Ramadan

Covid-19 Sebagai Puasanya Umat Manusia Atas Alam Semesta

Puasa tahun ini begitu istimewa, karena  kita menghadapi tantangan pandemi Covid-19. Umat manusia di abad ini, khususnya umat Islam, baru menghadapi pandemik yang  sangat berbahaya: virus SARS-CoV-2 yang tidak tampak, menular tanpa terlihat, mematikan, penyebarannya begitu massif, belum ada vaksinnya, dan memaksa orang untuk mengisolasi diri di rumah.

Covid-19 memutuskan kebiasaan-kebiasaan lama kaum Muslim, khususnya  di bulan puasa. Misalnya, kita biasa buka bersama di restoran dengan saudara atau kawan, tetapi sekarang kita dipaksa oleh kondisi untuk tetap buka di rumah sendiri atau bersama keluarga; kita biasa salat terawih di masjid. Tetapi kini ada kondisi yang tidak memungkinkan bagi kita untuk berkumpul demi pembatasan sosial/fisik; kita biasa mudik (silaturahim ke kampung halaman), tetapi kini terpaksa harus tetap di tempat rantauan.

Puasa yang istimewa membuat kita termenung dan bertanya-tanya, ada gerangan maksud Allah dengan semua ini? Apakah Allah memberi azab/siksa kepada kita atau ujian atau peringatan?

Tentu pertanyaan semacam  itu harus dijawab dengan dialektika antara iman dan logos/akal. Hal yang utama dalam hidup manusia adalah menghadapi kehidupan sesusah apa pun dengan kepercayaan terhadap Allah, Tuhan Yang Kuasa, Yang Agung, Yang Pengasih dan Penyayang, the Ultimate Reality, the Divine atau apa pun itu namanya. Namun kepercayaan yang disebut iman ini tetap harus didialektikakan, diimbangi atau direfleksikan melalui logos/akal. Dalam hal ini, posisi antara wahyu yang diimani dan akal sifatnya konstitutif dan menopang.

Di masa Covid-19, bagi kita menjadi amat sangat penting untuk tidak dilupakan nantinya di masa depan bahwa masa sekarang adalah kondisi krusial bagi umat manusia, khususnya umat Islam untuk memikirkan kembali relasi antara wahyu/iman dan logos/akal.

Bagi umat Islam, wahyu/iman tanpa akal menjadi buta (kedangsrakan), akal tanpa wahyu/iman akan menjadi destruktif. Keduanya harus seimbang, berdialektika dalam harmoni. Dan sebagai umat Islam, kita harus bisa menempatkan posisi dan dimensi keduanya. Jangan sampai semua diimani tanpa metodologi berpikir atau semuanya diilmiahkan, di-sains-kan, dirasionalisasikan, tanpa adanya peran wahyu/iman.

Wahyu/Iman tanpa Logos/Akal

Menyebarnya Covid-19 menjadi mudah melalui perkumpulan kaum beragama dalam momen keberagamaan mereka yang dianggapnya sakral, ritual, transcendental, dan suci, karena semuanya atas dasar iman terhadap wahyu Allah. Apa pun agamanya. Siapa pun yang menghalanginya, maka dikatakan sebagai berani kepada Allah. Ada yang percaya bahwa sakit atau tidak sakit karena Covid-19 adalah takdir Allah. Secara emosional, begitu banyak orang Islam tetap berkumpul beritual seperti salat Jumat, tarawih, dan sejenisnya.

Memang “banyak” itu relatif sebab mayoritas umat Islam Indonesia tetap menaati pembatasan sosial/fisik. Mayoritas ini didorong oleh gerakan Islam Muhammadiyah, NU, dan sejenisnya disertai para ulama dan ustad yang mempunyai metodologis berpikir sama dengan gerakan Islam mayoritas tersebut. Bisa jadi yang awalnya ekstrem menentang argumen dan saran para ilmuwan (sains), semakin sadar mengikuti yang pro sains. Mereka menjadi semakin moderat.

Logos/Akal tanpa Wahyu/Iman

Dalam konteks logos/akal tanpa wahyu/iman, walaupun tidak seekstrem argumen tersebut, poin utamanya adalah Covid-19 adalah bagian problem humanisme Barat atau pencerahan Barat atau modernitas.

Begitu banyak aspek positif dalam arus modernitas yang muncul dari peradaban Eropa saat itu. Adanya listrik, mesin cetak, transportasi, dan era industrialisasi yang semakin memudahkan umat manusia. Pencarian kemudahan tersebut berkembang menjadi sikap materialisme dengan proses ekspansi ke luar wilayah non-Eropa atas nama pencerahan, modernisasi, dan sejenisnya.

Namun tidak semuanya indah sesuai dengan pilihan rasional manusia modern yang terencana. Faktanya, hidup tidak semuanya dapat dikendalikan logos/akal, sebab selalu ada efek dari semua tindakan dan kehendak manusia (modern). Begitu banyak efek negatif dari modernitas seperti kerusakan lingkungan, khususnya sampah plastik yang sudah amat sangat ekstrim, yakni membunuh binatang-binatang di laut dan burung-burung. Selain itu kondisi pemanasan global, perubahan iklim, dan kini muncul covid-19.

Ekosistem kita hancur karena intervensi manusia yang dominan sejak era industrialisasi. Begitu banyak penelitian tentang kerusakan bumi ini yang dibingkai dalam konsep Anthropocene,yakni kondisikehancuran bumi karena ulah logos manusia. Singkat kata, berakalnya manusia modern melupakan batas dirinya atas eksistensi alam. Prinsip kebebasan berpikir membuat manusia modern justru tanpa kendali, mengekspolitasi alam semene-mena demi pembangunan ekonomi, pertumbuhan, dan kemajuan.

Terlalu percaya kepada logos/akal membuat hal itu menjadi pagan atau idol bagi manusia. Allah dilupakan, ditinggalkan dalam kesadaran manusia, setidaknya hal itu tercermin oleh kata-kata Nietzsche, “God is Death”. Manusia sendiri yang telah ‘membunuh’ kesadaran keilahiannya. Dalam hal itu, Allah sudah berubah fungsi menjadi komoditas pasar melalui simbol dan institusi keagamaan. Di situ ada sirkulasi ekonomi-bisnis yang bergerak dalam sistem dunia yang materialisme. Singkatnya, logos/akal adalah kepercayaan baru yang menggantikan Allah. Bagi manusia modern.

Islam dan Covid-19

Covid-19 dipahami oleh umat Islam sangat relatif dan subjektif, apakah azab/siksa atau ujian atau peringatan. Pemahaman ini tergantung pada komunikasi kita kepada Allah. Akal menempati posisi penting dalam wahyu/iman dalam memaknai Covid-19.

Dalam studi neuroscience, manusia mempunyai dua sisi otak: kanan dan kiri. Bagian kanan diisi oleh urusan wahyu/iman seperti hal-hal yang sifatnya transcendental, makna-makna misterius dan interpretatif, eksistensial. Bagian kiri diisi oleh karakter logos, yakni terkait dengan realitas objektif, empiris, faktual, dan metodologi sains.

Wahyu/iman tidak dapat membawa secara keseluruhan dan general suatu kesembuhan penyakit kecuali mukjizat Allah (tidak setiap saat mukjizat terjadi). Secara umum peran logos dalam bentuk sains mengambil peran dalam penyembuhan penyakit. Namun logos tidak mempunyai kemampuan seperti wahyu/iman yang dapat memberi manusia energi hidup di level eksistensial seperti solusi manusia dari kesendirian, kekeringan hidup, tragedi, keputusasaan, dan perasaan keterlemparan hidup di dunia serta pengendalian emosi.

Puasa adalah salah satu praktik iman/wahyu yang penting, karena aktivitas puasa dimaknai sebagai rem, kontrol diri manusia. Puasa memberi pengetahuan akan batas tindakan manusia. Puasa memberi pemahaman bahwa logos manusia terbatas tidak hanya dalam memahami wahyu/iman, tetapi memahami alam semesta. Oleh sebab itu puasa sebagai praktik spiritualisme seharusnya memberi landasan kuat bagi manusia dalam menggunakan akalnya.

Misalnya, ilmuwan Islam jaman Andalusia yang mengembangkan sains demi pencarian kebenaran Allah. Sains mengungkap kebenaran Allah sehingga iman semakin kuat. Di sini ada dialektika antara iman dan akal. Iman justru mendukung pengembangan sains. Praktik puasa adalah tindakan keimanan ilmuwan muslim sebagai dasar spiritual bahwa dalam pengembangan sains, manusia ada batasnya (perlu rem). Bumi dan semesta dipandang sebagai makhluk Allah yang sakral. Bumi dan semesta adalah tanda-tanda (ayat) wujud Allah (kauniyah). Oleh sebab itu, mereka harus dihormati, dihargai, dan diperlakukan adil.

Covid-19 lebih utama dipahami sebagai tanda peringatan batas manusia modern. Manusia modern telah sombong, melampaui batas sehingga dipaksa puasa (melalui Covid-19) dalam memperlakukan alam.

Secara subjektif, bagi orang yang merasa belum atau tidak beriman, Covid-19 adalah azab/musibah/sial, tetapi bagi umat Islam yang merasa mempunyai iman atau percaya pada wahyu Allah, maka Covid-19 adalah ujian seorang muslim agar keimanannya semakin kuat, teruji, terukur sampai pada level ketakwaan yang sebenar-benarnya.

Covid-19 memberi kesadaran bahwa manusia perlu puasa (kontrol) dalam memperlakukan alam semesta. Bagi umat beriman, Covid-19 adalah pandemi (pembawa penyakit) yang pasti ada vaksinnya. Percaya atas hal ini adalah bentuk iman (tarikat) sedangkan akal memberi jalan (syariat) melalui bentuk sains untuk penemuan obatnya. Ke depan, hidup dalam new normal seharusnya umat manusia memperlakukan alam semesta lebih adil dan hormat, karena bagi umat beriman, alam semesta adalah wujud Allah yang sakral.

About the author

Musa Maliki

Dosen FISIP UPN Veteran Jakarta dan Anggota Kehormatan Jaringan Intelektual Berkemajuan; Karyanya (bersama Asrudin Aswar) "Oksidentalisme: Pandangan Hassan Hanafi terhadap Tradisi Ilmu Hubungan Internasional Barat" (2019)

Tinggalkan Komentar Anda