Pengalaman Religius

Ebiet G. Ade: Menyatukan Agama dalam Langkah Perjalanan (2)

Written by Muzakkir Husain

Kepada-Mu aku pasrahkan
Seluruh jiwa dan ragaku
Hidup dan mati ada di tangan-Mu
Bahagia sedih ada di jari-Mu

Cukup lama aku mencari
Menembus pekat dan menerjang kelam
Mengikuti langkah yang makin jauh
Adalah firman-Mu pemandu jalanku

Tamat sekolah dasar, Ayah menyuruhku melanjutkan pendidikan ke PGA (Pendidikan Guru Agama). Lulus PGA, menurut Ayah, aku bisa langsung menjadi guru agama dan diangkat sebagai pegawai negeri. Tapi justru karena itulah aku menolak, sepertinya, pengalamanku memergoki Pak Ustad tak puasa telah menghilangkan bayang-bayang ideal seorang guru agama di benakku.

Namun, karena ayah cenderung otoriter, penolakankanku jadi tidak berguna. Aku tetap harus ikut tes masuk PGA yang aku jalani dengan ogah-ogahan. Bahkan dengan sengaja aku memberikan jawaban-jawaban yang keliru dengan harapan tidak diterima. Tapi ternyata nasib menentukan lain, aku tetap dinyatakan lulus dan diterima. Usut punya usut, ternyata Ayah sudah menghubungi teman dekatnya di PGA yang punya posisi cukup menentukan siapa pun untuk bisa lulus atau tidak. Dengan berat hati aku pun masuk PGA, dan menghadapi pelajaran dengan setengah hati.

Akibatnya aku sering bolos, sering bikin ulah, berharap dikeluarkan. Dan benar saja, aku sering menjadi pembicaraan di kalangan guru, diberi catatan buruk, dan dilaporkan ke orangtua. Puncaknya, menghadapi ujian kenaikan kelas, aku tak lulus dan dinyatakan tidak layak melanjutkan sekolah. Ayah tak bisa berbuat apa-apa, dan akhirnya menyerahkan hak memilih sepenuhnya kepadaku. Aku memutuskan sekolah di Yogya. Berangkat sendiri. Ingin mandiri.

Ternyata Yogya memang menjadi tempat sekolahku yang sebenarnya. Aku bisa menyelesaikan SMP dan SMA dengan baik (Ebiet lulus dari SMA Muhammadiyah I pada 1973, red). Lebih dari itu, aku juga digembleng di sekolah bersama teman-teman komunitas seniman Yogya. Kami berdiskusi panjang tentang kebudayaan, kemanusiaan, hidup, juga agama. Kami menulis puisi, membacanya dengan keras, bermain musik, bernyanyi, dan bermain drama. Kami juga membaca, berdebat, dan tidur di lantai kotor.

Kadang-kadang kami berutang untuk bisa makan, lalu kelimpungan untuk melunasinya. Aku belajar memahami kehidupan sesungguhnya. (Pada masa-masa ini Ebiet yang mengambil kursus gitar kepada Kusbini, musikus dan pencipta lagu, dalam pementasan musik kerap menyanyikan puisi-puisi Emha Ainun Nadjib, red).

Baru padaperiode itulah aku bisa mengerti kenapa ada ustad tak puasa, pak haji yang menipu, atau pejabat yang korup. Ternyata memang ada yang menerima, memahami,  agama sebatas simbol dan ritual. Agama menjadi kosmetik yang tidak berbekas di dalam. Kalau perlu agama dijadikan komoditas untuk kepentingan sesaat. Aku tumbuh menjadi orang yang tidak suka pemerkosaan simbol-simbol agama.

Andaikan kehidupan ini rumah, agama bukan hanya sebuah ruang di depan, di belakang, atau di tengah. Agama adalah atapnya, fondasinya, semua dindingnya, bahkan udara yang mengisi semua ruangannya. Bila agama hanya sebuah ruangan di pojok sana, nilai-nilai luhur lalu hanya disampirkan di situ, dipakai bila kita masuk, dilupakan bila keluar.

Agama lantas menjadi sesuatu yang eksklusif, tidak menjadi bagian yang sangat wajar dalam kehidupan sehari-hari, tidak serta dalam setiap langkah perjalanan usia. Bersambung                

About the author

Muzakkir Husain

Wartawan Majalah Panji Masyarakat (1997-2001)

Tinggalkan Komentar Anda