Ramadan

Buya Hamka tentang Puasa (12): Saat-saat Pendek yang Menentukan

Berusia seribu bulan pun telah terlalu lama. Jarang manusia yang mencapai usia melebihi 90 tahun. Kalaupun ada, kekuatan sudah tidak ada lagi. Tetapi Tuhan membuka kepada kita saat-saat pendek yang menentukan arah seluruh hidup kita ini.

Pada suatu hari seorang jahiliyah musyrik mencari Nabi s.a.w.  hendak membnuhnya. Sebab dia memandang Rasulullah seorang pengacau. Di tengah jalan ada orang yang bertanya: “Engkau hendak ke mana?” Si musyrik itu menjawab: “Hendak mencari Muhammad, hendak membunuhnya. Karena telah banyak pemuda yang sesat dari ajaran nenek moyang mereka disebabkan mengikuti ajaran Muhammad.” Lalu orang bertanya itu menasehatinya bahwa sebelum mencari Muhammad pergilah lihatlah adik perempuanmu yang telah berubah. Dengan segera dan marah ia pergi ke rumah adik perempuannya. Setelah sampai dilihatnya adiknya sedang membaca sebuah catatan dengan amat khusyuk  dan suaminya ikut pula mendengarkan. Kedua suami istri itu tahu kalau dia masuk, tapi mereka tidak memperdulikannya. Dengan garang dia minta catatan itu dari adiknya, dia hendak tahu apa isinya.

“Tidak mau,” kata adiknya. Abang tidak boleh, jangankan membacanya, menyentuhnya pun tidak boleh.”

Dengan amat murka ditempelengnya sang adik hingga berdarah pipinya dan terjatuhlah catatan yang dibacanya. Lalu, catatan itu dipungut sang Abang dan membacanya. Isinya pangkal surat At-Thaha, ayat 1-5: “Tidaklah kami turunkan kepada engkau Alquran supaya engkau sengsara. Melainkan peringatan bagi orang yang takut. Diturunkan oleh yang menjadikan bumi dan langit yang tinggi yaitu Yang Maha Murah yang bersemayam di atas Arasy.”

Dibacanya ayat-ayat itu dua tiga kali, diulang-ulangnya, maka datanglah suasana yang menentukan arah hidup manusia seribu bulan. “Di mana Muhammad sekarang. Bawa aku kepadanya. Aku akan masuk Islam!”

Itulah Umar ibn Khattab.

Seorang pemuda merayap malam-malam mencari perempuan yang akan dapat diajaknya  berzina. Tiba-tiba dilihatnya di suatu rumah lampunya terang dan kedengaran suara perempuan sedang bernyanyi dengan suara yang merdu. Sudah dia tahu bahwa di rumah itu memang ada perempuan cantik tidak bersuami. Pemuda itu menyelinap masuk rumah itu. Di muka kamar perempuan itu dia tertegun melihat rupa perempuan itu yang cantik dan mengedengarkan suaranya yang merdu bernyanyi. Rupanya perempuan itu bukan bernyanyi melainkan membacakan Alquran dengan sangat khusyuknya. Tepat didengar pemuda itu: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman buat tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah Dia turunkan.” (Al-Hadid: 36).

Seakan-akan kepadanyalah dipukulkan ayat itu. Padahal wanita itu tidak tahu bahwa ada orang yang sedang mengintipnya. Telah datang saat itu suatu saat yang mempunyai nilai lebih dari seribu bulan. Sejak malam itu berubahlah hidupnya sama sekali. Itulah orang saleh yang terkenal, fudhail  Ibn Ayyad.

Di Bukittinggi, kira-kira 80 tahun yang lalu,  seorang pemuda parewa (berandal) dikejar-kejar orang pukul tiga pagi. Dia menyembunyikan diri di tebat (kolam ikan) di pekarangan sebuah surau. Setelah dicari-cari tidak bertemu. Yang mengejar telah pergi. Dia masih terus bersembunyi sampai datang waktu subuh. Tiba-tiba didengarnya azan subuh. Demi setiap kalimat azan itu laksana dituangkan rasanya ke seluruh jiwa raganya. Telah datang kepadanya saat yang nilainya lebih seribu bulan.

Mulai waktu itu berubahlah hidupnya. Kepada ayahnya minta diantar ke Mekah. Beberapa tahun dia disana kemudian barulah pulang dan menjadi ulama besar. Itulah almarhum Syekh Muhammad Jamil Jambek. Bersambung.


Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 19 Januari 1998.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda