Cakrawala

Seri Akidah (1): Mengamati Indahnya Pengaturan Allah

Nebula Lobster atau Nebula Omega. Nebula ini terletak di daerah kaya bintang Sagitarius di galaksi Bimasakti. Nebula ini masuk katalog pada tahun 1764.
Hamid Ahmad
Ditulis oleh Hamid Ahmad

Imam Abu Hanifah, sang kampiun fikih dan tauhid, sedang menggelar pengajian. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang bergegas masuk. Tanpa tedeng aling-aling ia langsung mengajukan pertanyaan, “Aku punya tiga pertanyaan. Aku ingin Anda menjawabnya tanpa menjadikan Alquran dan hadis sebagai landasan pendapatmu karena aku seorang kafir, tidak percaya pada keduanya. Jawablah pertanyaan-pertanyaanku selaras dengan dalil-dalil akal dan logika. Kalau Anda bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku ini, aku akan mengoreksi keyakinanku.”

“Silakan ajukan pertanyaan yang kau mau,” jawab Imam.

Si kafir berkata, “Bagaimana aku menyembah Allah sedang aku tidak melihat-Nya? Bagaimana aku diadili (kelak di akhirat) untuk hal-hal yang aku ditakdirkan untuknya dan aku tidak punya pilihan (untuk berbuat lainnya)? Bagaimana jin kok diazab di neraka sedang neraka itu dari api?”

Imam Abu Hanifah, figur yang diakui oleh para ulama sebagai supercerdas dengan argumentasi-argumentasi nan jitu, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Alih-alih menjawab pertanyaan, beliau mengambil botol dari bahan tembikar yang ada di dekatnya. Botol itu langsung dipukulkan ke kepala si kafir, membuatnya terluka dan meringis kesakitan.

Tentu saja yang dipukul marah. Hatinya panas campur bingung. Tangannya sudah gatal hendak membalas tapi urung lantaran  takut pada murid-murid Imam Abu Hanifah. Bisa-bisa mereka memukulku ramai-ramai hingga mati, pikirnya. Dia langsung keluar dari halaqah (lingkaran pengajian) Abu Hanifah dan bergegas menemui hakim dalam kondisi seperti itu (kepalanya bocor).

“Diakah yang kau sebut imam paling agung?” tanyanya kepada hakim. “Aku telah mendebat Abu Hanifah dan apa yang kau lihat, inilah buah perbuatannya.”

Hakim tercengang campur bingung, sangat bingung. Untuk itu dia menyuruh pembantunya memanggil Abu Hanifah. Sang imam datang.

“Benarkah Anda melakukannya (memukul) pada lelaki ini?” tanya hakim.

“Ya, saya memang melakukannya,” jawab Imam.

“Mengapa Anda berbuat hal itu pada lelaki ini?”

“Itulah caraku menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Dengan memukulnya aku telah menjawab pertanyaan-pertanyaannya.”

Hakim merasa takjub. “Coba jelaskan, bagaimana itu terjadi? Apa maksud Anda?”

Abu Hanifah berkata panjang lebar, “Dia bertanya, bagaimana mungkin dia menyembah Allah sedang dia tidak melihat-Nya. Begini, ketika saya memukulnya, dia merasa kesakitan. Apakah dia melihatnya (rasa sakit)?

Dia bertanya pula, bagaimana mungkin dia kelak diadili untuk hal-hal yang ditakdirkan pada dia, sedang dia tidak punya pilihan (untuk berbuat lain).Begini, sebenarnya dia tadi sudah berpikir untuk membalas pukulanku dengan hal yang sama tapi dia takut pada murid-muridku. Makanya dia urung membalasku dan memilih untuk mengadukan aku kepada Anda. Manusia itu ditakdirkan untuk hal-hal tertentu dan diberi pilihan untuk hal-hal tertentu lainnya.

Adapun untuk pertanyaannya yang ketiga, bagaimana jin itu kelak diazab dengan api neraka sedang jin tercipta dari api. Begini, aku telah memukul lelaki ini dengan tanah (tembikar), sedang tanah adalah bahan dasar penciptaannya (Dia tercipta dari tanah tapi ternyata dia merasa kesakitan ketika dipukul dengan tanah) Begitu pula jin akan diazab di neraka sementara asal kejadiannya tercipta dari api.”

Baik hakim maupun si kafir langsung dapat menerima argumentasi Imam Abu Hanifah. Bahkan si kafir menyatakan masuk Islam.

Wujud

Dalam ilmu tauhid diterangkan ada 20 sifat wajib Allah, dan yang pertama adalah wujud, artinya ada. Jadi, Allah itu pasti ada.  

Kita ketahui, kata wajib di sini berbeda pengertiannya dengan wajib dalam terminologi fikih alias hukum Islam, yang berarti, jika dikerjakan menghasilkan pahala. Dalam ilmu tauhid, kata wajib  berarti pasti.

Setiap muslim percaya bahwa Allah itu ada walaupun Dia tidak kelihatan. Dalam Alquran Allah menyebutkan bahwa kriteria pertama orang bertakwa ialah, “mereka percaya pada yang gaib”. Allah itu gaib karena Dia tidak bisa dilihat dan tidak mungkin dilihat di dunia oleh manusia.

Sesuatu yang ada itu bermacam-macam. Ada yang bisa dilihat seperti bumi, matahari, manusia, tumbuhan dan lain-lain. Ada yang tidak bisa dilihat tapi bisa didengar seperti suara. Ada yang tidak bisa dilihat tapi bisa dicium seperti bau harum atau bau busuk. Ada yang tidak bisa dilihat tapi bisa dikecap seperti rasa manis, pahit dan semacamnya. Ada pula yang tidak bisa dilihat tapi bisa dirasakan seperti rasa sakit tadi.

Terdapat pula yang tidak bisa dilihat dengan mata manusia alias dengan mata telanjang tapi bisa dilihat dengan alat, misalnya mikroskop. Virus corona, yang sekarang lagi bikin heboh seluruh dunia, adalah contohnya.

Lebih dari itu, ada yang tidak bisa dilihat dengan mata manusia, tidak bisa pula dengan alat apa pun. Contohnya, malaikat, setan atau ruh. Misalkan Anda berada di dekat orang yang sedang sekarat. Mula-mula dia bisa bergerak dan berbicara. Tiba-tiba dia tidak bisa bergerak dan berbicara. Apa sebabnya, nyawanya telah lepas dari tubuhnya. Meskipun begitu, Anda yang ada di dekatnya tidak tahu kapan dan ke mana itu ruh.

Baik malaikat, setan maupun ruh adalah makhluk-makhluk gaib. Allah juga gaib karena Dia tidak mungkin terlihat oleh mata manusia di dunia. Manusia bisa melihat Allah kelak di surga, artinya setelah mereka meninggal dunia. Hanya Nabi Muhammad s.a.w. yang bisa melihat Allah secara langsung selagi beliau belum meninggal dunia, yaitu ketika beliau melakukan perjalanan Isra Mikraj. Adapun Nabi Musa a.s. hanya bisa bercakap dengan-Nya tapi tidak bisa melihat-Nya.

Buktibukti

Walaupun Allah tidak bisa dilihat, cukup banyak bukti yang menunjukkan keberadaan-Nya. Di dalam Alquran terdapat banyak firman yang mendedahkan ayat-ayat atau bukti-bukti keberadaan-Nya. Di antaranya adalah firman Allah, “Sungguh pada penciptaan langit-langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (ayat-ayat) bagi orang-orang yang mau bertafakur.” (Ali Imran: 190)

Penciptaan bumi menjadi penjelas yang sangat gamblang tentang keberadaan Allah. Bumi yang kita diami ini sangat luas: 510 juta km2 lebih! Amboi, siapa bisa menciptakan sesuatu sebesar ini. Jangankan menciptakannya, mengelilinginya saja merupakan suatu pekerjaan yang teramat sulit bagi manusia.

Ternyata, besarnya bumi belum seberapa. Masih ada yang jauh lebih besar lagi. Apa itu? Matahari. Luas permukaan matahari, kata para ahli, mencapai 11.990 kali luas permukaan bumi. Adapun diameternya tak kurang dari 109 kali diameter bumi.

Toh ada yang lebih besar lagi, yaitu bintang yang dinamai Pistor Star. Bintang ini besarnya 80 hingga 150 kali besarnya matahari. Hal ini membuktikan keberadaan Allah. Bagaimana penjelasannya?

Semula Tidak Ada

Para ahli mengungkapkan, pada mulanya alam semesta ini tidak ada. Ruang tidak ada, waktu juga tidak ada. Konon, ada sebutir zat yang membesar dengan sangat cepat. Zat ini penuh dengan cahaya panas dan bersuhu 100 miliar derajat celcius. Lama kelamaan terjadi proses pendinginan sehingga terjadilah kondensasi (proses perubahan dari wujud benda ke wujud yang lebih padat) yang membentuk langit hingga seterusnya (terciptanya benda-benda langit lainnya, dan juga bumi).

Dr. Maurice Bucaille menyebutkan dalam bukunya The Qur’an and Modern Science alam semesta ini semula berupa massa gas yang besar (Nebula Primer). Kemudian terjadi ledakan besar (big bang), yang menghasilkan pembentukan banyak galaksi. Dari situlah terbentuknya bintang-bintang, matahari, bulan dan seterusnya.

Ada Sang Pencipta

Pertanyaannya, apakah semua itu terjadi dan tercipta dengan sendirinya, seperti disebut oleh para ahli atheis? Tidak, jawab para ahli lain. Sudah cukup lama dan cukup banyak dari para ahli yang membantah tesis bahwa alam ini terbentuk dengan sendirinya.

Mari kita simak firman Allah berikut ini, “Dan di dalam penciptaan (diri) kalian serta di dalam apa yang menyebar luas berupa binatang-binatang melata terdapat ayat-ayat (bukti-bukti keberadaan dan kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang meyakini.” (Al-Jatsiyah: 4)

Coba kita amati satu aspek saja dari penciptaan manusia. Proses terciptanya manusia bermula dari pertemuan sperma lelaki dengan ovum perempuan. Dari pertemuan itu, terlahirlah makhluk yang berbeda. Ada kalanya berjenis kelamin lelaki ada kalanya berjenis kelamin perempuan, dengan segala anatomi dan sifat yang khas pada masing-masing. Yang satu maskulin, yang lain feminin. Inimenunjukan adanya pengaturan, intervensi. Artinya, Allah lah yang mengatur dan menciptakan bayi lelaki dan perempuan sehingga terjadi keseimbangan dari segi jumlahnya supaya terjamin keberlangsungan generasi manusia. Andaikan tanpa ada tangan yang mengintervensi, boleh jadi yang terlahir lelaki terus atau perempuan terus. Bukan mustahil pula, terjadi kesemrawutan sifat dan anatomi. Yang perempuan punya sifat dan anatomi maskulin, yang lelaki punya sifat dan anatomi maskulin.

Mengasuh Manusia

Mari kita tengok lebih lanjut, bagaimana indahnya Allah mengatur dan mengasuh para makhluknya, terutama manusia. Allah berfirman, “Dialah yang menciptakan untuk (kemanfaatan) kalian, semua yang ada di bumi. (Al-Baqarah: 29)

Di bumi ini Allah menyediakan berbagai fasilitas dan makanan untuk dikonsumsi manusia, dari binatang, tumbuh-tumbuhan hingga ikan di laut. Tidak cuma itu. Allah juga menurunkan hujan secara ajek, yang airnya sangat dibutuhkan untuk kehidupan binatang dan tumbuh-tumbuhan serta manusia itu sendiri. “Dan Dialah yang menurunkan air dari langit lalu Kami menumbuhkan dengan air itu tanaman segala sesuatu.” (Al-An’am: 99) Dengan demikian, terjaminlah ketersediaan makhluk-makhluk yang sebagiannya merupakan santapan bagi manusia. Lagi pula, andaikan tidak ada hujan, siapa yang sanggup menyiram tanaman yang begitu banyak dan luas itu? Berapa banyak truk atau pesawat yang dibutuhkan untuk menyiram semuanya? Itulah bentuk pengasuhan Allah pada kita, makhluk di bumi.

Tidak hanya itu. Allah menganugerahi kita dengan sinar matahari yang sangat penting bagi seluruh makhluk di bumi, termasuk manusia. Itu masih ditambah dengan angin dan udara, yang tanpa keduanya kita bakal mati. Masih ada lagi. Di dalam perut bumi disediakan air yang luar biasa banyaknya.

Di dalam Alquran berkali-kali Allah menggedor kesadaran kita mengenai hal-hal tersebut. Semua itu menunjukkan dan membuktikan keberadaan Allah: Sang Pengatur, Sang Pencipta.

Tentang Penulis

Hamid Ahmad

Hamid Ahmad

Redaktur Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.

Tinggalkan Komentar Anda