adalah KH  Badruddin, atau yang lebih populer Guru Ibad, dari Martapura.

Semasa hidupnya Guru Ibad ia menjadi mudir atau pemimpin umum Pondok Pesantren Darussalam Martapura, anggota MPR-RI dan anggota DPA-RI. Sebelumnya pernah menjadi anggota DPRD Banjar mewakili Partai NU. Pada zaman Orde Baru ia menjadi anggota Dewan Penasehat Golkar Tingkat I di Kalimantan Selatan, anggota Presidium Majelis Ulama Kalimantan Selatan (1975-1976), dan salah seorang Ketua Majlis Ulama Kalimantan Selatan sampai tahun 1985. Selain itu, ia menjadi  Ketua Umum Badan Kerja Sama Pondok Pesantren (BKSPP) Kalimantan Selatan, anggota Badan Pertimbangan MUI Pusat, dan Rais Syuriah PWNU Kalimantan Selatan.

Badruddin  dilahirkan di  Martapura, Banjar, pada 11 Februari 1937 dari pasangan  H. Ahmad Zaini dan Hj. Jannah. Kakeknya, K.H. Abdur Rahman, selain ulama juga menjadi penasehat Mufti (Pejabat tinggi bidang fatwa keagamaan). Sedangkan ayahnya,  selain ulama juga seorag mufti di Martapura. Kakak seayah Guru Ibad, Tuan Guru H. Husin Kaderi adalah ulama di Martapura yang banyak melakukan kegiatan-kegiatan dakwah dan pengajian-pengajian. Selain mubalig, dia juga yang membimbing Ibad dalam berorasi.

Badruddin mula-mula belajar agama kepada ayah dan kakeknya. Pendidikan formalnya ditempuh di Iqdamul Ulum, sekolah agama pertama di Martapura yang didirikan di Tunggul Irang. Setelah sekolah di Iqdamul Ulum selama satu tahun, ia diajak  saudaranya, K.H. Husin Kaderi, menunaikan ibadah haji dan mukim di Mekah. Di sana ia belajar di Madrasah Darul Ulum dan Madrasah Saulatiyyah. Namun karena suka berkelahi dengan anak-anak orang Arab, ia hanya menetap dua tahun di Mekah. Setelah itu ia kembali ke Martapura dan  meneruskan belajar di Madrasah Darussalam, dan tamat pada 1955. Lalu ia diminta mengajar dan membantu madrasah tersebut sampai diangkat menjadi pemimpin pada 1976.

Selain mengikuti pendidikan formal di madrasah, Guru Ibad berusaha menambah ilmunya terutama ilmu-ilmu batiniyah kepada beberapa ulama, antara lain: Tuan Guru H. Zainal Ilmi (ahli sufi dan ahli dalam ilmu tabib), K.H. Seman Mulia (ahli  tasawuf), K.H. Abdul Kadir (ahli pengobatan), dan Habib Ahmad Asegaf (ahli sufi). Guru Ibad belajar Maulid Habsyi dari Habib Ahmad, dan menjadikannya sebagai orang pertama mengajarkan serta mengembangkan Maulid Habsyi di Kalimantan Selatan.

Semasa hidupnya, Guru Ibad dikenal memiliki sejumlah kelebihan atau keistimewaan, berupa kekuatan supernatural, yang lazim disebut karomah. Di antara keistimewaan Guru Ibad adalah ia mampu  melunakkan besi sehingga tidak dapat menembus kulitnya. Ia juga bisa membuat cemeti (semacam alat pecut yang terbuat dari rotan) yang kalau dipukulkan ke pohon yang hidup, maka pohon tersebut akan mati, begitu juga jika dipukulkan kepada orang yang masih hidup. Selain itu Guru Ibad  dapat membuat wafak-wafak yang biasa digunakan untuk keperluan penangkal sesuatu yang membahayakan diri. Guru Ibad juga dapat menghilangkan atau megeluarkan tulang yang tertelan dari kerongkongan seseorang dengan perantara air dari Guru Ibad. Berkat keistimewaan yang dimilikinya itu Guru Ibad, ia tidak pernah gentar menghadapi musuh.


Guru Ibad  wafat 23 Desember 1992, usai pengajian kitab Mazahib al-Bar’ah di kediamannya.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda