Tasawuf

Kalau ‘Agama’ Menjadi Mendung…

Anis Sholeh Ba'asyin
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Penjelasan Mastur dan Masturi yang bertubi-tubi, terutama tentang berlapis mendung dan kelebatan hujan, pada akhirnya membuat saya terpancing dan memberanikan diri untuk bertanya: apakah ‘pengetahuan’ yang dimaksud di sini mencakup juga ‘pengetahuan agama’?

Ini menjadi sangat penting, karena setidaknya bagi saya apa yang disebut sebagai ‘pengetahuan agama’ adalah sesuatu yang final, mengikat dan tak bisa diganggu-gugat lagi. Kalau hal yang demikian dianggap sebagai ‘mendung’ juga, maka potensial memorak-porandakan seluruh bangunan berpikir saya.

Apalagi kalau ditarik ke ranah sosial-budaya, bisa benar-benar mengocar-ngacirkan tatanan yang ada, bahkan tidak mustahil melahirkan kekacauan. Orang tak punya lagi pegangan untuk menciptakan bangunan sosial-budaya apa pun; karena bangunan sosial-budaya mana pun pasti dibangun berdasar konvensi-konvensi, kesepakatan-kesepakatan dan seterusnya, yang mau tak mau harus kita kategorikan sebagai mendung-mendung juga.

Kalau memang demikian yang dimaksud, saya merasa bahwa cara pandang Mastur dan Masturi tersebut seperti membenarkan anarkisme yang hampir mutlak. Sudah pasti ini terlalu mengawang-awang, terlalu utopis bagi masyarakat manusia.

Mendengar pertanyaan saya, kedua saudara kembar ini saling pandang dan tersenyum.

“Ini pertanyaan yang dari tadi saya tunggu-tunggu…” jawab Mastur.

Mereka tak langsung menjawab, tapi lebih dulu menyeruput kopi yang sudah mulai dingin.

“Sebelum lebih jauh bicara tentang masalah ini, ada baiknya kita segarkan dulu pengertian tentang ‘pengetahuan’, setidaknya agar tidak muncul kerancuan terhadap apa yang kami maksud…”

“Yang pertama, bahwa pengetahuan itu lahir dari yang sudah terjadi, sudah dialami dan seterusnya. Bukan dari yang belum, karena hanya Allah yang tahu tentang itu…”

“Yang kedua, harus juga kita luruskan pemahaman kita tentang sunatullah, yang selama ini kita plesetkan menjadi hukum alam. Ini juga istilah aneh, sejak kapan alam bikin hukum?”

Sunatullah itu kita pahami sebagai sesuatu yang mekanis, organis atau kreatif?”

“Selama ini kita kan terbiasa membaca ungkapan sunatullah itu dengan persepsi kita sendiri, berdasar ‘pengetahuan’ kita sendiri…”

“Yang paling sering, oleh kita yang dianggap modern, sunatullah dibayangkan sebagai mekanis, seperti mesin, atau paling jauh organis. Ini karena pengaruh pengetahuan fisika, biologi atau kimia yang berkembang.”

“Padahal kenyataannya kan tidak? Kalau semua mekanis atau organis, artinya kan apa yang belum terjadi bisa diramalkan?”

“Bahkan, taruhlah kita anggap organis; interaksi trilyunan unsur-unsur pembentuknya, yang bisa dibayangkan akan melahirkan trilyunan kemungkinan perkembangan, yang angka yang kita kenal pun belum mampu membahasakannya; tak membuat kita mampu mencerapnya, apalagi meramalkannya. Perihal cuaca saja, yang nota bene sudah kita punyai alat ukurnya yang canggih, tak mungkin diramalkan kok, apalagi lainnya.”

“Artinya, pengertian tentang sunatullah harus dipahami ulang juga…”

“Dari satu sisi, sifat Allah sebagai al-khaliq, al-bari’ dan al-mushawwir, sebagai Sang Pencipta, Sang Penghidup, Sang Pembentuk; menunjukkan bahwa sifat-sifat itu selalu hadir bersama-Nya…”

“Dari sisi lain, menurut surah Ar-Rahman ayat 29, Allah disebut ‘kulla yaumin huwa fii sya’n’, setiap saat Dia dalam kesibukan. Kalau memang cuma mekanis atau organis, kan tidak mungkin membuat Dia sibuk? Paling banter hanya akan menghasilkan pandangan yang selama ini cukup populer juga, yakni bahwa Tuhan adalah semacam pembuat jam, yang tak lagi perlu berurusan dengan jam buatannya…”

“Dari sisi pandang ini, sejauh kita pahami dalam bahasa kita: Allah itu selalu kreatif. Sehingga Al-Hallaj pernah menafsirkan makna al-haq itu sebagai Kebenaran Kreatif…”

“Dan karena itu mestinya sunatullah juga harus kita pahami sebagai sesuatu yang kreatif pula, bukan sekadar organis apalagi mekanis…”

“Karena itu, pengetahuan kita tentang sesuatu sangat mungkin tidak bisa diterapkan pada waktu yang berbeda, meski tempatnya sama…”

“Pengetahuan yang sama hanya bisa diterapkan di laboratorium atau ruang rekonstruksi tempat semua unsur pembentuknya lengkap dihadirkan dan dijaga secara ketat…”

“Sementara di alam semesta, juga dalam kehidupan manusia, selalu ada yang baru yang membuatnya tidak pernah sama persis…”

“Karena itu kita membuat kesimpulan, pemolaan dan generalisasi untuk mempermudah pemahaman…”

“Agar kita bisa memahami kenyataan sejauh kemampuan cerapan akal kita, bukan sebagai kebenaran kenyataan…”

“Harap diingat juga, akar kata pengetahuan dalam bahasa Arab disebut ‘urf, sesuatu yang diterima oleh tabiat dan akal sehat manusia secara umum. Atau kata lain kebiasaan baik yang diterima oleh akal sehat manusia. Dari sana terbentuk kata‘arafa, ya‘rifu…”

“Dan orang yang berpengetahuan lantas disebut arif, obyeknya kalau berupa pengetahuan yang umum disebut ma’ruf, kalau berupa pengetahuan yang luas disebut ma’arif,  kalau berupa pengetahuan yang mendalam dan komprehensif disebut ma’rifah…”

“Supaya tidak berpanjang-panjang, pengetahuan adalah apa saja yang diketahui manusia berdasar kebiasaan. Dan apa yang disebut kebiasaan ini adalah cara dan bentuk generalisasi manusia atas kenyataan, jadi bukan kenyataan itu sendiri…”

“Dari sisi ini, ma’ruf, ma’arif, ma’rifah pun pasti berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan pemahaman manusia…”

“Akan jadi masalah bila orang memandang semua bentuk pengetahuan itu sebagai sesuatu yang paripurna, yang final; lebih menjadi masalah lagi ketika menyikapinya sebagai kenyataan kebenaran dan bukan pembahasaan kebenaran sejauh diketahui manusia…”

“Kalau kita pakai nalar ini, menurut kami, yang jelas belum tentu benar dan mungkin masih termasuk kategori mendung; pada prinsipnya semua pengetahuan manusia potensial menjadi mendung, tak terkecuali pengetahuan tentang agama…”

“Atau lebih tepat lagi, semua pengetahuan potensial menjadi mendung bila ia menghalangi manusia menatap langit dan cahaya matahari secara langsung…”

“Artinya, pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang tidak menjadi mendung, tapi justru mengantar manusia menatap langit dan cahaya matahari secara langsung…”

“Maksudnya tentu saja yang mengantar kita lebih dekat pada Kebenaran dan Allah…”

“Kami kira, apa yang diungkap oleh Saidina Ali ketika beliau bersabda bahwa ‘belum beriman seseorang sebelum ia mampu mempertanyakan imannya sendiri’; sangat mungkin merujuk pada kenyataan ini…”

“Yang dimasalahkan di sini hampir pasti bukan pengetahuannya itu sendiri, tapi cara kita menyikapinya. Memutlakkannya akan menjadikan dia mendung…”

“Tak mengherankan bila Alquran menyebut hanya orang-orang alim saja yang bisa khusyuk, yang bisa tunduk dan merendahkan diri di hadapan Allah…”

“Yang dipakai di sini kata alim, yang berhubungan dengan ilmu, dan bukan arif yang berhubungan dengan ma’ruf, ma’arif atau ma’rifah...”

“Alim adalah salah satu sifat Allah, beda dengan kata arif yang tidak pernah bisa disematkan pada Allah”

“Bagi kaum sufi, ma’rifatullah yang diikuti amaliyah yang menghasilkan hal itulah yang disebut sebagai ilmu. Mestinya ini juga berlaku secara umum di segala bidang pengetahuan, kita hanya perlu menafsir ulang pengertian hal seperti dipahami kaum sufi dalam pengertian yang lebih umum dan luas”

“Ilmu berkait dengan langit, dengan Kebenaran dan ujungnya pada Allah. Sementara ma’ruf, ma’arif atau ma’rifah lebih berkait dengan bumi, dengan pemahaman manusia atas pengalamannya sejarahnya sendiri; yang pada tahap tertentu, atas kehendak dan petunjuk Allah, bisa meningkat menjadi ilmu…”

“Dibanding dengan ma’ruf, ma’arif atau ma’rifah, ilmu lebih kecil potensinya untuk menjadi mendung…”

“Karena ia akan selalu adaptif terhadap perwujudan Kebenaran Kreatif-Nya…”

“FirmanNya dalam surat Luqman ayat 27: Dan andaikan  pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah.”

“Juga dalam Al-Kahfi ayat 109: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”

“Ayat-ayat ini mengindikasikan bahwa pengetahuan manusia, ma’ruf, ma’arif atau ma’rifah, juga ilmu yang lahir darinya, tidak bisa dan memang tidak akan pernah final…”

“Baik tentang firmanNya yang tertulis maupun tak tertulis, yakni semua yang ada di semesta…”

“Semua ini setidaknya menurut pemahaman dan keterbatasan bahasa kami lho, karena itu jangan dimutlakkan juga…”

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda