Tasawuf

Masjid Tanpa Sujud

Jujur saja, kami kebingungan menyikapi teka-teki orang ajaib yang mengaku bernama Abdullah. Kami merasa sama sekali tak punya kemampuan untuk mencerna pesannya.

Setelah orang yang mengaku bernama Abdullah menghilang, kami malah berdebat karena berbeda dalam menafsirkan pesannya.

“Aneh. Tidak jelas…” gerutu lik Cecep.

“Kayak hantu saja. Datang tak diundang, pergi ndak bilang-bilang…” sahut Giman.

“Jangan…jangan…” gumam lik Jum.

“Jangan-jangan apa? Malaikat yang menyamar?” tanya lik Cecep.

“Tidak mungkin. Apa perlunya malaikat menemui kita? Nyamar-nyamar lagi…” sergah kang Sam.

“Waduh, jangan-jangan nabi Khidr?” sahut Giman.

“Nabi Khidr? Ngapain nabi Khidr menemui kita?” tanya kang Sam.

“Tadi dia kan menyuruh kita membaca surat al Kahfi ayat 65 sampai 82. Lha isinya tentang perjalanan nabi Musa dengan nabi Khidr…” jawab Giman polos.

“Terus?” cecar kang Sam.

“Bisa jadi itu caranya memberitahu kita bahwa dia Khidr…”

“Kalau begitu nalarnya, berarti kita ini Musa dong…”

“Maksudnya?”

“Kan ceritanya tentang nabi Musa dan nabi Khidr…”

“Yaaaa…” Giman tampak kebingungan sendiri.

Karena tidak menemukan titik temu, kami menggeser topik. Kami mulai mempertanyakan kesahihan pesannya. Pertama tentang ayat hari Sabtu bagi bani Israil. Kami anggap ini agak mengada-ada. Kemungkaran, atau lebih jauh lagi: kejahatan, bukanlah ujian, tapi produk laku manusia yang harus kita lawan karena kita punya kekuatan.

“Pokok masalahnya bukan disitu…” kang Sam memecah keheningan.

“Lantas dimana?” tanya lik Cecep.

“Kita kan mencoba mencari jawaban…” sahut lik Jum.

“Ya, saya tahu. Cuma sampai sekarang masih tetap belum jelas, pertanyaannya apa?” sergah kang Sam.

“Waduh, kok malah tanya tentang pertanyaannya tho…” keluh Giman.

“Lha kenyataannya begitu kok. Banyak yang merasa mencari jawaban, tapi malah tidak tahu pertanyaannya…Akibatnya cuma jadi lawakan, buang-buang tenaga dan pikiran…” jawab kang Sam dengan sinis.

“Jangan melebar. Pokoknya kita cari jawaban! Titik!” sahut lik Cecep dengan nada meninggi.

“Lha iya, jawaban atas pertanyaan apa?” jawab kang Sam ringan.

“Inilah persoalan kita: berdebat terus tanpa pernah berbuat apa-apa…” gumam lik Jum.

“Jadi itu pertanyaan kita?” Ujar kang Sam seperti mengejek.

“Itu persoalan kita, bukan pertanyaan kita…” sergah lik Cecep tak sabar.

“Lantas apa pertanyaan kita?”

“Soal ummat, soal ketidak-berdayaan, soal keterpecah-belahan, soal penyakit, soal korona…” sambung lik Jum dengan wajah setengah putus asa.

“Itu kenyataan. Belum pertanyaan…” jawab kang Sam sekenanya.

“Ini soal ummat manusia…”

“Lha iya, ummat manusia yang mana?”

“Ummat manusia umumnya, ummat Islam khususnya…”

“Ummat manusia umumnya, ummat Islam khususnya…Dimana?”

“Di dunia umumnya, di Indonesia khususnya…”

“Apa masalahnya?”

“Terlalu banyak, terlalu kompleks, kronis, komplikasi…”

“Mbok jangan didramatisasi…”

“Saya tidak mendramatisasi…”

“Lha semua gambaranmu ngeri semua…”

“Bukan gambaran saya. Itu situasi nyatanya!”

“Situasi nyata menurut penilaian sampeyan!”

“Jelas! Masak menurut penilaian malaikat?”

“Tapi orang lain tidak mesti sama penilaiannya…”

“Biar saja…”

“Lho, tadi katanya masalah ummat? Kok sekarang jadi masalah penilaian sampeyan?”

“Jangan nambah masalah!” lik Jum tampak mulai tidak sabar.

“Bukan nambah; tapi supaya jelas, terukur, runtut…”

“Maunya situ apa sih?” Lik Jum tampak benar-benar kehilangan kesabaran.

“Lho? Kan sampeyan sendiri yang mulai…” jawab kang Sam tetap dengan tenang.

Pada titik inipun kembali kami tak menemukan titik temu. Kami kembali sibuk mengutip ayat, hadits atau peristiwa sejarah lainnya sebagai rujukan. Salah satu kawan mengatakan: ketika ada orang berpesan atau bekerja berdasar ayat tertentu, segera kita bandingkan dengan ayat lain yang kita anggap membawa pesan berbeda. Akibatnya kita malah sibuk berdebat dan luput mengamalkan apapun. Padahal, begitu menurutnya, perdebatan itu seringkali karena kita salah mengambil sudut pandang; bukan sudut pandang Al Qur’an itu sendiri, tapi sudut pandang ‘pengetahuan’ kita.

Karena buntu, akhirnya kami bubar tanpa kesepakatan apapun. Kami anggap, tak perlu serius membuang tenaga dan waktu untuk mengurus pesan yang kami anggap tidak jelas asal-usul dan tujuannya tersebut.

