Tafsir

Tafsir Ayat-ayat Puasa (8): Puasanya Kaum Ritualis

Written by Panji Masyarakat

Selama taqwa, yang dalam ayat disebutkan sebagai tujuan puasa, selalu hanya diterangkan dalam konteks pribadi, nilai-nilai moral agama akan tetap hanya tinggal di masjid dan musala-musala dan tak akan pernah memberi sumbangan apa pun dalam mengobati penyakit-penyakit sosial, termasuk yang justru structural.

Orang mengatakan, apa yang dilihat sebagai kemajuan keberagaman Islam di Indonesia baru bersifat ritualistis. Itu sudah satu karunia: bukan main banyaknya saudara kita yang menemukan kebahagian lewat ibadah. Tapi kalau itu disebut ritualisme, terdapat lebih dari satu wujud ritualisme. Pertama, ritualisme dari mereka yang menganggap tidak ada hubungan (yang menentukan) antara agama, yang dipahami sebagai keibadahan, dan masalah-masalah sosial — kecuali seperti zakat, yang juga dilaksanakan sebagai ritus. Kedua, mereka yang dengan sadar menumpuk pahala akhirat lewat berbagai ibadah formal, dengan keyakinan bahwa kalaupun dalam akhlak sosial mereka menubruk dosa, itu bisa dihapus oleh berbagai ibadah mahdhah yang mereka lakukan. Dan ketiga, mereka yang menjadikan agama kumpulan resep. Salat sunah, puasa sunah, mutih, wirid ini dan itu, dikerjakan demi tercapainya tujuan  yang duniawi. Tujuan mereka memang bukan akhirat.

Sudah tentu ketiga-tiganya bisa dianalisis. Sikap golongan kedua, misalnya bisa dinilai sebagai “pemakaian yang salah” isi ujar-ujaran Abdullah ibn Umar r.a (bagi yang tahu) seperti yang diriwayatkan Bukhari, yang biasanya disangka hadis Nabi s.a.w. Yakni “Bekerjalah untuk duniamu seakan engkau hidup abadi, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan engkau mati esok hari.” Tentu saja sahabat Nabi itu bukan tak tahu, demikian asumsi positif, bahwa semua kerja dalam hidup, yang dihubungkan dengan Allah dalam kesadaran yang disebut niat, menjadi kerja akhirat. “Semua kerja tergantung niat  masing-masing” — hadis Nabi riwayat semua Imam.

Penyebutan duniawi-ukhrawi itu dilakukan Ibn Umar sebagai cara mempertegas asungan bagi kerja keras untuk tujuan (halal) apa pun. Tetapi “pembelahan” ujar-ujaran itu untuk memisahkan kerja duniawi, yang “sudah tradisinya” mentolerir dosa, dan kerja akhirat yang dianggap bisa menghapuskannya, sudah satu pelecehan isi ajaran lain — bahwa semua amal baik punya syarat qabul (penerimaan) Allah, sementara amal buruk (kecuali yang karena dipaksa) pasti “diterima”. Jadi, bagaimana amal yang belum pasti dikabulkan (apalagi yang diperbuat untuk “memulihkan” yang buruk yang dikerjakan dengan sengaja, yang justru menunjukkan tiadanya keikhlasan, yang merupakan syarat qabul) bisa diandaikan sebagai penghapus?

Masalahnya, akhirnya, kembali kepada tiadanya ruh agama dan ruh ibadah, termasuk ruh puasa. Dan selama bukan ruh ini yang ditanamkan, lewat berbagai pengajian ceramah tarawih, dan seluruh sarana pendidikan sejak kanak-kanak, dan selama pengajian “tingkat atas” hanya diberikan sekadar sebagai elus-elusan perasaan sambil  menjalin koneksi, selama taqwa, yang dalam ayat disebutkan sebagai tujuan puasa, selalu hanya diterangkan dalam konteks pribadi, nilai-nilai moral agama akan tetap hanya tinggal di masjid dan musala-musala dan tak akan pernah memberi sumbangan apa pun dalam mengobati penyakit-penyakit sosial, termasuk yang justru struktural, dalam perwujudan ishlah bagi masa depan yang lebih baik. Wallaahul Musta’aan. Bersambung

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang antara lain menerjemahkan Barjanzi yang dipentaskan Bengkel Teater ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 12 Januari 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda