Ramadan

Buya Haka tentang Zakat (3): Nasib di Akhirat Ditentukan di Dunia

Ditulis oleh Panji Masyarakat

Lain dari itu, wahai kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia, apabila kita renungkan ibadah yang kita laksanakan dalam Islam, asal kita kerjakan dengan sabar, dia termasuk hal yang penting dalam menegakkan ketahanan nasional.

Rukun Islam yang lima dapatlah menjadi senjata ampuh dalam menegakan ketahanan nasional. Rukun pertama, yaitu percaya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, menegakan ketahanan nasional dari segi pergantungan dan sandaran jiwa. Orang yang tidak percaya kepada Tuhan tidaklah punya sandaran bagi hidupnya. Maka tidaklah berani dia berjuang dan takutlah dia menghadapi maut. Sebelum musuh datang, dia telah patah semangat sebab dibunuh oleh rasa takutnya sendiri.

Itulah sebabnya maka Rasulullah s.a.w. bersabda, “Katakanlah aku beriman kepada Allah, sesudah itu jangan beranjak dari itu.” Yaitu dengan mengerjakan salat sekurang-kurangnya lima waktu sehari semalam. Kita membuktikan bahwa merendahkan diri, menghinakan diri kepada Allah saja. Tidak pernah tunduk bersujud kepada yang lain. Umpan-umpan berupa benda, berupa harta, berupa uang, berupa bujukan dunia yang fana, fatamorgana, tidaklah dapat mempesona orang dari tempatnya bersujud dan rukuk hanya kepada Allah. Inilah ketahanan nasional. Bagaimanapun bujuk rayuan subversif dari luar tidaklah akan dapat menundukan hati orang yang telah tunduk kepada Allah.

Dengan mengerjakan puasa, sebagai yang kita kerjakan kemarin dan hari ini, kita membuktikan bahwa kita orang yang bebas dan merdeka, dapat menyetop di tempat yang amat perlu distop. Latihan satu bulan ini menciptakan seorang manusia baru, muslim sejati yang jadi alas kesetiaan kepada negeranya.

Dengan berzakat, baik yang fitrah ataupun zakat harta tahunan,  hal itu menunjukan bukti lebih lanjut bahwa seseorang muslim sanggup membersihkan dirinya dari kebakhilan, dari egoisme. Membersihkan kembali pula hubungan yang nyaris buruk diantara yang the haves dan the haves not, antara yang berpunya dan melarat. Dan, mendidik pula kekuatan jiwa karena orang yang suka memberi adalah orang yang kuat dan orang yang hanya meneima adalah orang yang lemah. Itu sebabnya maka anjuran Alquran kepada seluruh muslim ialah “bayaran zakat”, bukan “terimalah zakat”. Dan, Nabi bersabda, “Tangan yang di atas (memberi) lebih mulia dari tangan yang dibawah (menerima).”

Dengan menunaikan ibadah haji sekurangnya sekurangnya sekali seumur hidup dan dianjurkan sekali lima tahun bagi yang kaya raya terkandunglah hikmat yang lebih tinggi pula, yaitu supaya muslim itu jangan picik pandangannya. Jnagan seperti katak dibawah tempurung. Luas pandangannya tentang waktu atau zaman, yaitu melihat bekas zaman lampau dari perjuangan nabi-nabi sejak Nabi Ibrahim, putranya ismail, sampai keturunan Nabi Muhammad s.a.w. hingga dapat membandingkan yang dialami sekarang dengan kejadian yang dulu.

Sebelum ke Akhirat

Sebab itu, dari semua ibadah, dari kelima rukun Islam, jiwa akan diperkuat, diperteguh, hingga sanggup menghadapi jalan datar dan jalan berbelok-belok dalam hidup untuk sampai kepada perhentian terakhir. Semuanya ini bila dicamkan benar-benar bagi negara, termasuklah dia salah satu ketahanan nasional. “Dan carilah (kebahagiaan) alam akhirat dengan apa yang diberikan Allah kepadamu dan jangan lupa bagianmu di dunia. Dan berbuatlah yang baik, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada engkau dan janganlah engkau membuat kerja yang akan merusak di muka bumi ini karena Allah tidaklah suka kepada orang-orang yang merusak.” (Q.S. 28:77)

Demikianlah tuntunan hidup beragama dan bernegara, tuntunan dalam perjalanan hidup untuk menuju perhentian, menuju maut, dan alam akhirat. Yakni usaha memperteguh diri sendiri mencapai ridha Allah untuk akhirat dengan tidak melupakan dunia sebab sebelum sampai ke akhirat melalui dunia lebih dahulu. Bahkan nasib di akhirat ditentukan oleh cara kita menempuh jalan didunia ini. Tuhan sendiri telah berbuat baik kepada diri kita, mengapa kita tidak berbuat baik pula kepada sesama manusia? Tuhan telah menentukan perjalanan bumi ini dengan teratur, mengapa pula kita akan merusak?***

Sumber:  Majalah Panji Masyarakat, 26 Januari 1998

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda