Ramadan

Buya Hamka tentang Puasa (7): Naik ke Lauh Mahfuzh

Written by Panji Masyarakat

Dengan berpuasa cita kemuliaan yang tinggi hendak mencapai Lauh mahfuz yang dibukukan sehingga meski kaki berpijak di bumi tapi rohani hendaknya selalu rindu mencapai hidup lebih tinggi dan lebih mulia.

Tuhan  berfirman: “Sungguh ia adalah Quran (bacaan) yang mulia, dalam kitab yang terpelihara. Tidak akan menyentuhnya kecuali (makhluk) yang dibersihkan.” (Q.56:77-78).

Ahli-ahli fikih menafsirkan ayat ini, tidak boleh menyentuh Alquran kalau badan tidak suci, artinya kalau diri tidak berwudhu. Ini pun menimbulkan perbedaan pendapat (khilafiyah) di kalangan ulama antara yang mewajibkan berwudhu sebelum menyentuh Alquran dan yang menyunnahkannya.

Tetapi ahli-ali tasawuf membicarakan hal yang lebih tinggi lagi. Menafsirkan ayat itu, mereka mengatakan bahwa Alquran yang mulia dan suci tempatnya tinggi sekali, terletak di Lauh Mahfuzh. Inilah tempat yang bersama Arasy dan tempat-tempat mulia lainnya, tidak dapat dicapai oleh otak manusia, apalagi dengan panca inderanya. Kita terima saja keberadaannya, karena iman yang bersemayam di dalam dada kita.

Oleh karena begitu tingginya, tidak semua orang akan dapat mengakuinya. Alquran dapat dibacanya, namun belum tentu masuk ke dalam jiwanya karena martabat jiwanya terlalu rendah. Tingkatkan martabat jiwa terlebih dulu ke tempat yang lebih tinggi itu, ke Arasy, Kursi, dan Lauh Mahfuzh, barulah dia akan menghayati apa Alquran itu sebenarnya. Walaupun seseorang berwudhu tiap hari, bahkan terus menerus, belum tentu Alquran yang terletak di Lauh Mahfuzh itu menyentuh jiwanya karena jiwanya terletak di tempat yang rendah,  yaitu  yang disebut Alquran jiwa sangat aniaya dan sangat zalim.

“Sungguh sudah kami tawarkan amanat kepada langit,  bumi dan gunung-gunung, maka mereka menolak untuk memikulnya, dan manusialah yang (mau) memikulnya. Sungguh ia bodoh dan aniaya.” (Q. 33:72).

Tentu kita merasakan betapa sulitnya jadi insan. Kita mempunyai syahwat dan keinginan-keinginan tertentu yang menyebabkan dapat hidup. Kita harus makan supaya jangan mati. Itu  yang disebut syahwat perut. Kita mempunyai keinginan bersetubuh yang dinamai syahwat faraj atau nafsu seks. Kalau tidak, niscaya habislah manusia di atas dunia ini. Kalau manusia habis, niscaya peradaban di segala bidang berhenti.

Manusia yang seperti inilah yang diperintahkan Allah memikul amanat. Ini yang difirmankan Tuhan bahwa kejadian manusia di muka bumi ini tidaklah akan dibiarkan telantar. Yang penting adalah keseimbangan syahwat atau nafsu dengan akal budinya. Keseimbangan antara hidup nyata dan hidup yang dia cita-citakan. Jasmani agar berpijak ke bumi, tapi rohani hendaknya selalu  rindu mencapai hidup lebih tinggi dan lebih mulia.

Hal inilah penyebab timbulnya kesadaran kita tentang pentingnya berpuasa. Dengan berpuasa cita kemuliaan yang tinggi hendak mencapai Lauh mahfuz yang dibukukan sehingga meski kaki berpijak di bumi tapi rohani hendaknya selalu rindu mencapai hidup lebih tinggi dan lebih mulia.

Kita sendiri dapat merasakan setiap hari. Bilamana kita tidak dapat mengimbangi syahwat sehingga asal perut sudah lapar lalu makan sekenyang-kenyangnya badan pun menjadi lemah,tenaga juga berkurang, dan mata pun mengantuk. Sebab itu sangat terpuji orang yang tidak makan kalau tidak lapar dan berhenti makan kalau merasa kenyang. Al-quran pun menegaskan.

“Maka adapun orang yang sudah melampaui batas dan lebih mementingkan kehidupan dunia, nerakalah yang akan jadi tempatnya. Adapun orang yang takut akan maqam Tuhannya danmenahan diri dari hawa nafsu, sorgalah yang akan menjadi tempatnya.” (Q. 79:37 -41)

Oleh sebab itu puasa adalah salah satu usaha menahan hawa nafsu yang tidak terbatas atau diri yang tidak sadar bahwa hidup ini terbatas. Apabila kita memahami hal-hal seperti ini, tentunya akan tercapai harmoni,keseimbangan antara hidup yang nyata dan yang kita cita-citakan. Dengan keseimbangan itu, akan lancarlah perjalanan dan lebih ringanlah terbang ke yang lebih tinggi menuju Al-Malalul A’la sehingga kita tidak merasa takut lagi menghadapi maut sebab maut adalah permulaan hidup yang kekal. Bersambung

Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 12 Januari 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda