Hamka

Hamka dan Hubungan Serumpun

Ada sebuah kesaksian pahit dari Rusjdi Hamka. Putra Buya Hamka itu bercerita bahwa ayahnya pernah dipenjara selama tiga tahun oleh Soekarno karena dituduh mau membunuh presiden pertama Republik Indonesia itu. “Ayah saya difitnah melakukan itu atas suruhan Perdana Menteri Malaysia Tunku Abdul Rahman, berkaitan dengan terjadinya konfrontasi antara Indonesia-Malaysia,” ungkap Rusjdi, yang kini telah berpulang ke rahmatullah.

Kesaksian itu saya dengar langsung dari Pak Rusjdi tatkala beliau menjadi pembicara utama dalam “Seminar Serantau Seabad Buya Hamka”, di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM), Bangi, Selangor, Malaysia, pada 25 Januari 2010. Seminar yang dihadiri 300-an orang itu terselenggara atas hasil kerjasama Ikatan Keluarga Mahasiswa Minang (IKMM), Fakulti Pengajian Islam UKM dan Kementerian Penerangan, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia.

Meski menyakitkan, tuduhan dan fitnah yang hingga kini tak pernah terbukti kebenarannya itu menjadi riak teramat kecil di tengah arus besar pembicaraan peserta seminar mengenai peranan dan sumbangan Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka). Tidak saja bagi bangsa, negara dan terutama agama, tapi juga dalam konteks mempererat hubungan Indonesia-Malaysia.

Seminar itu, waktu itu, diresmikan oleh Menteri Penerangan, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia Dr. Rais Yatim –seorang tokoh Malaysia yang juga berasal dari Minang dan mengenal Buya Hamka cukup dekat. Di antara pejabat Indonesia dan Malaysia yang turut hadir adalah Naib Canselor UKM Prof. Dr. Sharifah Hapsah, Wakil Duta Besar RI untuk Malaysia Tatang B. Razak, serta –tak tanggung-tanggung– Gubernur Sumatera Barat sendiri.

Pembicara utama lainnya adalah Dr. Siddiq Fadzil (mantan Presiden Angkatan Belia Islam Malaysia), Prof. Dr. Yunahar Ilyas (Pengurus Pusat Muhammadiyah, telah wafat beberapa bulan lalu) dan Dr. Mochtar Naim (tokoh akademik asal Minang). Selebihnya 20 pemakalah dari Malaysia dan Indonesia yang membahas pemikiran Buya Hamka dari aspek keislaman, sejarah, filsafat, sosial, politik, bahasa dan kesusastraan.

Buya Hamka

Ulama kharismatik kelahiran Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 itu memang bukan hanya milik Indonesia. Pengaruhnya melampaui sempadan Indonesia dan di seluruh Tanah Melayu. Ketokohannya juga dikenal di seluruh Tanah Melayu dan dihargai. Sumbangannya dilihat dari segi pembudayaan bahasa yang menjadikan bahasa Melayu dan Indonesia sebagai bahasa penghubung masyarakat dan bahasa ilmu.

Dr. Siddiq Fadzil menyebutkan, karya-karya Buya Hamka sangat berpengaruh dalam bidang pendidikan, etika dan dakwah di Malaysia. Tafsir Al-Azhar merupakan tafsir Alquran terbesar yang pernah ditulis dalam bahasa Melayu dan bukan terjemahan. Karya sastranya seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, memiliki nilai estetika yang tinggi. Buya Hamka adalah tokoh yang berpegang teguh pada pendapat yang diyakininya, tapi selalu mengutarakan argumennya dengan gaya yang elegan.

“Tokoh berwawasan seperti Buya Hamka memang sangat penting dikaji. Pembicaraan mengenai pemikiran, usaha, peranan dan sumbangan beliau diharapkan dapat diteladani oleh umat Islam dewasa ini. Apa yang sudah dilakukannya dapat dijadikan sebagai inspirasi untuk mengembangkan budaya keilmuan di kalangan umat Islam. Ini semua menjadi bukti kecintaan dan penghargaan kita terhadap Buya Hamka,” kata Rais Yatim.

Pihak Kementerian Penerangan, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia malah menyediakan dana sebesar RM100.000 untuk mengkaji secara komprehensif sumbangan Hamka. Menurut Rais, dana dalam bentuk pemberian beasiswa dan uang penelitian itu akan diberikan kepada seorang mahasiswa tingkat doktoral dari UKM. Kementerian berharap pelajar yang terpilih itu menjadi pakar berkaitan dengan Hamka dari segi sumbangannya dalam penulisan dan 69 karya yang dihasilkannya (Utusan Malaysia, 26/1/2010).

“Hamka seorang yang unik di Indonesia dan Malaysia serta seorang tokoh yang telah banyak menyumbang terhadap perpaduan antara kedua buah negara ini. Tokoh ini bukan saja cendekiawan Islam berilmu, berani dan gigih malah tokoh penyatuan bagi Malaysia dan Indonesia, baik di tingkat nasional maupun internasional, meliputi bidang budaya dan agama,” tegas Rais Yatim.

Penghargaan UKM untuk Buya Hamka bukan sesuatu yang baru. Malah pada 1974, kampus tersebut pernah menganugerahkannya Gelar Doktor Honoris Causa yang langsung diserahkan oleh Perdana Menteri Malaysia saat itu, Tun Abdul Razak. Buya Hamka sendiri saat itu sempat menyampaikan pidatonya yang menarik mengenai hubungan Indonesia-Malaysia yang sebelumnya pernah berkonfrontasi.

Sebagai penutup, berikut saya petikkan pernyataan Hamka ketika itu (seperti dikutip dari Utusan Malaysia, 16/9/2007):

“Negara Malaysia tetangga karib, serumpun seasal, seadat, sekebudayaan dengan negara tempat saya dilahirkan, Republik Indonesia. Saya percaya, asal semangat dari La ila ha illallah masih bernyala dalam jiwa angkatan muda Islam di Malaysia dan Indonesia, semua tantangan (penjajah) itu dapat dihadapi. Gayung disambut, kata dijawab.

Berturut-turutlah ulama ulama dan ahli-ahli fikir Islam memakai bahasa Melayu untuk memperkukuh agama Allah di bumi yang subur ini. Semuanya turut memperkaya bahkan memberi bahasa Melayu jiwa yang hidup, jiwa taat kepada Tuhan dan tidak kita lupakan pula pengaruh zamannya. Bukan lagi menyembah dewa dan kebendaan.

Di awal abad ini, datanglah semangat baru dalam Islam menjalar ke tanah air kita… bangkit di Sumatera dan bangkit di Jawa. Semua memakai bahasa Melayu! Semuanya  ini adalah tauladan yang saya turuti. Saya mengarang dalam bahasa Melayu, berpidato dalam bahasa Melayu.

Apabila pena saya mencecah ke atas kertas, yang tergambar dalam ingatan saya ialah seluruh Nusantara ini. Seluruh bangsaku dan umat seagama yang memakai bahasa ini. Melayu, tetap lebih luas dengan apa yang dinamai Malaysia sekarang. Tanah Jawa, tetapi lebih luas dari Pulau Jawa, Indonesia dan Malaysia sekarang. Tanah itulah semuanya tempat saya yang abadi, tempat saya berkhidmat, sejak saya berusia 17 tahun, sejak zaman kedua negeri ini masih terjajah, sampai keduanya mencapai kemerdekaannya….” (*)

Kota Kinabalu, Sabah, 02 Mei 2020 M/09 Ramadhan 1441 H

About the author

Nasrullah Ali Fauzi

Penulis lepas, tinggal di Kota Kinabalu, Sabah. Pernah menjadi redaktur Majalah Panji Masyarakat.

Tinggalkan Komentar Anda