Saya sendiri, meskipun tetap menyimpan tanda tanya, mencoba melupakan kehadiran orang yang mengaku bernama Abdullah tersebut. Sampai, beberapa malam kemudian, seseorang memberi uluk salam dari depan gotha’an.

Kami persilakan dia masuk. Tampilannya mirip kelas menengah kota: celana panjang dan baju yang seperti habis diseterika, mengenakan jas yang terkesan mahal, juga arlojinya. Rambutnya rapi. Sosoknya tinggi kurus, wajahnya pucat dan umurnya sekitar akhir lima puluhan.

“Maaf, bapak siapa?” tanya saya membuka pembicaraan.

“Saya datang mewakili pemilik masjid” jawabnya singkat.

“Pemilik masjid? Maksudnya mewakili orang yang mewakafkan tanahnya untuk masjid?” tanya Giman kebingungan.

“Terserah anda menafsirkannya” jawabnya singkat.

“Masjid mana?” selidik saya.

“Itu juga tidak penting-penting amat”

Wah, pikiran saya mulai melayang kemana-mana, dan kembali terbayang kehadiran orang yang mengaku bernama Abdullah beberapa malam lalu.

“Ada apa dengan masjid yang Bapak wakili?”

“Saya tidak mewakili masjid, tapi pemiliknya”

“Ya ya, maksud saya: ada apa dengan masjid yang pemiliknya bapak wakili?”

“Sudah tidak jadi masjid lagi…”

“Ditutup? Dilarang beribadah di dalamnya karena korona?”

“Bukan cuma ditutup…”

“Lho, dibongkar? Dijadikan perkantoran, pasar, mall atau perumahan?”

“Lebih ramai lagi”

“Lebih ramai dari perkantoran, pasar, mall atau perumahan?”

“Ya”

“Apa?”

“Masih masjid”

“Nanti dulu, masih masjid? Tadi katanya tidak jadi masjid lagi?”

“Memang”

“Masjid tapi bukan masjid?”

“Ya”

“Kok bisa?

“Nalarnya tidak mungkin, tapi kenyataannya demikian”

“Saya belum paham”

“Karena anda berpikir kalau masjid pasti masjid”

“Memang ada masjid yang bukan masjid?”

“Banyak”

“Salah satunya”

“Bagaimana masjid menjadi masjid tanpa sujud?”

“Ah, jangan mengada-ada”

“Apakah ada masjid bila tak ada sujud!”

“Masjid kan memang tempat sujud! Ke masjid artinya bersujud, kok dibilang tak ada sujud?”

“Jejaknya mana?”

“Jejak apa?”

Simahum fii wujuhihim min atsaris sujud

“Maksudnya, dahinya harus menghitam semua?”

Dia terkekeh mendengar pertanyaan tersebut.

“Menurutmu, apa itu sujud?” tanyanya sambil masih terkekeh.

“Memosisikan kepala di tempat terendah”

“Kepala itu apa?”

“Yang dianggap paling mulia”

“Apalagi?”

“Tempat otak, dimana semua memori disimpan”

“Artinya, jejak sujud mestinya adalah tidak memulia-muliakan diri dan tidak mengandalkan pengetahuan yang memorinya disimpan di otak.”

“Ya! Mungkin…!”

“Itu belum seluruh ceritanya…”

“Maksudnya?”

“Lha katanya selalu bersujud, kok yang diagung-agungkan tetap dirinya sendiri, kelompoknya sendiri, mazhabnya sendiri, pengetahuannya sendiri…”

“Wah, ini…ini…”

“Salah satu bukti bahwa mereka tak bersujud adalah mereka bikin kelompok-kelompok dalam masjid. Masing-masing kelompok punya imam sendiri. Membangun kemah sendiri. Akhirnya masjid penuh kemah. Suara imam dan jamaah saling bersaing kerasnya, persis pasar malam…”

Mulut saya terbungkam, imaji saya melayang kemana-mana.

“Itu belum selesai. Bukannya merelatifkan kemuliaan dan pengetahuannya, mereka justru mengeraskannya. Masing-masing kemah akhirnya saling cek-cok, dilanjutkan saling lempar…Lanjutannya bisa kamu bayangkan sendiri,” lanjutnya sambil memandang ke kejauhan.

“Kalau sujud saja tak mampu, apalagi puasa…” suaranya lirih seperti bicara pada diri sendiri.

Kami terdiam. Tak lama kemudian dia pamit.

“Nanti dulu, saya belum mengenal anda…”

“Saya Abdullah, dari barat ke timur…kebetulan saja lewat dan mampir”

Saya tercekat dan nyaris kehilangan keseimbangan.

“Abdullah? Dari barat ke timur?” tanya lik Cecep nyaris tak percaya.

“Ya, benar!” jawab orang tersebut.

“Kemarin Abdullah dari timur ke barat. Sekarang Abdullah dari barat ke timur…” gumam lik Jum seperti bicara pada diri sendiri.

“Ada yang salah?” tanya orang tersebut.

“Tidak, tidak. Pasti tidak,” sahut lik Jum.

Tanpa banyak cakap lagi, orang aneh tersebut langsung pamit.

“Lho, mana sandal anda?” tanya saya melihat ia melangkah keluar tanpa alas kaki.

“Bukankah semua yang terhampar ini adalah masjid? Pantaskah saya beralas kaki di dalamnya?” jawabnya sambil berjalan pergi.

Kami terbengong.

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda