Tasawuf

Sujud Bathil

Suasana menjelang sholat di Masjid Istiqlal Jakarta (foto :vjapratama/pexels)
Anis Sholeh Ba'asyin
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Mungkin kamu tidak nyaman dengan simbolisme pantat, karena dalam budaya manusia yang namanya pantat acap dianggap remeh dan bahkan hina…” jelas Mastur.

“Padahal di wilayah pantat ini terdapat dua lubang yang sangat penting bagi manusia…” sambung Masturi.

Menghadapi dua saudara kembar ini, saya benar-benar merasa menjadi orang bodoh. Hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala, itupun supaya dianggap paham saja.

“Manusia punya sembilan lubang. Tujuh di wilayah kepala, dua di wilayah pantat…” lanjut Mastur.

“Bahkan ketika masih di rahim, lubang itu ada sepuluh. Yaitu ditambah pusar, yang tertutup ketika lahir…” sahut Masturi.

“Semua lubang ini pada dasarnya bisa berfungsi menjadi pintu masuk sekaligus keluar secara biologis…”

“Tapi, secara ‘budaya’, hanya dua lubang yang dikategorikan sebagai pintu keluar, yaitu: dubur dan kelaminnya”

“Kalau perempuan?” potong saya.

“Pada prinsipnya sama. Kaitannya dengan pasangan. Pada lelaki menaman, pada perempuan menyemai dan pada akhirnya melahirkan”

“Kelamin adalah simbol reproduksi manusia…”

“Reproduksi ini secara simbolik bisa dimaknai secara luas. Bukan hanya anak-anak biologis, tapi juga ‘anak-anak’ nilai-sistem-struktur, ‘anak-anak’ kebudayaan, ‘anak-anak’ peradaban dan seterusnya…”

“Menurut Ibnu ‘Arabi, perkawinan merupakan kekuatan produktivitas universal yang terdapat di dalam setiap tingkat eksistensi. Akar perkawinan itu bermula dari kehendak awal Tuhan sendiri untuk menciptakan makhluk-Nya…”

“Bermula ketika Tuhan masih dalam Ghaib al-Guyub, yang ghaib dari segala yang ghaib alias keghaiban mutlak yang tidak akan diketahui oleh siapa pun pada tingkat mana pun, bahkan oleh Nabi dan Rasul-Nya sekali pun, kecuali Diri-Nya sendiri.”

“Kemudian Dia mengenalkan Diri sebagai al-Ahad, kemudian mengenalkan Diri sebagai al-Wahid, lalu dikenal konsep entitas-entitas tetap (al-A’yan ats-Tsabitah), lalu muncul wujud eksternal (al-wujud al-kharijiyyah), kemudian muncul alam jabarut, alam malakut, alam mulk, sampai ke dalam wujud alam syahadah mutlak seperti mineral.”

“Rangkaian proses itu sesungguhnya adalah bagian dari proses perkawinan, dalam arti terjadinya proses hubungan antar-komponen (jima’) yang melahirkan wujud-wujud selanjutnya. Dalam konteks ini terjadi proses yang satu memasuki yang lainnya (tawalluj), kemudian terjadi prokreasi (tanasul), lalu terjadilah reproduksi (tawallud).”

“Dari posisi sujud ini, kita bisa lihat bahwa yang utama adalah amal. Dengan amallah orang menanam, menyemai dan melahirkan nilai…”

“Itu semua adalah proses kawin-mawin…”

“Dan nilai terbaik adalah nilai yang lahir dari posisi sujud, dimana tujuh lubang yang ada di kepala tunduk menyerah kepada kehendak Allah…”

“Sehingga diri punya kemampuan menolak dan mengeluarkan semua unsur buruk yang mungkin terikut masuk lewat dua lubang yang ada di bawah, sekaligus bisa melahirkan anak-anak kebaikan dari perkawinannya…”

“Atau, mari kita sedikit memutar, memakai perumpamaan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari…”

“Secara umum, bisa dikatakan bahwa kesehatan jasad manusia akan sangat ditentukan oleh akumulasi kualitas dan kuantitas apa yang dimakan dan diminumnya…”

“Atau dengan kata lain, akumulasi apa yang masuk ke perutnya…”

“Dan cara yang paling awal dan umum dipakai untuk memeriksa kesehatan, adalah dengan memeriksa urine dan feses atau tinjanya…”

“Dari urine dan feses, bisa segera diketahui ada atau tiadanya penyakit…”

“Jangan lupa juga, urine dan feses itu sifatnya sisa yang memang dibuang karena tidak dibutuhkan tubuh atau karena bersifat toksik, racun…”

“Sementara yang berguna, menjadi darah; yang beredar ke seluruh tubuh membentuk jaringan otot dan syaraf di semua organ…”

“Secara sederhana, bisa dikatakan bahwa bila akumulasi yang masuk ke tubuh kita secara kualitatif dan kuantitatif sehat, maka tubuh akan sehat dan pembuangan kita juga sehat.”

“Bila sebaliknya yang terjadi, maka tubuh kita akan menunjukkan gejala tidak sehat, dan itu bisa mulai diperiksa dari apa yang keluar dari lubang kelamin dan dubur, yakni urine dan feses.”  

“Sekarang kita coba tinjau dari sisi lain lagi. Rasulullah pernah bersabda: Iblis merasuki diri manusia lewat aliran darah.”

“Kita tahu, kecuali membentuk jaringan otot dan syaraf di semua organ, darah adalah juga sumber energi bagi manusia.”

“Salah satu pengertian dasar nafs, yang acap ditafsirkan dengan diri, juga dikaitkan dengan darah.”

“Sementara darah sendiri adalah bentuk ekstraksi dari makanan yang kita konsumsi. Artinya energi muncul dari makanan yang kita konsumsi. Nah, dengan demikian salah satu pengertian yang bisa kita ambil dari hadits ini adalah: salah satu jalan masuk Iblis mempengaruhi manusia adalah lewat makanan yang dia konsumsi; makanan yang kemudian diolah dan diekstraksi menjadi darah.”

“Ada banyak kategori yang sebenarnya bisa dipakai untuk menentukan jenis-proses-bentuk konsumsi makanan yang bisa mengundang Iblis untuk ikut masuk menyertainya. Tapi tentu saja yang paling utama untuk disebut disini adalah makanan yang haram, baik bendanya, asal-usulnya maupun  proses mendapatkannya; atau paling tidak -seperti banyak diungkapkan kalangan ulama- adalah kategori makanan yang halal tapi dikonsumsi secara berlebihan.”

“Nah, karena Iblis adalah unsur api -dia berasal dari rumpun jin yang diciptakan dari inti api- maka bila kita mengkonsumsi makanan haram, atau yang halal tapi berlebihan, kita akan mendapatkan energi dari api. Energi inilah yang pada gilirannya akan mendorong kita pada keburukan, atau kalau memakai bahasa teknisnya: an-nafsun ammarah bi su’.”

“Ada contoh menarik. Seorang syaikh sufi menjadi ‘kacau’ kekhusyu’annya dalam beribadah malam hari, hanya gara-gara minum susu kambing.”

“Susu tersebut mengganggu ibadahnya, karena ternyata berasal dari kambing yang telah mengkonsumsi rumput yang diambil dari ladang orang, tanpa seijin pemiliknya.”

“Cerita ini sebenarnya hanya menegaskan, meski berasal dari sebab sepele, yakni keharaman rumput yang oleh pemiliknya sendiri mungkin tidak terlalu digubris; dan bersifat tidak langsung, rumput yang haram tersebut dikonsumsi kambing; tapi efeknya secara langsung menyebabkan sang syaikh kelimpungan dalam beribadah.”

“Tentu kita bisa berasumsi bahwa sebelumnya sang syaikh begitu teliti menjaga apa yang masuk ke mulutnya, sehingga tersentuh sedikit keharaman saja, langsung terasa dampaknya.”

“Di sisi lain, ada cerita tentang Syaikh Abu Yazid al-Busthami dan seorang pemuda, yang justru mendemonstrasikan efek sebaliknya.”

“Kisahnya, ketika mendengar tentang seorang pemuda yang begitu rajin beribadah dan menunjukkan banyak ‘keajaiban’; sang Syaikh tertarik untuk berkunjung. Semalam ia menginap di rumah si pemuda, yang tentu sangat bangga dikunjungi, dan melihat bahwa si pemuda memang ahli ibadah; siang dan malam tak pernah berhenti sholat dan membaca Qur’an.”

“Begitulah setelah melihat semua ini, sang Syaikh pulang sambil mempersilakan si pemuda untuk ganti berkunjung barang seminggu ke tempat Syaikh. Si pemuda tentu saja gembira, dan tak lama kemudian dia datang ke tempat Syaikh Abu Yazid. Tapi, belum sehari semalam, dia sudah mengeluh: ibadahnya kacau.”

“Sang Syaikh pun tersenyum menanggapi keluhan ini “Di sini semua yang masuk ke mulutmu adalah yang halal, dan kau malah mengeluh tidak tenang beribadah. Ketahuilah, ibadahmu selama ini dibantu Iblis, karena yang kau makan selama ini berasal dari yang haram!”

“Nah, itu baru ditinjau dari satu lubang saja, yakni mulut; yang kalau di tinjau dari sisi lain, sebenarnya menjadi salah satu kunci pembentuk tindakan, atau akhlak. Ketidak-tepatan memasukkan sesuatu ke lubang ini saja bisa menciptakan kerusakan begitu rupa di jasad, maupun di nafs atau jiwa.”

“Belum lagi bila enam lubang yang lain kita sertakan, mata-hidung-telinga; kalau tidak benar-benar di dalam kontrol, betapa lebih besar kerusakan yang bisa dibuat.”

“Jangan juga lupa, semua kerusakan yang kita bicarakan di sini pertama-tama dan yang utama bukanlah ke orang lain, tapi ke diri kita sendiri…”

“Persis seperti akumulasi kualitas dan kuantitas makanan yang tidak sehat akan merusak diri sendiri; akumulasi kualitas dan kuantitas semua yang tidak ‘sehat’ yang masuk ke tujuh lubang di kepala akan menghasilkan kerusakan pada pribadi kita, pada akhlak kita…”

“Kerusakan pada lingkungan hanya dampak, dan hanya akan berlangsung bila lingkungan tersebut membiarkan atau bahkan menerimanya sebagai kewajaran, apa pun alasannya…”

“Kalau sujud kita benar, semua larut dalam Dia, maka semua yang masuk akan terkontrol, dan semua amal akan menjadi baik, yang akan berkawin-mawin menjadi berlipat kebaikan di semesta.”

“Semua yang tidak dibutuhkan atau berpotensi mengotori, otomatis akan tertolak dan terbuang keluar secara sehat pula, sejajar dengan feses dan urine yang mengeluarkan sisa yang tidak dibutuhkan atau bersifat racun bagi tubuh…”

“Contoh ekstrimnya adalah kisah syaikh sufi yang kacau ibadahnya tadi…”

“Nah kalau sujud kita tak benar, karena kita tetap larut dalam nafs kita, maka semua yang masuk tetap tak akan sepenuhnya terkontrol, dan semua amal akan terkacaukan, bercampur-baur antara baik dengan buruk, antara mutiara dan sampah; yang dampak utama keburukannya justru akan menghantam diri sendiri.”

“Contohnya adalah pemuda yang ditemui Syaikh Abu Yazid Al Busthami tadi…”

“Lebih celaka lagi kalau sujud kita bukan kepada Allah…”

“Apa ada yang sujud kepada selain Allah?” tanya saya penasaran.

“Banyak!” jawab Mastur.

“Tandanya terlihat dalam kehidupan sehari-hari…” sahut Masturi.

“Apakah Allah atau selainNya yang menjadi rujukan utama dalam bertindak?”

“Yang demikian hanya akan menghasilkan sampah…”

“Sampah itu bisa bernama macam-macam…”

“Bisa keirian, kedengkian, ghibah, fitnah…”

“Bisa penipuan, perampokan, pemerkosaan…”

“Bisa keserakahan, penindasan, penjajahan…”

“Pokoknya semua yang masuk kategori dzolim..”

“Semua yang bathil…”

“Bathil itu sia-sia, batal, secara hakiki tak ada…”

“Apakah bisa disebut sujud kalau produknya adalah sampah?” tanya mereka bersama-sama.

“Sujud adalah puncak lambang ketundukan kita pada Allah…” kata Mastur.

“Puncak lambang keIslaman kita…” sambung Masturi.

“Mungkinkah melahirkan sampah?”

“Mestinya tidak…”

Saya termangu-mangu. Saya merasa ditonjok karena selama ini memuja-muji bangunan nilai yang oleh mereka malah disebut sebagai sampah.

“Padahal sholat bukan cuma sujud…” celetuk saya mengalihkan pembicaraan.

“Kita akan lebih takjub lagi kalau semua kita urai…” jelas Mastur.

“Karena semua berkait paut dengan keseluruhan hidup manusia…” sambung Masturi.

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda