Pengalaman Religius

Deddy Mizwar: Sebagian Problem Manusia, Jawabannya Ada di Alquran (4)

Written by Asih Arimurti

YANG saya lakukan tidak lain hanya counter product sehingga ada alternatif tontonan yang lebih baik. Jika dikatakan kondisinya saat ini masih memprihatinkan, ya, kalau itu sih, urusan masing-masing. Ini negara bebas, negara merdeka. Hanya Allah saja yang memberikan kemerdekaan kepada kita mengeluarkan dosa. Melakukan maksiat, boleh. Melakukan amal ibadah, boleh juga. Suka-suka. Cuma, Allah ‘kan kira-kira bilang begini, “Kalau kamu melakukan ini, ya, ada ganjarannya ini.” Jadi masing-masing perbuatan ada ganjarannya.

Makanya, saya tidak bisa mengatakan kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini semata karena arus informasi yang begitu deras saat ini, termasuk maraknya stasiun-stasiun televisi. Media itu netral. Soal isi tergantung visi manusia di dalamnya. Kita tidak bisa mengatakan kalau televisi, atau radio, atau majalah, internet, itu salah, dan untuk itu harus di berangus. Secara pribadi saya hanya ingin mengingatkan bahwa tidak ada yang luput dari pertanggungjawaban. Apa pun yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban. Dan saya percaya, di hati kecil mereka jua, berbuat salah, mereka akan merasakan hal itu.

Ah, berlagak seperti pengamat sosial saja saya  ini. Sebetulnya tidak juga. Saya ini kan anak kampung dan sampai sekarang pun masih tinggal di kampung. Hanya kadang-kadang saja saya sok kota, sok modern. Saya pikir sebagian problem manusia itu sudah ada jawabannya dalam Alquran dan sunah Rasulullah. Artinya, kalau kita mempunyai pengetahuan dan menghayati apa yang Allah perintahkan kepada manusia, apa yang dilakukan oleh Rasulullah kepada sesama makhluk itu sudah menyentuh hati kita untuk kita lakukan. kalau mau dirasionalisasi, seperti sedekah untuk menghindarkan bala, misalnya, menurut saya itu benar.

Pedoman saya sederhana saja. Sekarang bagaimana mungkin saya bisa merasa tenteram jika di sekeliling rumah saya, misalnya, banyak orang yang dalam kesulitan. Sungguh berdosa kalau saya kemudian bersenang-senang. Maka, jangan heran kalau tiba-tiba mobil atau rumah kita yang dijarah. Itu akibat adanya ketimpangan sosial. Makanya, Islam menganjurkan keseimbangan antara kehidupaan ukhrawi dan duniawi. Saya merasakan keampuhan prinsip ini dalam membangkitakn kepekaan sosial.

Deddy Mizwar dalam Film suksesnya, Naga Bonar.

Agama memang tak bisa semuanya dirasionalisasi. Kalau selalu bicara rasional kita akan terus bicara untung rugi. Kalau begitu terus, kita bisa sangat sulit berbuat. Makanya, saya lebih suka lakukan dulu, baru lihat ruginya nanti. Misalkan dalam beramal, saya tidak mau menyebut, karena itu riya namanya. Yang pasti sejauh ini memang benar entah itu sedekah,, infak atau apa pun namanya, tidak membuat saya miskin.

Bukan berarti saya merasa kaya loh. Tidak ada satu pun kegiatan amal yang membuat kita miskin. Itu prinsip saya. Allah sendiri ‘kan bilang, “Jika kau mensyukuri nikmat-Ku, maka akan Kulipatgandakan. Tetapi, jika kau kufur, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” Kalau dirasionalisasi, kadang-kadang nggak nyampe. Padahal, justru nanti kita akan melihat hakikatnya.

Tetapi, manusia umumnya, tak terkecuali saya, sering memikirkan hal-hal seperti itu dari sudut pandang rasional. Lho nanti kalau saya ngeluarin segini lalu saya tak bisa beli ini beli itu dong. Wah, gue ‘kan mau beli mobil baru. Begitu kira-kira. Nah, itu lebih karena ada setan. Setan yang menggoda iman kita untuk mengingkari firman Allah. Itu yang namanya jerat-jerat setan. Dan setan itu ‘kan susah dikenali.***

About the author

Asih Arimurti

Wartawan Majalah Panji Masyarakat

Tinggalkan Komentar Anda