Ramadan

Buya Hamka tentang Zakat (1): Menanam Kemanusiaan

Written by Panji Masyarakat

Pengantar Redaksi

Di antara kita mungkin sudah ada yang menghitung-hitung, berapa zakat harta yang harus dibayarkan. Karena, zakat yang dibayarkan di bulan  Ramadan lebih afdol dibandingkan dengan pada bulan-bulan lainnya sehingga banyak orang yang membayarkan zakat mereka pada bulan suci ini. Anda  juga mungkin sedang menimbang-nimbang, kepada siapa zakat, atau paling tidak zakat fitrah, itu akan diberikan. Diberikan langsung kepada yang berhak (musthiq) atau diserahkan kepada lembaga pengelola, misalnya BAZ (Badan Amil Zakat) yang dikelola negara seperti Baznas dan Bazda atau lembaga amil zakat, infak dan sedekah (Lazis) yang dikelola organisasi-organisasi Islam. Namun, sebelum memutuskan, sebaiknya kita simak pesan Rasulullah s.a.w. berikut: “Jika kamu hendak membagi zakat fitrah atau harta kepada fakir miskin, kenangkanlah dahulu fakir miskin dalam keluargadekat.”

Topik kita kali ini mengenai persiapan menyambut Idul Fitri. Menurut Buya Hamka, selain hari yang membawa kebahagiaan, Idul Fitri juga berkenaan dengan perikemanusiaan. Maklum, nasib anak manusia berbeda-beda. “Ada yang mujur terhormat naik ke gedung besar, ke mobil mengkilat, tetapi ada juga yang dilempar oleh nasib ke jalan raya, ke kaki lima, ke pondok di lorong beece,” kata Buya.

Jika iman dan takwa kita telah mendalam dan berurat berakar dalam jiwa kita, ungkap Buya, pada hari raya kitaa akan lebih banyak menanam rasa kemanusiaan dan kasih sayang. “Zakat mal dan fitrah kita bayarkan dan orang melarat kita tolong.”

Tidak hanya itu. Dengan berzakat, kita juga membersihkan diri kita dari kebakhilan dan sikap egoistis.

Kami sengaja menyajikan kembali tulisan Buya Hamka sekitar zakat, Idul Fitri dan hubungannya dengan perikemanusiaan, sebagai bahan renungan dan sekaligus introspeksi di saat-saat sebagian dari saudara-saudara kita dalam bulan-bulan terakhir ini menghadapi nasib kurang beruntung karena kena dampak virus corona,  yang semoga akan cepat berakhir.

Memberi dan Berkurban

Masih beberapa hari  lagi hari raya akan tiba, pikiran orang yang berharta mulai sebabnya Rasulullah s.a.w. bersabda, “Jika kamu hendak membagi zakat fitrah atau zakat harta kepada fakir miskin, kenangkanlah dahulu fakir miskin dalam keluarga terdekat.”

Kita yang tinggal di Jakarta kebanyakan berasal dari daerah lain. Ketika permulaan penyerahan kedaulatan, penduduk Ibu Kota belum sampai dua juta. Sekarang sudah sampai delapan juta (pada awal 1980-an, Red.). Kadang-kadang dalam satu keluarga, empat atau lima orang bersaudara sekandung datang ke kota metropolitan. Kadang-kadang bukan keluarga, tapi kita sama-sama datang dari kampung halaman, satu tepian tempat mandi. Sesampai di Jakarta kita mencoba untung nasib masing-masing. Ada yang mujur terlompat naik ke gedung besar, ke mobil mengkilat, tetapi juga ada yang dilempar oleh nasib ke tepi jalan raya, ke kaki lima, ke pondok di loreng becak-tidur disana, bertanak disana, dan makan minum disana.

Maka didoronglah orang kaya oleh iman mereka kepada Tuhan untuk mengenangkan kembali saudaranya yang dahulu. Dulu mereka sama-sama datang dari kampung dalam keadaan yang sama, polos sekarang sudah berbeda nasib. Karenanya tersadarlah hati mereka untuk mendorong saudaranya itu.

Apabila iman kita telah mendalam dan takwa kita sudah berurat berakar dalam jiwa kita, pada hari raya kita akan lebih banyak menanam rasa kemanusiaan dan kasih sayang. Rasa memberi dan berkurban. Zakat dibayar, fitrah dibayar, dan yang melarat ditolong. Iman diperteguh, ukhuwah (persaudaraan) diperkuat.

Dipandang dari segi kita bernegara, sebagai seorang muslim dan mukmin saya katakan bahwa hari raya adalah pelaksanaan Pancasuila yang sejati. Banyak orang yang lupa kepada inti kandungan Pancasila. Oleh karena bungkusnya atau mereknya terlalu populer dan banyak disebut setiap hari, maka orang tidak menyebut lagi isinya.

Awal mula agama ialah mengenal Tuhan. Mengenal Tuhan diiringi dengan ibadah kepada-Nya. Ketuhanan Yang Maha Esa bukan semata-mata tertulis, melainkan tertanam dalam lubuk hati, terhunjam dalam ruang jiwa. Kita cinta kepada Allah, kita ikuti perintah-Nya, kita hentikan larangan-Nya. Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin, Salatku dan ibadahku, bahkan hidupku dan matiku seluruhnya untuk Allah Rabbul Alamin.

Demi Allah, Tuhan yang menciptakan seluruh alam ini dan menciptakan manusia dengan segenap akal pikirannya, tidaklah beriman kalau nama Allah hanya ditulisan saja, tetapi tidak dihayati dalam hati. Tidak melakukan makrifat kepada-Nya tidak rindu akan karunia-Nya, tidak takut akan siksa-Nya, tidak pula terbukti dalam hidup sehari-hari. Dan, tidaklah akan tercapai keselamatan dan kebahagiaan kalau Tuhan hanya sekedar sebutan.

Apabila iman kepada Tuhan Yang Maha Esa itu telah mendalam, tidaklah masuk akal bahwa seseorang tidak berperikemanusiaan. Allah berfirman, “Dan tidaklah kami utus akan dikau, ya Muhammad, melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Bersambung

Sumber:Majalah Panji Masyarakat, 26 Januari 1998.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda