Cakrawala

Koronaspirasi

Anis Sholeh Ba'asyin
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Kalau mampu mengambil jarak yang cukup, sebenarnya kita bisa menemukan kelucuan-kelucuan di balik wabah korona kali ini. Salah satunya, yang paling menarik, adalah merebaknya narasi tentang konspirasi.

Selalu ada sekelompok orang atau organisasi sangat berkuasa yang secara diam-diam dan rahasia merencanakan suatu atau serangkaian peristiwa sejarah besar. Demikian dasar narasi teori konspirasi. Dan, karena pandemi kali ini jelas lebih dari sekadar memenuhi syarat untuk disebut sebagai sebagai peristiwa sejarah besar, tak ayal lagi ia segera menjadi magnet bagi berkembangnya narasi tersebut.

Teori ini bisa dipakai dan dikembangkan oleh siapa saja, termasuk oleh pemerintah atau negara. Nah, setidaknya dalam kasus pandemi kali ini, ada kombinasi menarik antara narasi konspirasi yang dibiakkan negara dengan narasi yang disemburkan masyarakat, alias oleh ‘swasta’.

Narasi konspirasi yang diproduksi oleh negara ini umumnya beraroma konstelasi politik dunia, plus adanya perang dagang antara Amerika dan China. Pihak China dan supporternya serta pihak-pihak yang sejak awal bermasalah dengan Amerika, otomatis menuding Amerika sebagai biangnya. Sementara pihak Amerika dan pendukungnya langsung menuduh China sebagai penanggung-jawabnya.

Seorang pejabat senior China misalnya, mengklaim virus itu dibawa ke China oleh anggota Angkatan Darat Amerika Serikat, yang disebut sebagai pasien 0. Meski tak tersurat, tapi klaim ini jelas mengarah ke tuduhan bahwa Covid-19 adalah jenis senjata biologis. Teori ini bahkan diizinkan berkembang luas di media sosial China yang sebenarnya dikontrol ketat; dan otomatis juga berhamburan ke negara-negara yang punya kedekatan tertentu dengan China.

Sementara Presiden Nicolás Maduro dari Venezuela, yang bermasalah dengan Amerika, bahkan terang-terangan menduganya sebagai senjata biologis ciptaan Amerika yang ditujukan untuk China. Dugaan serupa juga berkembang di Iran dan beberapa pendukung pemerintah Rusia, termasuk di Eropa Barat.

Di pihak lain, pemerintah Amerika menuding China sebagai sumber masalah. Donald Trump sejak awal menyebut virus ini sebagai virus Wuhan, bahkan virus China; untuk menekankan bahwa pemerintah China-lah yang paling bertanggung jawab terhadap pandemi ini.

Setidaknya ada dua pintu masuk yang dipakai Amerika untuk menyerang China; pertama, yang paling ringan, pemerintah China di awal kejadian dianggap lalai bahkan menutupi fakta tentang potensi bahaya dari virus ini; yang akhirnya menyebabkan banyak negara terkena imbasnya.

Terkait ditutupinya fakta ini, Amerika bukan hanya menuding China, tapi juga WHO. Ini karena pada 14 Januari, WHO berdasar pernyataan dari China, masih menyatakan bahwa penularan virus ini hanya dari hewan ke manusia, tidak manusia ke manusia.

Pernyataan resmi WHO inilah yang dianggap menyebabkan banyak negara tidak bisa sigap bersiaga; dan segera menjadi sandaran Trump untuk menyebut WHO sebagai kaki tangan pemerintah China. Sebagai wujud kemarahannya, Trump menghentikan bantuan ke badan PBB yang membidangi kesehatan tersebut.

Yang kedua, Amerika berusaha membuktikan bahwa virus ini berasal dari laboratorium Institut Virologi Wuhan. Ini tentu saja tuduhan yang lebih serius ketimbang sekedar menutupi fakta. Mungkin agak sulit bagi Trump untuk menuding China telah dengan sengaja merekayasa virus korona, karena banyak ahli sepakat bahwa virus SARS-CoV-2 ini alamiah; tapi yang setidaknya dicoba dinarasikan adalah bahwa pandemi ini disebabkan oleh keteledoran pengelolaan laboratorium, sehingga virus ‘bocor’ ke luar.

Dan pemerintahan Trump bukan sekadar melempar tuduhan, tapi sekaligus menguatkannya dengan ancaman penuntutan. Dia berencana menuntut pemerintah China atas semua kerugian yang dialami Amerika karena pandemi ini.

Genderang yang sama juga ditabuh oleh Australia dan sementara pihak di Jerman; dan, kalau narasi ini semakin menguat, bukan tidak mungkin akan diikuti oleh banyak negara lain. Jangan lupa, semua ini hanya masalah narasi, bukan pembuktian. Narasi yang lebih kuatlah yang punya kemungkinan paling besar untuk jadi kenyataan.

Sekarang kita coba lihat hubungan dan beberapa ‘perkawinan’nya narasi di atas dengan narasi-narasi ‘swasta’ yang berkembang di masyarakat. Kalau kita amati, di satu sisi narasi-narasi ‘swasta’ ini tampak lebih teguh memegang prinsip dasar teori konspirasi; bahwa ada kekuatan beberapa orang atau organisasi yang sangat berkuasa melampaui negara di balik pandemi kali ini. Di sisi lain, kambing hitam yang dituding ternyata berbeda-beda. Bisa jadi karena sejak awal memang lahir dari perbedaan orientasi politik dan pemihakan.

Di kalangan pendukung Trump misalnya, seperti terlihat di media sosial dan unjuk rasa yang mereka lakukan, rata-rata menuding pihak demokrat sebagai biang keladinya. Sebagian besar mereka bahkan tak ragu menyebut bahwa pandemi ini hanya isu yang sengaja ditiupkan lewat media. Pandemi hanya fake news, jumlah korban sengaja digelembungkan agar orang takut dan seterusnya. Kontra isu yang kemudian ditonjolkan ke permukaan adalah: kebebasan; karena mereka menganggap bahwa pandemi ini merupakan upaya sistematis untuk membelenggu kebebasan manusia.

Narasi awal ini kemudian berkembang lebih jauh: ada ‘main-mata’ pihak partai Demokrat dengan China dalam merancang pandemi kali ini. Kemudian muncul nama-nama seperti Bill Gates, Anthony S. Fauci dan seterusnya. Dan narasi-narasi yang terus berkembang dan dikembangkan ini kemudian menyebar kemana-mana, ke hampir sebagian besar masyarakat dunia. Di Inggris, juga beberapa negara lain, narasinya masih ditambah lagi dengan: virus ini disebarkan lewat teknologi 5G; sehingga beberapa menara 5G sempat dibakar massa di sana.

Apa pun narasi yang kemudian berkembang luas di masyarakat, sebenarnya masih bisa dilihat dan dilacak muasalnya, yakni sebagai bagian dari perang propraganda dalam skala massif oleh pihak-pihak yang sedang saling menyerang dan bertahan dalam menyikapi pandemi kali ini. Perang propaganda ini pada dasarnya bukan cuma terjadi antar negara yang bersaing, tapi juga bisa melibatkan antar kekuatan di dalam satu negara.

Salah satunya yang sempat viral adalah tuduhan Philip Giraldi, mantan pejabat intelijen militer CIA dan mantan spesialis ahli-terorisme Amerika Serikat, bahwa  SARS-CoV-2 virus penyebab COVID-19 tidak muncul secara alami melalui mutasi melainkan diproduksi di laboratorium. Ia malah menyebutnya sebagai hasil kerja sama Amerika dan Israel.

Bahkan dalam video mutakhir tentang teori konspirasi yang baru-baru ini beredar luas, Plandemi, aroma perang propraganda di intern Amerika sebagai kendali utamanya pun masih cukup terasa. Perang propaganda yang dianggap perlu dimenangkan untuk menentukan posisi, supremasi dan hegemoni politik-ekonomi masing-masing pihak di dalam satu negara atau antar negara setelah pandemi usai.

Sebagai awam, pertanyaan kita akan sama: siapa yang bisa kita percaya dalam carut-marut seperti ini? Tidak mungkin ada orang atau pihak yang tahu tentang semua. Ini adalah kenyataan yang tidak perlu lagi dibuktikan. Justru yang menyatakan sebaliknyalah yang harus dipertanyakan. Meski demikian, kenyataan inilah yang justru paling sering dimanfaatkan dan dimanipulasi orang untuk mencapai tujuan-tujuannya.

Ada kanker ganas yang sejak lama menyerang tubuh peradaban kita. Itu jelas. Banyak juga yang sudah mengungkap dan bahkan memperingatkannya dengan keras. Kanker ganas yang terus tumbuh menggurita di hampir semua lembaga; mulai dari lembaga politik, ekonomi sampai dengan farmasi dan media. Kanker yang benihnya bernama: keserakahan.

Pertanyaan lanjutnya adalah: masih percayakah kita pada narasi yang justru lahir dari dan dikembangkan oleh pusat-pusat kanker peradaban ini? Masih bersediakah kita menjadi bagiannya? Masih akan kita gadaikan sekali-lagikah kedaulatan kita sebagai manusia?

Wa makarụ wa makarallāh, wallāhu khairul-mākirīn.

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda