Ramadan

Buya Hamka tentang Zakat (2): Memakmurkan Tanah Air

Antrean para muzakki (pemberi zakat)
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Rahmat itu ialah kasih sayang dan cinta Allah kepada makhluk-Nya,  kepada seluruh manusia. Itulah perikemanusiaan. Saidina Ali ibn Abi Thalib saat menjadi khlaifah pernah berkata, “Tidaklah senang tidurku jika ada seseorang rakyat di negeri Hirah yang mati kelaparan sedang aku makan enak-enak di sini.” Padahal jarak Hirah dengan Kufah, tempat Saidina Ali duduk memerintah, jauh juga. Oleh sebab itu, maka rasa iman dan takwa tidak mungkin menimbulkan benci atau dendam melainkan timbang rasa. Sebaliknya menimbulkan cinta kepada orang lain, seperti cintanya pada diri sndiri, senang jika melihat pada orang lain apa yang dia senang pada dirinya sendiri. Itulah perikemanusiaan.

Di dalam Alquran, untuk (sila) Ketuhanan Yang Maha Esa itu, disebut hablun minallah (tali penghubung dari Allah), dan untuk perikemanusiaan disebut hablun minan nas (tali penghubung diantara sesama manusia). Maka dipukulkan kehinaanlah oleh Tuhan kepada insan jika mereka tidak memegang kedua tali itu. “Dipukulkan mereka kepada kehinaan di mana saja berada, kecuali jika mereka berpegang dengan tali hubungan dari Alllah dan tali hubungan dari manusia.”

Memperteguh Pancasila

Orang yang beriman kepada Allah dengan sendirinya akan mencintai tanah airnya, kepada bumi tempatnya tegak, tumpah darah tempat dia dilahirkan, cinta kepada kampung halaman. Tanah air dan bangsa adalah thabii, artinya bawaan hidup manusia. Karena pada tanah air itulah cita-cita dapat ditegakan. Di tanah air itulah akan ditegakan cita-cita beragama. Agama barulah dapat ditegakkan, jika orang mempunyai tanah air yang merdeka.  Merdeka pula di sana orang menganut paham, menegakan keyakinan memuja Tuhan menurut agama yang dianut.

Memang ada manusia kosompolitan yang mencintai seluruh dunia, merasa dirinya tidak terikat pada satu batas negara. Namun orang demikian tidaklah mempunyai bumi tempat tegak. Kesudahannya ia akan memilh temoat juga. Di dalam suku, kita membentengi bangsa, di dalam pergaulan dunia, kita membentengi perikemanusiaan sedunia.

Ketiganya itu — percaya dan iman kepada Tuhan, perikemanusiaan, dan cinta tanah air — tidaklah membuat seseorang menurutkan hati sendiri saja dalam alam ini. Manusia hanya bebas dalam batas tertetu. Bilamana ia telah tegak di tengah masyarakat, kepentingannya sendiri harus disesuaikan dengan kepentingan masyarakat. Kepentingan dirinya harus disesuaikan dengan kepentingan orang banyak. Di sinilah timbul musyawarah untuk untuk mufakat, elok seelok, buruk seburuk. Dan, tujuan akhir manusia ialah keadilan dalam pergaulan. Jangan yang kaya terlalu kaya sampai lupa kepada yang miskin, yang miskin terlalu miskin sampai benci dendam kepada yang kaya.

Dengan mengamalkan agama Islam, mengerjakan ibadah kepada Tuhan menurut sunah yang diajarkan Rasulullah, dengan sendirinya di Tanah Air Indonesia kita telah memperteguh Pancasila.

Awal pertama iman kepada Allah. Kemudian melakukan ibadah kepada-Nya. Semua dalam persamaan sesama manusia. Salat yang berjamaah, puasa yang serentak pada bulan yang sama, bertarawih berjamaah, berkumpul berhari raya, laki-laki dan perempuan, si kaya memberi zakat kepada si fakir miskin dan orang yang mustahik menerima, itu akan membawa hasil, memperkuat tiap pribadi yang pasti menyuburkan negara dan bangsa. Memakmurkan Tanah Air sebab setiap orang merasa bertanggung jawab langsung kepada Allah. Apatah lagi setelah berkumpul sekurangnya sekali seumur hidup di Padang Arafah, maka rasa Ketuhanan Yang Maha Esa dan kemanusiaan yang sopan dan beradab akan bertambah kokoh dan tidak dapat dibongkar lagi. Bersambung

Sumber:  Majalah Panji Masyarakat, 26 Januari 1998

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda