Tasawuf

Sujud Wasathan

Anis Sholeh Ba'asyin
Ditulis oleh Anis Sholeh Ba'asyin

Saya termangu-mangu. Kehadiran Abdullah kedua ini makin menambah runyam pikiran saya. Masjid tapi bukan masjid? Sujud tapi tak sujud? Puasa tapi tak puasa? Subhanallah, saya adalah bagian dari itu semua. Kalau nalar tersebut diteruskan, kesimpulannya jadi serba tak enak: syahadat tapi tak syahadat, sholat tapi tak sholat, zakat tapi tak zakat, haji tapi tak haji. Lantas apa yang dilakukan selama ini? Wah, celakalah saya.

Di tengah kecamuk pikiran, tiba-tiba nongol Mastur dan Masturi, dua saudara kembar yang lebih dari lima tahun menghilang. Dulu, cukup lama kami nyantri bersama di sebuah pesantren. Tanpa sebab yang jelas, mereka menghilang. Tak terlacak jejaknya. Mereka cuma bilang pada orang tuanya: akan pergi menjalankan perintah Mbah Kyai. Apa isi perintahnya, tak dijelaskan.

Mereka ini kembar identik, sehingga agak sulit dibedakan. Kadang orang punya masalah dengan Mastur, tapi yang dikejar malah Masturi. Yang hutang Masturi, yang ditagih Mastur. Dan sebaliknya, dan seterusnya. Untuk menghindarkan hal semacam itu, keduanya bersepakat: Mastur memelihara jenggot, Masturi memelihara jenggot dan kumis; sehingga gampang dibedakan.

“Kamu masih mengenali kami?” Tanya salah satu dari mereka.

“Pasti!” Jawab saya yakin. Saya menunjuk Mastur yang hanya berjenggot dan Masturi yang berkumis dan berjenggot.

“Terbalik..,” sahut Mastur terkekeh.

“Kami berganti posisi, sekarang Mastur yang berkumis dan berjenggot. Saya cuma berjenggot saja..,” sambung Masturi.

Kami ngobrol kesana-kemari, mengenang kembali saat kami masih bersama di pesantren, sambil sesekali meminum kopi atau memakan pisang goreng yang dihidangkan lik Cecep. Kawan-kawan di gotha’an yang masih bingung dengan kehadiran dua Abdullah berturut-turut, kali ini lebih banyak diam dan memilih menjadi pendengar. Tampaknya mereka khawatir kalau tamu kali ini sama anehnya dengan yang kemarin.

Di tengah obrolan, saya sengaja bercerita tentang kehadiran dua orang yang mengaku bernama Abdullah, yang satu bilang dari timur ke barat, yang lain bilang dari barat ke timur.

Mastur dan Masturi saling berpandangan, lantas bersama-sama menyungging senyum tipis. Reaksi Mastur dan Masturi ini justru membuat kawan-kawan di gotha’an semakin curiga, jangan-jangan mereka memang berasal dari ‘mazhab’ yang sama dengan dua Abdullah.

“Kenapa?” Saya penasaran.

“Tentang sujud? Itu belum semua…” jawab Mastur.

Kali ini ganti kawan-kawan di gotha’an yang saling berpandangan, mereka tampak semakin yakin bahwa dua orang ini akan membawa ‘keanehan’ lain lagi.

“Ada banyak hal tentang sujud yang mungkin belum kamu pelajari…” lanjut Masturi.

“Sebenarnya jawaban tentang simahum fii wujuhihim min atsaris sujud itu belum lengkap…Masih ada hal-hal, yang mungkin karena tidak langsung berkait dengan pesan yang hendak disampaikan, belum diuraikan padamu,” sambung Mastur.

Belum diuraikan? Wah, penjelasan Abdullah tentang sujud saja belum sepenuhnya saya pahami, kini malah dibilang bahwa itu belum semuanya. Tambah pusing saya.

“Maksudnya?” Tanya saya.

“Yang disampaikan padamu itu baru satu sisi…” ungkap Mastur.

“Seperti ayat Al Qur’an, semua kenyataan ini bersisi-sisi sekaligus berlapis-lapis…” sambung Masturi.

“Sehingga bisa didekati dari banyak sisi dan lapis…”

“Meski, kalau mau berjalan ke titik terjauhnya, pada akhirnya semuanya selalu membentuk bulatan sempurna, sehingga semua sisi dan lapis menjadi sama benar”

“Dan hanya mereka yang sudah memahami kenyataan sebagai bulatan sempurnalah yang bisa menyikapi segenap sisi dan lapisnya dengan benar, tanpa mempertentangkan apalagi mengadunya.”

“Persis seperti sholat sendiri adalah titik-titik waktu yang berpasangan yang membentuk bulatan sempurna.”

“Sholat subuh berpasangan dengan sholat ashar…”

“Sholat dluhur dipasangkan dengan sholat tahajud…”

“Sholat maghrib dipasangkan dengan sholat isyraq…”

“Sholat isya’ dipasangkan dengan sholat dhuha…”

“Diantara sholat-sholat ini, ada yang dinamakan sholat wustho…”

“Firman Allah dalam Al Baqarah 238: Peliharalah semua shalat(mu), dan shalat wustho.”

“Wustho itu artinya tengah, pertengahan…”

“Susunan ayat tersebut menunjukkan bahwa posisi sholat wustho sangatlah penting…”

“Zaid bin Tsabit menafsirkan sebagai sholat dhuhur…”

“Ibnu Abbas juga Imam Malik menyebutnya sholat subuh…”

“Yang lebih terkenal adalah pendapat sayyidina Ali bin Abi Thalib, yaitu bahwa sholat wustho adalah sholat ashar…”

“Ada yang lebih menarik, yakni pendapat Syaikh Abdul Qadir al Jailani. Beliau berpendapat bahwa sholat wustho itu adalah sholat ruhaniyah, yang dilakukan terus menerus oleh hati yang selalu terhubung dengan Allah…”

“Sehingga sering dinamakan juga sebagai sholat da’im…”

“Dan hati selalu dianggap sebagai pusat. Pusat itu tengah juga…”

“Yang lahir dan bathin, yang jasadiyah dan ruhaniyah, bukan untuk dipisah-pisahkan karena pada dasarnya adalah bulatan juga…”

“Yang jelas, belajar dari ayat tadi: bahkan dalam keseluruhan ibadah sholat pun, yang pertengahan selalu punya posisi penting…”

Saya terbengong, kedua saudara kembar ini saling menimpali pembicaraan seperti muncul dari satu kepala saja.

“Nah, sebelum bicara sujud, mari kita lebih dahulu bicara tentang posisi anatomi tubuh manusia” lanjut Mastur.

“Dalam kondisi normal, wilayah tengah dalam anatomi tubuh manusia itu terletak dimana?” tanya Masturi.

“Perut atau pusar!” jawab saya sekenanya.

“Coba diukur…” ujar Mastur.

Setelah kami sibuk mengukur, dari batas atas perut ke ujung kepala, dan batas bawah perut ke telapak kaki, ternyata posisi perut tidak di tengah. Kami coba ukur lagi, dengan cara yang sama, ternyata wilayah tengah adalah perut bagian bawah di depan dan wilayah pinggul paling bawah atau pantat bagian atas di belakang. Atau lebih tepat lagi secara anatomis: tulang ekor, atau disebut juga sebagai tulang sulbi.

“Nah, sekarang coba perhatikan posisi sujud…”

“Yang paling rendah adalah kepala, telapak tangan dan kaki. Atau tepatnya: dahi, dua telapak tangan, dua lutut dan dua ujung telapak kaki plus jari-jarinya; yang paling tinggi secara anatomis adalah tulang sulbi!”

“Tangan dan kaki sering menjadi simbol perbuatan. Sementara dahi adalah salah satu tulang pelindung otak dan juga saraf motorik, yang pada dasarnya juga akan berhubungan dengan perbuatan…”

“Kecuali itu, dalam peradaban manusia, dahi juga selalu dianggap punya posisi penting…”

“Salah satu pelajaran yang bisa dipetik: amal atau perbuatan manusia, yang simbolnya dahi, tangan dan kaki; dalam sujud di tempatkan di posisi paling bawah…”

“Karena tempatnya paling bawah, artinya mereka harus tunduk pada prinsip yang lebih tinggi…”

“Sebelum membahasnya lebih lanjut; jangan lupa juga, ada hadits yang diriwayatkan Imam Muslim: “Bumi akan mengolah seluruh bagian tubuh manusia kecuali tulang sulbi. Dari itulah seorang manusia diciptakan, dan dari tulang sulbi itu pulalah manusia akan dihidupkan kembali di Hari Kebangkitan.”

“Tulang sulbi merupakan susunan pertama yang diciptakan dalam kehadiran manusia di bumi, dan sekaligus akan menjadi bahan penciptaan ulangnya di hari kebangkitan…”

“Tulang ekor atau tulang sulbi ibarat super chip yang luar biasa canggih sekaligus luar biasa elastis, sehingga tak bisa dihancurkan oleh apa saja. Keberadaannya bisa juga diibaratkan seperti tunas…”

“Di situlah tersimpan seluruh memori hidup manusia…”

“Posisinya yang tepat di tengah pada rata-rata jasad manusia, seperti mengabarkan bahwa keberadaan manusia memang dirancang untuk bersikap wasath, dan karena itu memori terbaik yang seharusnya dibangun adalah memori amal yang dilandasi sikap tengah, sikap wasath pula…”

“Artinya, yang paling utama dan paling mulia kalau dilihat dalam posisi sujud adalah posisi tengah, posisi wasath. Ia harus merupakan prinsip tertinggi yang mengendalikan seluruh amal atau perbuatan; yang dalam sujud diwakili oleh dahi, tangan dan kaki…”

“Dan wujudnya dalam kehidupan nyata adalah amal yang berlandas sikap wasath…”

“Jadi, lahirnya sikap wasath, yang pada gilirannya melahirkan ummatan wasathan itulah wujud sebenarnya sujud dalam kehidupan nyata sehari-hari, itulah bentuk hahiki simahum fii wujuhihim min atsaris sujud…”

“Wajah dalam ayat ini bukan hanya bisa diartikan dalam makna haqiqi, yaitu wajah manusia; tapi bisa juga diartikan dalam makna majazi; yaitu performa atau seluruh tampilan hidup kita…”

“Karena out put dan out come sujud adalah sikap wasathan dalam seluruh hidup kita, tidak berlebihan dalam segala hal, tidak ekstrim ke arah manapun.”

“Wah, kok seperti otak-atik mathuk gitu…” celetuk saya.

“Terserah kamu menafsirkan. Kalau sisi dan lapis seperti ini kamu tolak, agamamu akan kering, karena dihapus nilai simboliknya…”

“Masih ada sisi lain dari sujud yang tak kalah menarik terkait dengan out put dan out come tersebut…”

“Yaitu kalau kita hubungkan dengan sembilan lubang yang ada di tubuh manusia…”

Seisi gotha’an terbengong-bengong.

Tentang Penulis

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda