Bintang Zaman

Aisyah Perempuan Pendobrak (5)

Written by Panji Masyarakat

Nabi  tidak menemukan banyak kesulitan dalam memberikan pendidikan dan membentuk kepribadian Aisyah. Karena selain cerdas, Aisyah memang sosok yang selalu ingin tahu dan meneliti setiap hal. Maka, ketika Rasulullah wafat, ia pun tampil menjadi rujukan.

Ada yang mengatakan, oposisi Aisyah itu dikarenakan ketidaksukaannnya kepada Ali yang telah menyarankan Rasulullah menceraikan istrinya itu dalam perkara berita bohong. Ada pula yang bilang, itu karena ia menginginkan yang jadi Amirul Mukminin adalah Abdullah ibn Zubair, keponakannya yang diasuhnya seperti anak sendiri (itu sebabnya dia dijuluki pula Ummu Abdillah). Bisa jadi kedua dugaan ini benar. Tapi bukan cuma itu. Justru alasan yang lebih kuat adalah keteguhannya terhadap prinsip-prinsip kebenaran. Sebagai bukti, sekali lagi, ia tidak memaksakan peperangan setelah melakukan perundingan dengan pihak Ali dan mencapai pengertian. Selain itu, konon sekembalinya ke Madinah, ia menyesali peperangan tersebut.

Aisyah sekali lagi memperlihatkan keteguhan pendiriannya ketika Muawiyah ibn Abi Sufyan mengangkat anaknya, Yazid, sebagai calon penggantinya. Rencana ini karuan saja menimbulkan tantangan dari para sahabat terkemuka. Muawiyah, yang hendak mengamankan rencananya ini datang ke Madinah untuk mencari dukungan. Didatanginya rumah Aisyah. Tapi yang terakhir ini tak mau memberi dukungan.

Menjadi Rujukan

Sebagai istri, mungkin tidak ada pengaruh yang diberikan Aisyah kepada Nabi Muhammad. Tapi, ia telah menyerap banyak pelajaran dari suaminya. Nabi pun tidak menemukan banyak kesulitan dalam memberikan pendidikan dan membentuk kepribadian Aisyah. Karena selain cerdas, Aisyah memang sosok yang selalu ingin tahu dan meneliti setiap hal. Maka, ketika Rasulullah wafat, ia pun tampil menjadi rujukan.

Berkat pergaulannya yang intens dengan Nabi dan hafalannya yang kuat, ia meriwayatkan tak kurang 2.210 hadis. Dengan jumlah hadis yang sebanyak itu, ia menempati urutan keempat sahabat periwayat hadis terbanyak setelah Abu Hurairah, Ibn Umar, dan Anas ibn Malik. Di samping itu ia sangat berjasa karena pada umumnya hadis-hadis yang berkenaan dengan perbuatan Rasulullah dalam rumah tangganya diriwayatkan Aisyah. Demikian pula masalah-masalah hukum yang berkaitan dengan wanita. “Andaikan bukan karena Aisyah, tentu sebagian besar sunnah Rasulullah khususnya sunnah fi’li (perbuatan) yang berkaitan dengan hukum dalam rumah tangga, tidak sampai pada kita,” tulis Muhamad Ali Qutb. Sementara Imam Al-Hakim An-Naisaburi mengatakan, seperempat bagian dari hadis hukum syariat diriwayatkan Aisyah.

Di bidang hadis Aisyah yang punya daya ingat nan kuat sering menjadi tempat bertanya sahabat, jika ada yang meragukan. Mereka sering bertanya tentang persisnya sabda Rasul, terutama kalau ada dua riwayat yang berbeda lafalnya.

Aisyah juga dikenal ahli di bidang sebab turunnya ayat (sababun nuzul). Maklum, seperti disebut tadi, rumahnya sering menjadi tempat turunnya wahyu (mahbithul wahy). Ia pun sering menjadi tempat bertanya para sahabat mengenai pengertian ayat.

Lebih dari itu, Aisyah bisa dibilang sebagai tokoh pendobrak. Islam memang telah mengangkat derajat dan martabat dari lembah kenistaan zaman jahiliyah. Aisyah seolah-olah menerjemahkan nilai-nilai keislaman mengenai wanita ini demikian jauh. Kalau pada masa jahiliyah wanita, terutama di kancah perang, hanya menjadi suporter yang memberi semangat dari belakang — bahkan pada masa Rasulullah pun demikian — Aisyah justru menjadi wanita pertama yang tampil dalam kancah peperangan, memimpin pasukan. Aisyah juga bisa menjadi contoh bagaimana seorang istri bersikap dalam rumah tangga: setia, hormat, cinta tapi juga bisa tegas kepada suami berkenaan dengan hal-hal yang bersifat prinsip.

Karena kemuliaannya itu, maka saat beliau wafat, jenazahnya disalati banyak sekali orang, dengan Abu Hurairah bertindak sebagai imam. Ia wafat pada 17 Ramadhan 58 H, yaitu pada tahun-tahun terakhir kekuasaan Muawiyah.

Penulis: Hamid Ahmad, redaktur  Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.  Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 30 Maret 1998  

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda