Mutiara

Di Sekitar Gunung Berapi Islam

A.Suryana Sudrajat
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Dua pandangan tentang Barat, Jawa, dan Islam, dari pribumi dan orientalis. Mengapa Soetomo menyerang pendidikan Barat, dan membela pendidikan pesantren?

Pada 1932, dr.  Soetomo menerbitkan Puspa Riontje. Ini kumpulan 13 karangan berbahasa Jawa. Tokoh penting Boedi Oetomo ini bicara tentang apa yang harus diperbuat dalam menghadapi kehidupan yang sukar dan situasi menekan — kekacauan akibat berbagai pemberontakan sporadis pada 1920-an.

Dalam satu artikelnya yang berjudul unik, “Tenaga Kebathinan Kanggo Kemendjuwane Rakyat”, ia menganjurkan tirakat dan membersihkan pikiran dari semua keinginan menikmati kesenangan terlarang dan harta duniawi. Yang disebutnya sebagai contoh adalah para petapa India, yang konon ahli membentuk tenaga batin yang kuat sehingga dikatakannya mampu menyerasikan dua kekuatan berlawanan-Timur dan Barat, pemerintah Inggris dan pemerintah India, pihak penindas dan yang tertindas.

Menurut Savitri Scherer, Soetomo membatasi diri pada konsep yang berlandaskan kehidupan Jawa tradisional dan menjauh dari konsep-konsep sosialis-marxis yang mempengaruhi sebagian pemimpin. Ini tentu saja berbeda dari yang Islam modernis, seperti yang diajukan orang-orang Sumatera, dan lebih lagi dari pandangan sosialis para pemimpin partai komunis maupun konsep-konsep Sarekat Islam. Sementara orang-orang lain mengambil orientasi ke tempat-tempat seperti Mesir atau Rusia, Soetomo berkutat di Hinduisme sebagai sumber ilhamnya.

Aneh. Mengapa hingga 1930-an dokter yang satu ini masih memegangi cita hidup yang sudah ditinggalkan Soekarno, Hatta, atau Sjahrir, orang-orang yang, yang seperti dirinya, bukan bagian dari gerakan komunis maupun Islam? Anehnya lagi, ia sudah tinggal di Negeri Belanda dan mengunjungi berbagai negara Eropa.

Dalam Kongres Pendidikan Nasional di Sala, 1935, Soetomo terlibat debat sengit dengan dr. Satiman Wirdjosandjojo, anggota Hoofdbestuur (pengurus besar) Muhamadiyah yang juga tokoh Boedi Oetomo. Topiknya: pendidikan pesantren lawan pendidikan Barat. Harap diketahui, Soetomo yang mengawini juru rawatnya yang noni Belanda ini, adalah penasihat Muhammadiyah yang, menurut mantan ketua Hoofdbestuur atau PP Muhamadiyah almarhum KH Mas Mansur, berjasa memasukkan pikiran ke Muhamadiyah untuk mendirikan rumah sakit.

dr.Soetomo dan istrinya

Berkat Soetomo: lembaga-lembaga pendidikan Barat tak lain racun bagi orang Indonesia. Sistemnya membedakan para pelajar ke dalam berbagai kategori yang tergantung status sosial dan latar belakang keluarga. HIS (SD Belanda untuk pribumi) dan ELS (untuk orang Eropa), misalnya, para pelajarnya menganggap diri mereka secara intelektual dan sosial lebih tinggi dari para lulusan sekolah desa. Dalam sistem pesantren, sebaliknya, semua pelajar dipaksa hidup bersama di tempat yang sama, bermain dan belajar bersama-sama. Dikemukakannya juga, para cendekiawan seperti Tjipto, Soekarno, dan dia sendiri, sebenarnya menjadi terkemuka bukan karena pendidikan Barat — walaupun lulusan pendidikan Barat.

Maka beranglah para kongresisten — termasuk “pendekar Barat” Mr. Sutan Takdir Alisjahbana. Ia sungguh sedih, mengapa orang berpendidikan Barat seperti Soetomo dapat mempertahankan “metalitas statis” seperti pada pendidikan pesantren. Takdir memang satu cita rasa dengan Soekarno yang punya pandangan “miring” terhadap pesantren.

Perdebatan Soetomo dan Takdir berlanjut di majalah Poedjangga Baroe. Dalam salah satu artikelnya, Soetomo antara lain menulis:

“Pada zaman nenek saya (ayahnya, Raden Soewadji, yang masih keturunan Sunan Giri, generasi pertama pendiri pesantren di Jawa, Red), yaitu pada kira-kira pertengahan abad ke-19, pesantrenlah tempat perguruan yang asli. Karena belum terdesak oleh sekolahan gubernemen, pesantren itu ribuan bilangannya. Pengaruh perguruan itu terhadap masyarakat kita, civilisation rakyat tidak dapat diabaikan. Perhubungan antara santri-santri yang dewasa (bila sekarang studenten dari Universiteit, di dalam pondok-pondok yang besar juga diajarkan ilmu lahir dan batin, yang waktu itu jarang didapati di tanah kita) erat sekali … Pesantren dan pondoknya mempersatukan anak-anak … orang tani, anak saudagar, anak orang bangsawan … sehingga … Levenssuiting, sikap kehidupan bangsa kita di waktu itu, dari lapisan mana pun tidak terpecah belah …”

Bagi Soetomo, kalau bisa kita simpulkan, Jawa (dengan segala “kekuatan batin petapa” dan “teladan Hindustan” -nya) adalah satu, sementara Barat (dan Islam “modernis”, seperti dari Muhamadiyah) berada di bagian lain. Ia memang hanya menolak yang Barat, sementara tidak bicara tentang yang terakhir.
Tetapi itu hanya salah satu cara pandang. Para pemikir kolonial, semacam Snouck Hurgronya dan Hazeu, sudah sejak akhir abad ke-19, menurut sejarahwan Taufik Abdullah, melihat Islam (keseluruhan — dan bukan Jawa, Red), tidak saja sebagai agama mayoritas rakyat, tapi juga simbol kebangsaan (etnis, bukan politis, pen.). Bila anak negeri merasa haknya diinjak, demikian Snouck, pada Islamlah mereka temukan pemecahan. Mereka akan bergerak dibawah panji-panji Islam. Tak heran bila sudah sejak akhir abad ke-19 penyebaran pendidikan Barat digiatkan. Bukan sekadar untuk melatih anak negeri menjadi pendukung pemerintaj kolonial, tetapi juga membendung “gunung berapi Islam.” Dan tidak terbendung, akhirnya

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda