Cakrawala

Belajar dari Rumah, Mengapa Bermasalah?

Saeful Bahri
Ditulis oleh Saeful Bahri

Survey Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), mengenai proses belajar dari rumah menunjukkan hasil  yang tidak diharapkan. Hasilnya, 58% anak merasakan hal yang tidak menyenangkan selama belajar dari rumah.

Survey PPPA itu tidak sendiri, Komisi Perlindungan Anak Indonesia juga mendapat lebih dari 200 laporan mengenai keluhan hal yang sama. Dengan demikian semakin menegaskan masalah yang muncul di masyarakat, sejak pemerintah memberlakukan segalanya dikerjakan di rumah. Meskipun kemajuan teknologi informasi berperan dalam proses belajar daring, namun efektifitas penggunaan teknologi ini dirasakan tidak tepat sasaran. Malah memberikan beban yang memberatkan para siswa dan orang tuanya. Jika belajar sudah tidak menyenangkan, hasilnya tidak akan efektif.  “When the fun stops, learning often stops too”, kata Judy Willis, seorang guru dan praktisi neourology dari Amerika Serikat.

Menyikapi masalah ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makariem, angkat suara. Menurutnya, masalah yang muncul dari proses belajar dari rumah ini, disebabkan kita semua dalam proses adaptasi terhadap sesuatu yang baru. Namun, sang menteri juga mengkritik guru yang hanya berorientasi pada pencapaian dan ketuntasan batasan materi yang ternyata menjadi beban bagi siswa.

Akar masalah dan keluhan belajar dari rumah ini terjadi, karena paradigma pendidikan bangsa ini masih berkutat pada pendekatan aspek kognitif, masih menyasar pada tujuan bagaimana supaya anak pintar dan mengetahui banyak pengetahuan. Padahal ini keliru dan tidak proporsional. Apalagi prosesnya terjadi di saat pandemi Covid-19 masih berlangsung.

Sekolah memang belum tergantikan, meski ditemukan banyak kekurangan dan setumpuk masalah. Bahkan sampai bangsa ini sudah merdeka lebih dari 70 tahun, kurikulum pendidikan di negeri ini masih bongkar pasang dan mencari-cari format yang pas. Sisi lain, mindset kita masih terjebak pada keyakinan bahwa tanpa sekolah seseorang tidak bisa meraih masa depan yang cerah. Bagaimana kecerahan masa depan itu akan terwujud, jika sekolah pendidikan masih menomorsatukan hal-hal yang bersifat kognitif saja. Padahal di dunia nyata yang dibutuhkan oleh anak-anak kita di masa depan bukan sekadar nilai akademis semata, tetapi sejauh mana mereka punya keberanian, kreatifitas, daya juang yang tinggi untuk mewujudkan impiannya.

Bahkan seorang peraih Nobel Ekonomi, James Heckman, mengatakan, keberhasilan seseorang untuk mengubah hidupnya amat sangat ditentukan oleh nilai-nilai non-kognitif, bukan kognitif. Seperti kemampuan meregulasi diri, mengatasi kejenuhan dan tekanan, sampai kemampuan menunda kesenangan. Nilai-nilai kegigihan dan ketekunan yang dilapisi akhlak mulia, yang lebih menjamin masa depan seseorang ketimbang nilai-nilai akademis yang tertera di atas kertas.

Sepanjang sejarah pendidikan itu sendiri, ada dua pakem yang menjadi tujuan penyelenggaraan pendidikan, yaitu tujuan perenial dan tujuan kontekstual. Tujuan perenial adalah tujuan permanen yang tidak boleh berubah, meskipun dunia dan situasinya berubah.

Tujuan perenial  itu adalah menanamkan nilai-nilai luhur seperti: jujur, sabar, ikhlas, rendah hati, dan segala bentuk dari karakter atau akhlak mulia dalam diri anak didik. Sehingga mereka memahami tujuan hidup dan mengisinya dengan semangat saling menghormati dan menghargai sesama manusia. Percaya kepada Tuhan dan berbakti kepada orang tua. Tujuan ini tidak bisa berubah meskipun zaman berubah. Nilai-nilai kebenaran abadi telah ada sejak penciptaan manusia. Materinya bersumber dari kitab suci dan ajaran para nabi. Metodenya adaah keteladaan dan contoh nyata dalam perkataan dan perbuatan.

Sementara tujuan kontekstual dari penyelenggaran pendidikan adalah membekali siswa dengan pengetahuan yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Ketika zaman berubah, materi dan metodologi boleh berganti.  

Dua hal di atas sebenarnya telah diketahui dan terdokumen dalam visi misi sebuah sekolah, bahkan telah ada sebelum sekolah itu melaksanakan proses belajar mengajar. Namun lagi-lagi paradigma keberhasilan seorang siswa masih diukur dengan sejauh mana kapasitas intelektual mereka, bukan emosional dan spiritualnya. Ironisnya, banyak penyeleggara pendidikan yang tidak paham visi dan  misi yang bereka buat sendiri. Akhirnya visi dan misi itu hanya menjadi hiasan dan pemenuhan syarat-syarat administratif belaka.

Trilogi Pendidikan

Ada tiga ranah pendidikan yang kita ketahui bersama, yaitu pendidikan rumah, sekolah, dan lingkungan. Dari ketiga tempat inilah seorang anak belajar dan memahami banyak hal. Masing-masing punya peran dan fungsi yang berbeda meski satu dengan lainnya berkaitan dan saling memengaruhi.

Pendidikan rumah dan sekolah memililki dampak yang lebih besar dari pendidikan lingkungan. Karena keduanya dirancang sedemikian rupa, punya orientasi dan tujuan. Keberhasilan dari kedua tempat pendidikan itu, akan menghasilkan benteng pertahanan yang kokoh, dan akan membuat jiwa seorang anak tetap stabil meski ia berada ada lingkungan yang tidak kondusif. Tapi sebaliknya, jika pendidikan rumah dan sekolah gagal, anak akan terjerumus dan mudah terpengaruh lingkungan yang negatif.

Orang tua, guru, dan masyarakat yang berperan dalam tiga ranah ini mesti memahami tugas dan kapasitasnya. Nah, di saat pandemi terjadi, orang tua memiliki porsi waktu yang berlimpah untuk mendidik anak-anaknya. Bukan menempa mereka dengan pengetahuan yang bersifat kognitif, tetapi penanaman nilai-nilai, mental, dan karakter positif.

Salah Kaprah Belajar dari Rumah

Mengapa masa belajar dari rumah saat terjadi pandemi memunculkan sederet masalah? Jawabnya, karena rumah tidak memainkan perannya, dan orang tua tidak menjalankan fungsi sebenarnya.

Tugas mendidik seorang anak adalah kewajiban orang tua. Seperti mentransfer nilai-nilai kebaikan. Sedangkan tugas guru adalah mengajar, mentransfer pengetahuan. Tapi mengapa ketika ada intruksi belajar di rumah, anak-anak masih dijejali hal-hal yag bersifat kognitif, padahal saatnya mengajarkan nilai-nilai non-kognitif, memberbaiki mental dan karakter anak lewat sentuhan orang tua.

Mengapa anak selama belajar di rumah tidak diberikan kurikulum mental? Mengapa sekolah tidak memberikan tugas-tugas yang memang sesuai dengan kapasitas dan kewajiban orang tua mendidik anak-anakmya? Bukankah membantu tugas ayah dan ibu mengerjakan pekerjaan rumah bagian dari pendidikan? Bukankah ketika orang tua dan anak punya waktu yang berlimpah disaat pandemi ini, menjadi momentum yang ideal untuk menanamkan nilai nilai ubudiah, iman dan taqwa sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan masing-masing.

Dalam ajaran Islam sendiri ada perintah untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Artinya ayat ini ditujukan kepada orang tua sebagai pemegang mandat  untuk mendidik anak-anaknya, karena anak adalah amanah dari Allah SWT. Jika seorang anak berakhlak buruk, maka yang harus disalahkan adalah orang tuanya, bukan guru.  Tapi jika anak tak pandai ilmu-ilmu tertentu bolehlah meyalahkan guru. Sedangkan PR besar dari pendidikan di negeri ini adalah soal moral dan akhlak mulia. Dan inilah yang akan menjadi kunci utama tegak dan runtuhnya bangunan bangsa. Tidakkah kita melihat betapa banyak orang berpendidikan tinggi tapi moralnya rendah.

Maka momentum pandemik ini semestinya menjadi peluang besar bagi orang tua untuk menddik mental dan karakter anak-anaknya, menanamkan iman dan taqwa, lewat ibadah ritual dan siraman rohani yang kita harapkan berbuah ahlak mulia. Bagi yang beragama Islam bagaimana memastikan anak-anak bisa membaca Al-Quran dan memahami kandungannya, mampu melaksanakan ibadah amaliah, mendidik mereka untuk peduli dan punya jiwa sosial yang tinggi dengan menolong sesama yang sedang ditimpa kesulitan.  Juga mendidik mereka menjadi warga negara yang baik dengan mematuhi aturan yang ditetapkan pemerintah selama masa pandemi.

Maka jika belajar dari rumah ini menimbulkan masalah, ini disebabkan orientasi yang salah dan tidak proporsional dengan kondisi di mana anak berada dan tidak memahami tugas dan peran orangtua.

Bisa saja nilai anak anak di masa pandemi ini ditentukan oleh penilaian orang tua, bukan oleh guru atau sekolah. Apakah mereka dinyatakan baik perangai, mental, dan akhlaknya.  Persoalan objektif atau tidak biarlah orang tua yang bertanggung jawab. Karena sesungguhnya orang tua yang paling tahu karakter seorang anak daripada gurunya,

Jika kita sepakat dengan pikiran-pikiran di atas, Masih ada wakrtu untuk memperbaiki dan menjaga momentum ini, supaya tujuan perenial dari pendidikan itu dapat tercapai. Sebab kita semua lebih menginginkan anak anak yang berakhlak mulia dari pada sekadar pintar tapi tidak berakhlak.

Kita ingin bangsa ini maju dan beradab, maka langkahnya harus dimulai dari keluarga. Di masa pandemi ini tugas pendidikan tidak hanya menjadi beban kementerian pendidikan, tapi juga Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, di bawah monitoring Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan kebudayaan (PMK).

Sebab kita sepakat, bahwa anak-anak adalah masa depan, jika mereka baik, masa depan akan baik. Akhlak mulia akan membuat mereka bahagia dan memahami tujuan hidupnya.  Agar di masa yang akan datang mereka mampu mewarnai hidup dengan warna-warna yang indah. Mereka tidak menjadi generasi yang hedonis, individualis, atau materialis. Sehingga benar benar menjadi anak yang soleh dan menjadi pasif pahala bagi orang tuanya kelak ketika keduanya telah tiada dan tentunya berguna bagi bangsa dan negara.

Akhirnya, pandemi ini pasti mendatangkan banyak hikmah. Bisa jadi sebagai orang tua selama terlalu sibuk dengan pekerjaan dan rutinitas, Sehingga lupa kewajiban mendidik anak. Bis jadi guru terlalu sibuk mengajar siswa tapi lalai mengajar dirinya sendiri.  Saatnya guru belajar, sebab jika ia berhenti belajar maka ia harus berhenti mengajar. Guru harus mau berbenah supaya tidak punah, guru harus mau berkembang agar tidak tumbang. Guru harus punya inovasi agar murid mau menghampiri. Seperti pesan Umar bin Khattab: “Ajarkanlah anak-anakmu, sebab mereka hidup di zaman yang bukan zamanmu”.

Tentang Penulis

Saeful Bahri

Saeful Bahri

Alumni dan guru Pondok Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten. Pernah belajar di UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Universitas Indonesia, dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Selain mengajar di almamernya, ia juga menulis beberapa buku di antaranya Lost in Pesantren (2017), 7 Jurus Betah di Pesantren (2019), yang diterbitkan Penerbit Republika Jakarta.

Tinggalkan Komentar Anda