Berbagi Cerita Corona

Virus Corona Memaksa Guru Lebih Kreatif Meski Merana Karena Kuota

A Ramdani
Ditulis oleh A Ramdani

Serial tulisan testimonial di panjimasyarakat.com ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan membagikan pengalaman baik dari berbagai tempat dan latar belakang penulis untuk saling menguatkan dalam menghadapi wabah Virus CORONA COVID-19.
Kami tunggu partisipasi Anda, kirim tulisan via WA 
0895616638283 atau email panjimasyarakat.com@gmail.com
–Pemimpin Redaksi

Pertengahan bulan Januari 2020 kabar tentang merebaknya virus corona di China mulai ramai dibicarakan. Beberapa media nasional dan internasional, termasuk media digital terus mengperbarui berita tentang virus corona di Wuhan, China.

Tidak ada perasaan khawatir bahwa virus itu akan menghantam hampir seluruh penduduk bumi, termasuk sampai ke kampung-kampung kami. Setelah dua orang warga Depok terkena virus dan tak lama kemudian DKI Jakarta menetapkan kondisi darurat pandemi COVID-19, sekolah adalah tempat berkumpul pertama yang diputuskan untuk menghentikan aktifitasnya yakni kegiatan belajar para murid dan guru di satu lokasi. Otomatis rasa khawatir

sekolah menjadi pusat penyebaran virus ini semakin masif menjadi alasan yang sangat tepat dan rasional untuk dilakukan penutupan, oleh karenanya proses pembelajaran dilakukan di rumah.

Saat itu Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, tempat saya beraktifitas di sekolah belum memutuskan akan penutupan sekolah sementara. Saya bertanya- tanya mengapa pemerintah kabupaten belum memgambil keputusan cepat terkait isu ini. Melalui rapat singkat sekolah kami memutuskan mengalihkan proses pembelajaran menjadi di rumah (pembelajaran jarak jauh).

Keesokan harinya, saya bersama seluruh guru melakukan rapat dadakan dan membahas hal- hal yang berkaitan dengan proses belajar mengajar di sekolah kami, dan pelayanan terhadap orang tua murid dan seluruh peserta didik yang akan dilakukan secara daring.

Pekan itu menjadi awal dimulainya pembelajaran jarak jauh, belajar dari rumah. Tentu keadaan yang serba mendadak ini, membuat ketidaknyamanan, khususnya bagi anak-anak, dan tentunya bagi para orang tua, yang waktu itu belum melakukan Work From Home (WFH).

Karena sebagian orang tua murid rata-rata pekerja kantoran, sehingga dengan diberlakukannya belajar dari rumah membuat mereka lumayan repot dan heboh. Karena sebagian anak-anak memang tidak memegang perangkat atau gawai elektronik/digital untuk mengikuti proses pembelajaran di rumah (jarak jauh) bersama gurunya. Sebagian besar dari mereka memang mengandalkan gadget milik orang tua mereka.

Pemerintah kemudian secara resmi memutuskan setiap lembaga pendidikan wajib melakukan pembelajaran jarak jauh, belajar di rumah secara daring. Diantara platform belajar daring terbanyak yang digunakan oleh para guru dan murid adalah WhatsApp Group, Google calssroom dan Zoom Cloud Meetings.

Juga termasuk berbagai platform lama seperti Ruang Guru juga berkontribusi dalam penyediaan belajar jarak jauh. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan TVRI juga menyediakan konten belajar secara daring. Dan dukungan dari berbagai layanan operator jaringan seluler yang menyediakan kuota gratis untuk beberapa platform belajar daring.

Perubahan pola belajar ini tentu saja menyebabkan ketidaknyamanan, apalagi selama ini anak-anak terbiasa melakukan proses belajar aktif di sekolah dan selama di rumah mereka tidak terbiasa melakukan kegiatan belajar formal atau mengerjakan tugas yang dibawa dari sekolah.

Guru-guru juga sebagian cukup kaget dan heboh. Selama ini mereka menyiapkan materi ajar secara reguler dan tidak memerlukan upaya ‘njelimet’ dan proses selanjutnya tinggal eksekusi di ruang kelas atau di sekolah. Dengan perubahan metode ini, setiap guru perlu berpikir dan berupaya ekstra, mulai dari menyiapkan konten (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), hingga memprosesnya ke platform digital, lalu didistribusikan ke seluruh murid.

Tidak selesai di sini, karena jika proses belajar konvensional, para guru bisa langsung memverifikasi hasil kegiatan atau tugas anak. Melalui pola yang baru ini, mereka harus melakukan verifikasi dengan waktu yang tidak biasa, dan otomatis menuntut penyediaan kuota internet masing-masing. Pun di antara kendala yang banyak dihadapi peserta didik dan orangtua mereka ialah ketidakmampuan merespon intruksi guru karena keterbatasan waktu dan juga permasalahan kuota.

Dari keadaan ini, saya berpikir bahwa selama ini sebagian masyarakat kita lebih banyak melakukan aktifitas belajar di sekolah dengan pola yang sangat konvensional, tutorial based, sangat bergantung dengan interaksi guru-murid, paper based work, lalu tiba-tiba harus melakukan pembelajaran mandiri di rumah

dengan menggunakan gadget atau komputer. Kegiatan belajar yang biasanya dilakukan bersama guru dan teman-teman sekelas di sekolah harus dilakukan sendiri di rumah, bersama orang tua atau sendiri tanpa orang tua. Tugas pun mengalir setiap pagi lewat broadcast di grup WhatsApp, dan atau diunggah lewat aplikasi google classroom.

Banyak dari orangtua yang menyampaikan kepada saya merasa kerepotan, sulit dan banyak dibuat bingung karena bukan sekadar kesulitan mengoperasikan aplikasi yang selama ini mungkin mereka tidak pernah tahu, juga anak-anak selama ini terbiasa belajar menggunakan buku teks ajar.

Menurut saya itu adalah salah satu indikasi permasalahan mendasar dari pola atau sistem pembelajaran di sekolah-sekolah kita di masyarakat Indonesia.

Penggunaan teknologi dan komunikasi digital di masyarakat kita. Meskipun konon kabarnya masyarakat Indonesia termasuk pengonsumsi layanan media sosial berbasis digital terbesar, namun belum menunjukkan kesetaraan dalam hal kemampuan belajar secara jarak jauh (daring) atau beraktifitas melalui proses yang menggunakan perangkat berbasis teknologi digital.

Harus ada pemikiran antisipasi secara komprehensif di samping urusan yang bersifat kehidupan sosial masyarakat, atau pemenuhan hak dasar setiap orang. Juga urusan pelayanan pendidikan dan pengembangan sistem pendidikan nasional hendaknya mendorong timbulnya upaya-upaya inovasi di bidang pendidikan.

‘PR’ pendidikan bangsa ini cukup banyak, mulai dari masalah literasi yang rendah, hingga kemampuan akademik yang jauh di bawah negara-negara berkembang lainnya. Tentu pandemi ini bisa jadi semacam penyemangat dimulainya transformasi pendidikan nasional kita. Paradigma belajar yang selama ini sudah lama melekat, melalui keadaan darurat yang memaksa setiap orang berubah. Para guru dan orang tua berubah dalam hal memandang proses belajar mengajar.

Kemudian setelah semua negara terdampak telah berupaya membuat kebijakan terbaiknya dalam menjaga kelanggengan layanan pendidikan. Indonesia juga menghadapi beberapa tantangan nyata yang harus segera dicarikan solusinya, di antaranya ketimpangan teknologi antara sekolah di kota besar dan daerah, keterbatasan kompetensi guru dalam pemanfaatan aplikasi pembelajaran, keterbatasan sumberdaya untuk pemanfaatan teknologi pendidikan seperti internet dan kuota, relasi guru-murid-orang tua dalam pembelajaran daring yang belum integral.

Paling tidak ada beberapa hal yang dapat mengisyaratkan transformasi pendidikan di masa depan; Pendidikan secara global didorong untuk berubah dan hal ini dapat menyebabkan berbagai konsekuensi dan menuntut inovasi yang berkesinambungan, masyarakat global semakin memiliki peluang untuk melakukan kerja jaringan di sektor pendidikan.

Bukan karena sekedar adanya “pandemi global” COVID-19, namun secara international hubungan antar negara pasti membutuhkan berbagai penyesuaian baik dibidang sosial, ekonomi, politik, juga sistim pendidikan. Kemudian, kemitraan pendidikan, baik antara swasta dengan pemerintah, maupun antar berbagai institusi pendidikan di bawah naungan korporasi, pemerintah harus sudah membuat master plan transformasi pendidikan yang diselenggarakan secara efektif dengan teknologi digital, termasuk akses pendidikan berbasis online yang difasilitasi pemerintah untuk masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam sumber daya ekonomi. (*)

Tentang Penulis

A Ramdani

A Ramdani

Konsultan pendidikan, penulis, dan kepala pengembangan program sekolah dan SDM guru di Yayasan al Hasan Mekarsari, Cileungsi Bogor.

Tinggalkan Komentar Anda