Muzakarah

Soal Jodoh di Tangan Allah

Ditulis oleh Panji Masyarakat

Saya, dan mungkin kita semua, pernah mendengar bahwa jodoh itu di tangan Allah. Yakni  bagian dari takdir Tuhan. Kalau saya lihat orang Islam yang kawin dengan nonmuslim, dan perkawinan mereka berlangsung hingga beranak-pinak, bahkan hingga salah satunya meningga dunia, saya berpikir apakah ia memang jodoh dari Tuhan? Mengapa ia diberi jodoh nonmuslim?

Ira (Jakarta)

Jawaban KH Ali Yafie:

Takdir itu ada di tangan Tuhan. Dan manusa dalam perjalanan hidupnya, biasanya berlindung di balik takdir. Termasuk dalam soal jodoh. Padahal, meski soal ini bagian dari takdir, itu masih dalam lingkup ikhtar (usaha) manusia.

Saudari Ira, takdir itu ada yang memang berada di luar kekuasaan manusia sama sekali. Misalnya: gempa bumi. Manusia tidak akan sanggup mecegahnya. Paling-paling hanya dapat memprediksinya.

Namun, ada takdir ketika manusia diberi peluang untuk berinteraksi dengannnya. Misalnya, orang lahir dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Kalau ia tidak mau berusaha dan tetap saja bodoh, tak mau belajar, ia tidak dapat berlindung di balik takdir. Begitupun dalam soal jodoh. Manusia dalam hal ini bisa mengusahakan untuk mendapatkan jodoh yang beragama Islam, misalnya.

Saya bukan penganut paham kebebasan manusia (qadariyah). Mereka ini berpendapat, manusia punya kebebasan mutlak untuk mengatur dirinya sendiri. Bagi saya, manusia bisa berusaha dalam batas-batasyang ditentukan oleh Tuhan, tapi kita tidak tahu sampai mana. Itu bagian dari ilmu Tuhan. Tapi, kita wajib berusaha, berpikir, dan berikhtiar.

Misalnya, menurut para pakar ilmu pengetahuan, dalam DNA manusia tercantum bakat-bakat dirinya. Ini semacan determinisme ilmiah. Tapi, orang kan masih punya peluang untuk berusaha. Kira-kira seperti itulah.***


*Prof. KH Ali Yafie,  Ketua Dewan Penasihat Panji Masyarakat. Pernah menjabat Ketua MUI Pusat (1990-2000), pejabat sementara Rais Aam PBNU (1991-1992), setelah sebelumnya menjabat wakil Rais Aam dari tahun 1989. Sumber: Panji Masyarakat, 5 Juli  1998

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda