Pengalaman Religius

Prof Jackie Ying : Terpukau Dengan Kesederhanaan Islam

Ditulis oleh Ahmad Lukman A.

Tidak banyak perempuan berkutat sebagai ilmuwan teknologi nano. Berkat ketekunan,hasrat, dan cintanya pada sains, membuatnya menjadi ilmuwan muslimah  terkemuka dunia.

Ilmuwan dunia kini berpacu dengan waktu untuk mengalahkan virus korona yang memporak-porandakan dunia. Ada yang berusaha sekuat tenaga membuat vaksin, ada pula yang berusaha membuat alat tes cepat Covid-19 dengan penemuan baru.

Dari Singapura,  muncul nama Profesor Jackie Ying, kepala Lab NanoBio the Agency for Science, Technology and Research (A*Star), Singapura. “Tim saya menciptakan alat tes cepat yang yang bisa mengetahui apakah seseorang memiliki Covid-19 hanya dalam lima menit. Berbeda dengan PCR alat ini diaktifkan oleh enzim khusus yang dikembangkan laboratorium. Bila ini disetujui, teknologi ini dapat digunakan untuk membuat kit yang dapat digunakan di rumah sakit, klinik, dan bahkan dokter umum,” seperti dikuti dari The Straits Times. Sebuah temuan yang menjanjikan dan ditunggu-tunggu dunia.

Ya, perempuan ilmuwan dengan ratusan paten dunia ini memang punya prestasi luar biasa di bidang teknologi nano. Pada umur 35 tahun, Ying sudah menjadi profesor penuh di MIT (Massachusetts Institute of Technology) dan menjadi salah satu profesor termuda di MIT. Jejak pendidikannya pun memukau dengan predikat summa cum laude dari Cooper Union dan doktoral di Princeton University di bidang teknik kimia. Perjalanannya ke Amerika Serikat itu diawali ketika ia dan keluarga pindah ke New York dari Singapura pada saat Ying berusia 15 tahun.

Selain prestasi yang menonjol sebagai ilmuwan, penampilan sosok perempuan kelahiran 1966 ini adalah bagaimana ia memutuskan menjadi seorang muslimah dan mengenakan hijab. Berikut nukilan perjalanannya, dikutip dari beberapa sumber :

Singapura-New York-Singapura

Saya lahir di Taiwan pada tahun 1966. Ketika usia 7 tahun, saya harus ikut orang tua yang saat itu mendapatkan kesempatan untuk mengajar di Universitas Nanyang. Saya mengenyam sekolah dasar di Rulang Primary School lalu berlanjut ke Raffles Girls’ School. Berbeda dengan sekolah dasar yang memiliki latar belakang sama, di Raffles Girls’ School saya punya teman dari berbagai bangsa. Pada saat di Raffles tersebut saya berteman akrab dengan kawan yang saat ini masih menjadi sahabat saya. Seorang muslimah. Sebagai teman, tentu saya melihat bagaimana teman itu menjalankan Islam. Sejak saat itu saya tertarik untuk mendalami. Bahkan teman saya berusaha memberikan Alquran terjemahan bahasa Inggris. Sejak itu saya semakin tertarik karena menurut saya Islam adalah agama yang simpel dan konsepnya jelas. Saya mempelajari bahwa Islam mengajarkan segala sesuatu ada penjelasannya dan masuk akal.

Tetapi, saat itu saya belum menjadi seorang muslimah. Episode hidup saya masih harus mengikuti orangtua yang saat itu pindah ke New York, Amerika Serikat, ketika saya berusia 15 tahun. Di tengah ingar bingar kota metropolitan dunia itu, saya yang sejak kecil tertarik dengan sains terus berjuang untuk mendalami bidang yang saya sangat sukai itu. Selepas SMA, saya masuk ke Universitas Cooper Union di New York. Saya lulus pada 1987 dengan predikat summa cum laude di bidang teknik kimia. Tak berlama-lama, saya meneruskan studi  ke Princeton University di New Jersey untuk bidang yang sama dan memperoleh MA pada 1988 dan PhD pada 1991 bidang teknik kimia. Ketika mengejar ilmu di program pascasarjana itu saya semakin tertarik mendalami bidang teknologi nano. Saya memperoleh Humboldt Fellow di Institute for New Material di Saarbrucken Jerman. Saya juga melakukan penelitian dengan Herbert Gleiter –ilmuwan terkemuka dunia bidang teknologi nano terutama material nanocrystalline di Jerman.

Sebagai orang yang memiliki antusiasme tinggi di bidang sains, kesempatan bekerja dan meneliti adalah cita-cita yang terus menggelayut. Setahun kemudian setelah dari Princeton, saya masuk ke MIT pada 1992 menjadi profesor muda di departemen Teknik Kimia. Saat itu saya masih 25 tahun, dan saya adalah satu dari dua profesor perempuan Asia. Sejak bergabung di MIT, saya mendorong diri saya untuk bekerja keras dua kali lipat. Saya merasa berutung dapat dipromosikan dengan cepat dalam jalur profesional saya. Ketika saya berusia 35 tahun atau pada 2001 saya menjadi profesor penuh dan salah satu guru besar termuda di MIT.

Saya baru memutuskan menjadi muslim ketika menginjak usia 30 tahun. Saat itu saya semakin tertarik dengan hal-hal yang terkait religius. Sejak 2001, saya memutuskan untuk memeluk Islam dan menjadi mualaf. Islam adalah agama yang sederhana dan cocok untuknya. Juga pilihan sangat pribadi untuk mengenakan hijab atau tudung setelah menunaikan ibadah umrah pada 2010. Baginya, mengenakan kerudung adalah kewajiban, dimana orang muslim sendiri melihat atau berkata tidak masalah (menggunakan kerudung). Bahkan ketika pertama kali menggunakan hijab, kolega saya dari Kaukakus ketika melihat saya, mereka pikir saya akan pergi ke pesta. Bos saya malah bercanda bahwa dia butuh sidik jari saya untuk memastikan itu saya. Pada intinya, pilihan pribadi itu tidak menimbulkan reaksi negatif dari sekelilingnya.

Pada 2003,saya memtuskan kembali ke Singapura. Ada tawaran menjadi direktur eksekutif Institute of Bioengineering and Nanotechnology, sebuah divisi dari the Agency for Science, Technology and Research (A*STAR). Di laboratorium tersebut, saya tetap berkutat dengan riset material nano. Saya fokus pada riset biomedis dan aplikasi katalis dengan sistem dan material nano. Dengan hasrat meneliti tinggi, saya telah memiliki 180 lebih paten dengan 11 paten yang sudah dilepas. Salah satunya adalah start up SmartCell Inc, memungkinkan teknologi yang memungkinkan pengaturan pelepasan insulin bergantung pada kadar gula darah bagi perawatan penyakit diabetes. Startup itu kini diakuisisi oleh Merck pada 2010 lalu.

Sejumlah penghargaan saya terima seperti pada 2008 menjadi salah satu dari “100 Engineers of the Modern Era” oleh the American Institute of Chemical Engineers. Pada 2014, saya terpilih menjadi Singapore Women’s Hall of Fame. Pada 2015, saya memperoleh Mustafa Prize oleh Mustafa Science and Technology Foundation Turki atas pencapaian dalam keilmuwan dan kontribusi pada sistem dan material nano, biomaterial nano dan miniaturisasi biosistem dengan sejumlah aplikasinya. Pengakulan lain datang dari United States National Academy of Inventors (NAI), menjadi ilmuwan Singapura pertama yang memiliki penilaian profesional tertinggi sebagai penemu (inventors). Status ini diberikan kepada siapa saja yang menunjukkan semangat menciptakan inovasi dan memfasilitasi temuan luar biasa yang berdampak luas kepada masyarakat.

Sebagai akademisi, saya juga ditunjuk sebagai Editor-in-Chief dari Nano Today pada Maret 2008. Awalnya ini adalah majalah interview internasional bagi periset yang tertarik pada bidang ilmu nano dan teknologi nano. Lalu, saya mengarahkan untuk menjadi jurnal tradisional yang menyediakan forum peer review dari pihak yang otoritatif terhadap ilmu tersebut. Pelan tapi pasti, pada 2010, dengan terbit enam kali setahun, Nano Today menadi jurnal dengan faktor dampak yang sangat tinggi dan tercatat menjadi tiga jurnal teratas bidang ilmu nano dan teknologi nano hingga saat ini.

Pada Maret 2018, saya memutuskan untuk meninggalkan IBN namun tetap bekerja dan meniliti di NanoLab yang saya dirikan. Saat ini saya mengelola lebih dari 100 orang ilmuwan dalam bidang penelitian nano termasuk aplikasinya dalam pelbagai bidang. Salah satunya seperti penelitian untuk membuat rapid test Covid-19 dengan lebih cepat.

Ketika ada yang bertanya tentang hubungan Islam dan ilmu nano yang saya geluti. Ketika Anda melakukan penelitian biomedis, Anda tidak dapat apa-apa selain dikejutkan oleh seluk-beluk sistem biologis dan cara kerjanya. Sangat rumit sehingga kemungkinan segala sesuatu jatuh pada tempatnya yang secara kebetulan sangat kecil. Jadi bagi saya itu sederhana, harus ada Pencipta. Jika Anda benar-benar belajar ilmu pengetahuan, kamu harus percaya pada seorang Pencipta.

Islam mengajarkan manusia untuk mencari ilmu. Dengan ilmu,  seorang manusia bisa sangat berguna bagi masyarakat luas. Tapi yang paling penting pengetahuan ilmiah atau sains menunjukkan lagi dan lagi akan keberadaan Allah. Jadi, saya tidak berpikir bahwa keduanya (agama Islam dan ilmu pengetahuan) memiliki masalah satu sama lain

Dunia Penelitian

Dalam penelitian, tidak ada jalur cepat atau instan. Ini tentang memiliki hasrat untuk mengatasi masalah penting, mengambil risiko dengan pendekatan inovatif, dan bertahan melalui kerja keras.

Bagi saya, ini bukan karier tetapi perjalanan seumur hidup (long life journey) yang memungkinkan saya untuk belajar dan melakukan banyak hal berbeda. Ada pertumbuhan yang luar biasa, itu bagian yang menyenangkan. Bahkan ketika segala sesuatunya tidak berjalan dengan lancar, saya tetap bertahan karena saya mencintai sains dan ingin membuat perbedaan. Ketika saya masih muda, saya pikir prestasi mungkin berarti lebih banyak. Saya paling tertarik menempatkan lembaga seperti IBN atau NanoLab di jalur yang benar sehingga dapat terus menghasilkan penelitian yang berdampak.

Sangat penting untuk tidak berpuas diri tetapi di sisi lain, kita perlu menetapkan tujuan internal kita sendiri dan tidak membiarkan indikator kinerja utama menentukan perilaku kita, yang dapat terjadi dengan sangat mudah. Orang mungkin menjadi terlalu terobsesi dengan publikasi atau pendanaan industri. Ketika orang hanya mengejar kejayaan, pekerjaan yang mereka lakukan bisa menjadi pandangan pendek atau didominasi oleh kepentingan pribadi. Jadi, penting untuk tidak terganggu oleh pengakuan jangka pendek.

Promosi Sains kepada Kaum Muda

Ini adalah sesuatu yang sangat kami banggakan, dan itu adalah inisiatif kami sendiri. Selama bertahun-tahun, semakin sedikit orang muda Singapura yang ingin melakukan penelitian karena mereka melihatnya sebagai kerja keras. Saya membawa mereka ke laboratorium kami dan meyakinkan mereka tentang dampak sains, dan itu bukan semata yang mereka baca di buku pelajaran. Sangat menyenangkan bahwa telah ada 134 siswa  mengambil beasiswa sains dan 34 dari mereka telah kembali dan bergabung dengan kami sebagai staf.

Kesenangan pada sains itu pula yang membuat putri saya juga terjun menjadi peneliti sejak usia 11 tahun. Chan Hsi-Min, putri saya yang saat ini bersekolah menengah atas di Singapore American School lebih menyukai penelitian di bidang penerapan teknologi nano untuk kesehatan. Chan Hsi-Min sudah memiliki publikasi ilmiah tersendiri yang tercatat di Scopus dan memiliki dampak di dunia. Saya tidak memaksanya, tapi memberikan ruang kepada putri saya untuk mengekplorasi ruang kreativitasnya.

Kehidupan Sehari-Hari

Setiap hari, biasanya saya telah memulai pada malam sebelumnya, ketika saya menuliskan apa yang benar-benar harus saya selesaikan, dan hal-hal terakhir yang muncul. Saya tiba di kantor sekitar pukul 7.30 pagi, dan membaca dan menulis yang berkaitan dengan penelitian saya sendiri sebelum semuanya menjadi sibuk. Kemudian selanjutnya diisi dengan diskusi penelitian dengan staf dan siswa, pertemuan dengan perusahaan dan pengunjung, proposal dan dokumen. Yang saya nikmati adalah pergi ke laboratorium untuk berbicara dengan staf saya tentang eksperimen, dan bagaimana penelitian mereka mengalami kemajuan. Saya mencoba pulang pukul 18:30.

Saya berolahraga dengan menaiki dan menuruni tangga, kemudian membantu anak perempuan saya Chan Hsi-Min, untuk mengerjakan PR-nya. Setelah makan malam kembali bekerja sampai tengah malam. Terlalu banyak email untuk dijawab. Di luar pekerjaan, saya menghabiskan sebagian besar waktu luang saya dengan putri saya. Saya lahir di Taiwan tetapi tinggal di Singapura dari usia tujuh hingga 15 tahun, dan masa sekolah saya di sini adalah hari-hari terbaik dalam hidup saya. Tapi sekarang, ada begitu banyak tekanan untuk tampil di sekolah, dan sedikit waktu untuk membaca atau bermain.

Kadang-kadang kami pergi ke taman, dan dalam perjalanan ke luar negeri saat dia sedang berlibur. Paparan budaya yang berbeda adalah penting dan anak-anak belajar dengan banyak proses. Saya merasa sistem tersebut menjadi terlalu kaku. Ini membunuh keingintahuan dan kreativitas mereka.

Sumber: The Straits Times, rahyafteha.ir, aboutislam.net

Tentang Penulis

Ahmad Lukman A.

Berpengalaman menjadi wartawan sejak tahun 2000 dimulai dengan bergabung di Majalah Panji Masyarakat. Lalu, melanjutkan karir di media berbasis teknologi mobile. Lulus dari S2 Ilmu Komunikasi UI dan memiliki antusiasme pada bidang teknologi dan komunikasi.

Tinggalkan Komentar Anda