Tasawuf

Berhala Yang Digendong Kemana-mana…

Anis Sholeh Ba'asyin
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Gotha’an terasa begitu senyap. Saya merasa sendirian, dalam kesunyian, meski Mastur dan Masturi ada di depan saya, dan kawan-kawan meriung di sekitar saya. Pikiran saya begolak, tak karuan. Bumi serasa berguncang dan langit seperti runtuh. Saya benar-benar nyaris kehilangan pegangan.

“Menurut kamu, bagaimana awan hitam alias mendung terbentuk?” tanya Mastur mengagetkan saya.

“Dari uap-uap air yang naik ke udara…” jawab saya singkat.

“Dari mana uap tersebut berasal?” kejar Masturi.

“Sebagian terbesar dari samudra, lantas danau dan seterusnya…”

“Bagaimana terbentuknya?”

“Apa sebenarnya yang ingin diungkap dengan pertanyaan-pertanyaan ini?” tanya saya penasaran.

“Jawab dulu…”

“Karena panas yang tercipta oleh cahaya matahari…” jawab saya.

“Artinya, mendung adalah gumpalan yang tercipta dari uap air yang naik ke udara karena pemanasan cahaya matahari…” tegas Mastur menyimpulkan jawaban saya.

“Catat dulu kunci-kuncinya: cahaya, pemanasan, uap air, mendung…”

“Sebelum dibahas lebih jauh, perlu saya tegaskan bahwa ini adalah pemahaman kami tentang simbolisme Al Qur’an tentang kaum munafik, yang muatannya sudah tentu negatif; beda dengan makna harfiah mendung yang justru bermuatan positif yang justru lebih sering dipakai oleh Al Qur’an. Penegasan ini penting supaya pemahamanmu tidak rancu…” lanjut Masturi.

“Sekarang mari kita selisik dari mana pengetahuan kita dibentuk…”

“Secara umum bisa dikatakan berasal dari pengalaman-pengalaman hidup…”

“Yang bisa dikatakan terjadi karena ‘pemanasan’ oleh cahaya matahari, oleh cahaya yang haq dalam perjumpaan langsung kita dengan kenyataan.”

“Dari setiap pengalaman, kita mencoba membuat simpulan-simpulan di pikiran kita, itulah uap air yang naik ke udara. Dari banyak simpulan-simpulan tersebut lantas kita bangun konsep-teori-paradigma, itulah mendung yang kita ciptakan”

“Ketika mendung semakin banyak memenuhi ‘langit’ pikiran; posisinya akhirnya malah menutupi cahaya matahari, sehingga kita tak lagi secara langsung bisa menyentuh samudra kenyataan hidup kita..”

“Ini semua akhirnya berkemungkinan melahirkan sikap dan cara berpikir munafik seperti yang sebelumnya sudah kita bahas…”

“Secara individual, pengetahuan ini disusun sejak akil baligh hingga detik umur kita sekarang…”

“Sumbernya bukan hanya mendung yang kita bentuk sendiri berdasar pengalaman hidup kita, tapi juga kita susun dari mendung-mendung yang dilembagakan dan diabadikan dalam kebudayaan dan peradaban…”

“Dalam tataran budaya dan peradaban, mendung-mendung tersebut sudah pasti tidak disusun sehari dua; tapi bergenerasi-generasi…”

“Pada tingkat yang lebih rumit, bahwa apa yang disebut sebagai konsepsi realitas obyektif pada dasarnya akan “menguap menjadi matematika, yang bukannya menggambarkan perilaku partikel-partikel dasar itu sendiri, tapi menggambarkan pengetahuan kita tentang perilaku ini…”

“Apa yang disebut sebagai ‘pengetahuan kita’ inilah yang pada gilirannya kemudian dibakukan dan berulang kita pakai sebagai piranti untuk ‘memahami’ realitas. Dengan pembakuan, ‘pengetahuan kita’ disusun menjadi sistem kode yang makin lama makin rumit…”

“Tapi, harus diingat juga, proses pembakuan semacam ini selalu membawa bahayanya sendiri: menjadi konvensi, sehingga sistem kode yang berkembang semakin lama semakin tak mampu menggambarkan realitas, tapi justru potensial memanipulasinya…”

“Inilah landasan dasar mendung yang membangun kemunafikan. Setidaknya menurut pemahaman kami atas simbolisme dalam surat Al Baqarah tersebut…”

“Bahkan, bukan hanya kemunafikan, tapi sekaligus kekafiran yang selalu menjadi dasarnya.”

“Dan ketika tingkat manipulatifnya sudah sedemikian rupa, orang justru potensial akan semakin tidak memahami kenyataan, semakin tersesat dalam gelap berlapis-lapis ciptaannya sendiri.”

“Dalam surat An Nur ayat 40, perumpamaannya adalah: seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tumpuk-menumpuk, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.”

“Sekarang coba selisik kebudayaan dan peradabanmu…”

“Apakah ia dicahayai langsung oleh ‘matahari’?”

“Atau dituntun oleh kumpulan mendung yang kita agung-agungkan sedemikian rupa bak berhala yang digendong kemana-mana?”

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda