Tafsir

Tafsir Ayat-ayat Puasa (5): Agama, Buruh, dan Pengusaha

Written by Panji Masyarakat

Puasa membentuk kejujuran. Dari situlah lahir sifat amanah, yang berarti bisa dipercaya untk mengemban amanat. Kejujuran itu sendiri (shidiq) merupakan syarat bagi amanah. Sedangkan sumber amanat adalah Allah.

Meskipun terhitung yang paling ketat, bila kita dilihat dari jurusan semua agama lain kini, dibanding puasa model kuno (atau model sebagian yogi, pendeta atau resi) puasa Islam sebenarnya ibadah yang moderat. Misalnya hanya berlangsung satu bulan, dan bukan 40 atau 50 hari. Hanya di siang hari, dan bukan sampai malam; atau puasa pati geni, 24 jam terus-menerus; atau, lebih-lebih, tidak seperti bertapa. Juga tidak ada aturan: kalau orang sudah terlanjur tidur malam, terhitung mulai batas magrib, ia tak boleh lagi makan, minum, atau bersanggama, seperti yang dikabarkan merupakan praktek orang Nasrani di masa Nabi s.a.w. Di samping itu terdapat berbagai keringanan untuk orang-orang dengan halangan-halangan tertentu, seperti dibilang Yusuf Ali (loc., cit,). Yang khas Islam: berbagai keringanan (rukhshah) itu bukan dibuat para ulama di belakang hari, sebagai tindak pengubahan atau “penyesuaian” seperti pada agama-agama lain (kecuali yang merupakan hasil qias, analogi), melainkan sudah built in dari sono-nya.

Abduh, dalam pada itu, boleh mewakili semua ulama yang selalu mengingatkan bahwa puasa (berbeda dari salat atau haji, misalnya) adalah ibadah yang dikerjakan sendirian, merupakan rahasia antara makhluk dan Khaliknya, tanpa seorang pun bisa mengawasi. (Rasyid, loc, cit,). Di situ diperlukan kejujuran. Kejujuran itu misalnya terlihat bila seseorang yang lupa sedang berpuasa, lalu makan atau minum, kemudian teringat, dengan sadar menghentikan makan-minumnya dan meneruskan puasa. Aturan ini barangkali termasuk contoh paling kuat betapa yang dimaksudkan Allah dengan syariat puasa memang bukan penyiksaan diri si hamba, seperti sudah disebut, melainkan pembentukan hati nurani — kejujuran itu. Dan, lewat pelaksanaan berulang-ulang, latihan seperti itu memberikan kepada yang bersangkutan kemampuan “menduga-duga” keridaan Allah (muraqabah) dan merasa malu kalau sampai Dia melihatnya dalam keadaan yang tidak jujur. Dari situlah lahir sifat amanah, yang berarti bisa dipercaya untk mengemban amanat. Kejujuran itu sendiri (shidiq) merupakan syarat bagi amanah. Sedangkan sumber amanat adalah Allah.

Pintarnya Penguasaha

Begitulah seluruh hidup kita memerlukan amanah. Juga usaha bisnis membutuhkan amanah. Cerita tentang pedagang keturunan Cina yang mendadak mengalami kesulitan cash, tapi dengan gampang bisa meminjam seratus-dua ratus juta dari sahabatnya hanya lewat tulisan di “secarik kertas bungkus rokok”, menunjukan kepercayaan sang sahabat kepada sifat amanah rekannya itu, yang biasanya mereka istilahi dengan “nama baik” . Sekali “nama baik” hancur, masa depan bisnis hancur. Logis pula, makin sempit lingkungan tempat seseorang masih bisa mengandalkan nama baiknya, makin sempit pula daerah rezekinya. Bahkan di antara para kriminal amanah dijunjung tinggi—jika diingat bahwa moral etika, sampai tingkat tertentu juga terdapat di kalangan mereka, meskipun agaknya selalu lebih susah dipertahankan.

Tetapi amanah dalam Islam lebih kuat dari “nama baik” –oleh disangkutkannya amanah itu tidak ada pada penilaian orang, melainkan penilaian Allah. Konotasi istilah itu, karenanya, pada sebuah nilai intristik — sementara nama baik menunjuk pada dampak dalam pergaulan. Orang yang menjaga nama baik mungkin saja berbuat lurus demi keuntungan dalam pergaulan, dan dengan demikian nama baik menjadi instrumen. Tetapi amanah berhubungan dengan sikap tanpa pamrih (karena semua pamrih sudah dimuarakan pada Allah), dan justru karena itu siapa yang mengenal pemilik sifat itu, di lingkungan apa pun, mempercayainya. Dan itulah yang dididik lewat puasa dan segala ibadah.

Itu pulalah rahasianya, kiranya, mengapa makin lama makin banyak saja pengusaha yang pintar: mereka bikin musala dan masjid di pabrik-pabrik, mereka biayai syiar keagamaan secukupnya buat para karyawan. Dengan salat, khutbah-khutbah, ceramah keagamaan, puasa, tarawih, perusahaan diuntungkan oleh peningkatan akhlak para pekerjanya, baik dari segi kejujuran, tanggung jawab kerja (yang paling dekat pengertiannya dengan amanah), bahkan produktivitas. Kalau sudah begitu, kalau kemudian terjadi juga pergolakan buruh, sumbernya biasanya tinggal pihak manajemen sendiri: mereka, yang khasnya tetap tidak beribadah, tetap ingin menekan buruh dengan segala cara.

Ada sebuah buku yang bagus, tulisan Jan Breman dari Universitas Amsterdam, Koelies, Planters en Koloniale Politiek, yang sudah diterjemahkan ke bahasa kita. Ia mempertunjukkan hasil-hasil penelitian yang mengejutkan mengenai kehidupan perkebunan di Sumatera Timur di awal abad ke-20, tempat para pekebun besar Belanda praktis menjadi raja dengan memperbudak kuli kontrakan dalam jumlah raksasa, melaksanakan hukum dan bentuk-bentuk hukuman sendiri, termasuk hukuman gantung, dan berusaha mempertahankan ketergantungan para kuli pada mereka dengan, hanya contoh kecil, menyelenggarakan perjudian untuk menguras kembali pendapatan para kuli.

Para pengusaha dan fabrikan modern tentu bukan tuan-tuan Belada kolonial, dan sifat perusahaan serta hubungan buruh-majikan sudah jauh berubah. Justru perubahan itulah, yang secara kodrati akan berlangsung terus-menerus, yang mestinya diberi tekanan dalam perhatian. Pemberi segala fasilitas keagamaan kepada karyawan, dengan tetap menekan mereka demi pertimbangan profit, akan terasa tidak ubahnya dengan pemberian sarana perjudian untuk “menyenang-nyenangkan” para kuli kontrak tanpa menghormati hak-hak mereka, termasuk hak untuk berharap bagi peningkatan kesejahteraan lahir-batin keluarga mereka yang sama-sama makhluk manusia.

Memang, berbeda dengan yang menyangkut sarana perjudian untuk para koelie kolonial, pemberian segala fasilitas keagamaan kepada para pekerja modern sama sekali bukan hal yang merugikan mereka. Malahan sebaliknya. Apa yang mereka dapat justru keuntungan yang tidak diperoleh para manajer dan majikan mereka — kecuali mereka bersedia bergabung dalam aktivitas keagamaan yang sama, dan menjadikan suatu usaha modern sebagai pautan kepedulian bersama. Di situ ajaran takwa, sebagai buah ibadah puasa, mendapat dimensinya yang baru. Bersambung.

Penulis: Syu’bah Asa (1941-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat; Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang antara lain menerjemahkan Barjanzi yang dipenaskan Bengkel Teater ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)  Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 12 Januari 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda